Top News :
Home » , » Qasidah 'Ya Hanana' Habib Syech Disyirikkan

Qasidah 'Ya Hanana' Habib Syech Disyirikkan

Posted on Tuesday, 22 March 2016 | garis 12:45

Muslimedianews.com ~ Tuduhan syirik, bid'ah, sesat, kafir, bahkan dituduh syi'ah, bukan hal baru bagi sebagian umat Islam (Ahlussunnah wal Jama'ah). Orang-orang yang biasa menuduh tersebut, hanya berkisar antara orang-orang Wahhabi, orang-orang yang terkena doktrin (tulisan/media) wahhabi, dan orang-orang yang tidak memahami agama.

Tuduhan syi'ah yang dialamatkan ke orang lain pun dengan maksud mengkafirkan orang lain tersebut, sebab bagi mereka, #Syi'ahBukanIslam. Ironisnya, di Arab Saudi, Syi'ah jumlahnya 15% dari jumlah penduduknya, dilindungi, dan tidak kafir. Yang kafir, hanya di Indonesia. Propaganda mereka. Banyak hal yang dituduh syi'ah, mulai dari amaliyah umat Islam Indonesia, ulama Aswaja sampai nyanyian pun dituduh Syi'ah. Tuduhan syi'ah akhirnya jadi lelucon, karena banyak kekonyolan yang dilakukan oleh mereka.

Baca:
Konyol ! Jasa Angkutan Bandara Soekarno-Hatta Dituduh Syi'ah karena Tulisan 

Astaghfirullah ! Lagu Indung-Indung, Ummy dan Ya Thaibah dituduh Lagu Syi'ah


Hal yang sama juga terjadi pada persoalan tuduhan syirik terhadap pihak lain. Mulai dari ziarah kubur ke makam wali dituduh syirik, memperingati maulid Nabi, membaca shalawat kepada Nabi dituduh syirik (seperti membaca shalawat nariyah dan lainnya), bahkan pujian berupa qasidah pun dituduh syirik. Salah satunya qasidah yang sangat masyhur dibawakan oleh Habib Syech bin Abdul Qadir Assegaf dengan judul "Ya Hanana".

Qasidah "Ya Hanana" sangat digemari masyarakat Indonesia, bahkan luar negeri. Habib Syech sering kali diundang berdakwah ke Malaysia dengan senandung shalawat dan pujian kepada Nabi Muhammad SAW, khususnya dalam kegiatan "Malam Cinta Rasul". Layaknya di Indonesia, di negeri Jiran pun, puluhan ribu umat Islam memadati peringatan maulid Nabi yang diisi lantunan shalawat dan pujian Habib Syech dan rombongannya.

Kepopuleran "Ya Hanana" di negeri jiran itu, menimbulkan kedengkian pada sebagian orang yang memang tidak suka terhadap pujian tersebut. Dibeberapa situs, lirik "Ya Hanana" disebutkan mengandung kesyirikan.
  • http://manjongmari.blogspot.co.id/2014/12/lihat-pak-habib-yahana-yahana-ni-buat.html
  • http://bicarathtl.forumms.net/t2802-qasidah-ada-unsur-syirik
  • https://twitter.com/ariffhafiz/status/401705342045671424
  • https://www.facebook.com/ustazkhairul.ikhwan/posts/802241683155016
  • dan berbagai situs dan media sosial lainnya 
Menjawab Tuduhan Syirik terhadap "Ya Hanana"

Tuduhan syirik, bahkan bid'ah terhadap lirik lagu "Ya Hanana", tidak lain kecuali karena ketidak mengertian mereka. Tuduhan tersebut jelas tidak berdasar sama sekali, tuduhan itu hanya timbul semata-mata dari hawa nafsu mereka saja.

Andai saja mereka bersifat bijak dengan membaca makna-makna bait dari qasidah tersebut, niscaya mereka akan malu dan tahu bahwa makna dari qasidah tersebut sama sekali tidak bertentangan dengan ajaran Islam bahkan sangat sesuai dengan dalil-dalil al-Quran dan Sunnah.

