Top News :
Home » » Kesaksian Sejarah Antara Bani Hasyim dan Bani Umayyah

Kesaksian Sejarah Antara Bani Hasyim dan Bani Umayyah

Posted on Tuesday, 15 March 2016 | garis 06:49

Muslimedianews.com ~ Antara Bani Hasyim dan Bani Umayyah tidak pernah ada kebencian, permusuhan, dan pertikaian seperti  yang dikarang dan direkayasa oleh musuh-musuh Islam  dan musuh-musuh kaum muslimin. Mereka membuat kisah-kisah dan cerita-cerita seputar hal itu, padahal kenyataan historis berkata bahwa hubungan mereka  adalah hubungan antara sepupu, antara saudara, dan antara kawan akrab, sebagian dari mereka sangat dekat dengan sebagian yang lain, saling tukar menukar kecintaan, penghormatan dan pengharagaan, saling berbagi kesedihan, kepedihan dan penderitaan.

Kami akan menjelaskan silsilah dua klan Quraisy yang sangat berpengaruh di Makkah yaitu Bani Hasyim dan Bani Umayyah yang berasal dari Bani Abdu Manaf.

Abdu Manaf sendiri memiliki 4 orang anak, yaitu: Hasyim, Abdu Syams, Muthalib, dan Naufal. Kekuasaan di Makkah pada masa itu dibagi menjadi dua kubu , Abdu Manaf dan Abdu Dar. Namun kedua kubu tersebut sepakat untuk membagi tugas , Abdu Manaf  mendapat tugas siqayah (memberi minum jamaah haji)  dan rifadah  (membantu atau memberi makan jamah haji yang membutuhkan). Sementara tugas hijabah  (mengurusi Ka’bah dan memegang kuncinya), panji perang dan Darun Nadwah (gedung musyawarah) diserahkan kepada Bani Abdu Dar. Selanjutnya Bani Abdu Manaf menyerahkan siqayah  dan rifadah kepada Hasyim bin Abdu Manaf. Hal itu karena Abdu Syams sebagai anak tertua adalah laki-laki pengembara, jarang tinggal di Makkah, disamping dia miskin dan dan beranak banyak, sementara Hasyim hidup berkecukupan.

Adapun riwayat-riwayat yang mengatakan bahwa Hasyim dan Abdu Syams lahir dalam keadaan kembar siam, lalu keduanya dipisah dengan pedang , karena itu pertumpahan darah selalu terjadi pada anak-anak mereka. Ini adalah riwayat pungutuan seorang rawi yang sangat kental  dengan aroma dongeng dan khayalan dan berasal dari negara antah berantah , dibantah oleh  apa yang diriwayatkan oleh  Ibnu Ishaq bahwa Abdu Syams adalah anak tertua dari Bani Abdi Manaf.  Dan riwayat-riwayat  yang menyebutkan pertikaian -pertikaian terjadi antara Hasyim dengan Abdu Syams, antara Abdul  Muthalib bin Hasyim dengan Harb bin Umayyah, kedua riwayat ini diriwayatkan dari al-Kalbi, seorang perawi Syi’ah penduta besar, dia meriwayatkan keduanya dari rawi-rawi yang tidak jelas dan tidak diketahui nama-nama mereka.

Memang tidak menutup kemungkinan adanya semacam persaingan diantara kedua keluarga besar ini yaitu Bani Hasyim dan Bani Umayyah (keturunan Bani Abdu Syams)  sebelum Islam, sesuai dari apa yang kita ketahui dari tabiat kehidupan bangsa  Arab di Makkah sebelum Islam, akan tetapi hanya sebatas persaingan diantara saudara-saudara dan anak-anak dari satu bapak dan tidak meningkat sehingga ia menjadi permusuhan dan dendam terpendam seperti yang diklaim oleh orang-orang yang gemar melebih-lebihkan cerita.

Kita memiliki kesaksian sejarah yang membuktikan kuatnya hubungan baik antara Bani Hasyim dengan Bani Umayyah.  Abdul Muthalib bin Hasyim, pemuka Bani Hasyim di masanya adalah kawan akrab Harb bin Umayyah, pemuka Bani Umayyah di zamannya, sebagaimana al-Abbas bin Abdul muthalib bin Hasyim adalah rekan akrab Abu Sufyan bin Harb bin Umayyah, kisah masuknya Abu Sufyan ke dalam Islam di saat fathu makkah dan peranan al-Abbas dalam kisah tersebut merupakan bukti paling besar atas itu. Yang aneh adalah al-Maqrizi yang menulis sebuah buku khusus tentang hubungan Bani Hasyim dengan Bani Umayyah dan menetapkan kajian utamanya adalah perselisihan dan pertikaian. Bila pertemanan yang kuat tersebut terjalin dan kuat di antara para pemuka kedua keluarga besar tersebut, yaitu Bani Hasyim dan Bani Umayyah , maka membangun akar pertikaian di antara keduanya setelah Islam dan mengembalikannya ke zaman yang jauh sebelum Islam, tidaklah memiliki pijakan akurat dari sejarah.

Buku yang dinisbahkan kepada al-Maqrizi yang bernama an-Niza’ wa at-Takhashum yang terjadi antara Bani Hasyim dengan Bani Umayyah. Dalam buku itu diuraikan tentang kejahatan Umayyah dan anak-anaknya pada Bab Matsalib Bani Umayyah,  lalu dilanjutkan dengan kejahatan Bani Abbas.  Tidak mungkin bisa dibayangkan oleh orang yang berakal bahwa tangan al-Maqrizi telah menorehkan satu huruf dalam kitab tersebut, karena tidak mungkin ulama semacam al-Maqrizi rela mendegradasikan dirinya sampai batas dia membuang akal sehatnya dan menyifati diri dengan kebodohan di dalam bidang hukum.

Namun yang terpenting bagi kita, apa yang ditetapkan dalam buku tersebut bahwa antara Bani Hasyim dengan Bani Umayyah terdapat permusuhan lama , tidaklah shahih dari sisi kajian ilmiah yang objektif. Mereka menjadikan sikap Abu Sufyan terhadap Islam Makkah dan melalui perselisihan yang terjadi antara Ali dan Mu’awiyah  sebagai pijakan untuk membangun dugaan-dugaan lemah berupa adanya pertikaian  sebelum dan sesudah Islam antara Bani Hasyim dengan Bani Umayyah, dugaan-dugaan lemah tersebut tidak memiliki bagian dari sejarah kecuali riwayat dusta atau peristiwa insidentil, bukan merupakan potret sejati dari pertikaian dua cabang keluaraga yang mulia ini dari Bani Abdu Manaf, dua cabang yang menjadi puncak kemuliaan dari Quraisy.

Jika kita melihat sejarah, maka beberapa orang dari Bani Umayyah masuk dalam golongan sabiqun awwalun (angkatan pertama Islam), seperti Utsman bin Affan bin Abu al-Ash bin Umayyah, telah masuk Islam melalui tangan Abu bakar di hari-hari pertama Islam, demikian pula Khalid bin Sa’id bin al-Ash bin Umayyah. Termasuk Ummul Mukminin Ummu Habibah Ramlah binti Abu Sufyan bin Harb bin Umayyah, wanita ini masuk Islam di awal-awal fase dakwah, ikut bersama suaminya hijrah ke Habasyah.

Bahkan diantara Bani Hasyim dan Bani Umayyah terjadi hubungan pernikahan. Berikut ini adalah beberapa contoh hubungan pernikahan di antara mereka :

1. Utsman bin Affan bin Abu al-Ash bin Umayyah menikah dengan Ruqayyah putri Rasulullah saw. dan setelah Ruqayyah wafat, Utsman menikah dengan Ummu Kultsum yang juga putri Rasulullah saw.

2. Abu al-Ash bin ar-Rabi’, salah seorang laki-laki dari Bani Umayyah menikah dengan Zainab putri Rasulullah saw.

3. Khadijah binti Ali bin Abu Thalib, dinikahi oleh Abdurrahman bin Amir bin Kuraiz al-Umawi (seorang Bani Umayyah).

4. Ramlah binti Ali bin Abu Thalib, dinikahi oleh Mu’awiyah bin Marwan bin Hakam (juga dari Bani Umayyah).

5. Zainab binti al-Hasan al-Mutsanna bin al-Hasan bin  Ali bin Abu Thalib, dinikahi oleh walid bin Abdul Malik bin Marwan (dari Bani Umayyah).

6. Fatimah binti al-Husain bin Ali bin Abu Thalib, dinikahi oleh Abdullah bin Amr bin Utsman bin Affan (dari Bani Umayyah).

Saya merasa cukup menyebutkan sebagian saja dan ia memang sangat cukup bagi siapa saja yang menginginkan kebenaran dan ilmu yang shahih.

Penulis : Naren JHR


Share this post
:
Comments
0 Comments

Post a Comment

 
Konten boleh dicopy dan disebarkan untuk dakwah | Cantumkan www.muslimedianews.com
Copyright © 2013-2014. Muslimedia News - Media Islam | Voice of Muslim - All Rights Reserved
RSS | Sitemap | MMN dan Redaksi | Disclaimer | Contact | Iklan
Support IT : MK | JT | MT and IT Muslimedia News