Perhatikan lirik "Ya Hanana' berikut ini:

يَا هَنَانَا
“Betapa Beruntungnya Kami“

ظَهَرَ الدِّينُ المُؤَيَّد   بِظُهُورِالنَّبِى اَحمَد
“Telah muncul agama yang didukung,  dengan munculnya sang Nabi Ahmad“

يَا هَنَانَــــــــا بِمُحَمَّد  ذَلِكَ الفَضلُ مِنَ الله
“Betapa beruntungnya kami dengan Muhammad (Saw), itulah anugerah daripada Allah SWT“

يَا هَنَانَا
“Betapa Beruntungnya Kami“

خُصَّ بِالسَّبعِ المَثَانِى   وَحَوى لُطفَ المَعَأنِى
 “Diistimewakan dengan as-Sab’ul Matsany (al-Fatihah), penghimpun rahsia bagi setiap makna“

مَالَهُ فِى الخَلقِ ثَانِى   وَعَلَيهِ اَنزَلَ الله
“Tidak ada yang senilai dengannya, dan Allah mewahyukan kepadanya (Muhammad SAW) “

يَا هَنَانَا
“ Betapa Beruntungnya Kami”

مِن مَكَّةٍ لَمَّا ظَهَر    لِاَجلِهِ انشَقَ القَمَر
“ Ketika di Makkah bulan tampak terbelah deminya (Muhammad SAW) “

وَافتخَرَت الُ مُضَر   بِهِ عَلى كُلِّ الاَنَام
“ lalu kabilah Mudhar (kabilah Muhammad SAW) dibanggakan oleh seluruh manusia “.

يَاهَانَانَأ
“ Betapa beruntungnya kami “

اَطيَبُ النَّاسِ خَلقًا   وَاَجَلُّ النَّاسِ خُلُقُا
“ Beliau adalah manusia yang terbaik ciptaanNya, dan teragung akhlaknya “.

ذِكرُهُ غَربًا وَشَرقًا   سَائِرٌ وَالحَمدُ لِله
“ Semua manusia di Barat dan Timur menyebutnya, segala puji hanya bagi Allah SWT “

يَاهَنَانَا
“ Betapa beruntungnya kami “

صَلُّوا عَلى خَيرِ الاَنَام   المُصطَفَى بَدرِالتَّمَام
“ Berselawatlah ke atas sebaik-baik manusia (Muhammad SAW) yang terpilih, sang bulan purnama “

صَلُّوا عَلَيهِ وَسَلِّمُوا   يَشفَع لَنَأ يَومَ الزِّحَام
“ Sampaikanlah salam kepadanya, moga diberi syafaat di hari kebangkitan “.

يَا هَنَانَا
“ Betapa beruntungnya kami “

Dari bait-bait / lirik lagu "Ya Hanan" diatas, setelah diterjemahkan dengan tepat, lalu dimana makna yang mengandung kesyirikan atau kesesatan ?. Sebaliknya, bait qasidah tersebut tidak lain mengandung beberapa hal berikut ini :

1. Rasa gembira dengan wujudnya Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam yang merupakan anugerah dan keutamaan dari Allah untuk umat Manusia khususnya kaum muslimin. Ini sesuai dengan firman Allah Ta’ala :

قل بفضل الله وبرحمته فبذالك فاليفرحوا
” Katakanlah: “Dengan karunia Allah dan rahmat-Nya, hendaklah dengan itu mereka bergembira.” (QS. Yunus : 57). Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhu menfasirkannya : “ Karunia Allah adalah ilmu agama, sedangkan rahmat-Nya adalah Muhammad “.[Ad-Durr al-Mantsur, as-Suyuthi : 7/668]


Beliau juga merupakan karunia agung yang Allah berikan untuk kita dan patut kita syukuri, dalam hadits disebutkan :

عَنْ مُعَاوِيَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أنَّ رَسُولَ خَرَجَ عَلَى حَلْقَةٍ مِنْ أَصْحَابِهِ، فَقَالَ: «مَا أَجْلَسَكُمْ؟» قَالُوا: جَلَسْنَا نَذْكُرُ اللهَ وَنَحْمَدُهُ عَلَى مَا هَدَانَا لِلإِسْلاَمِ، وَمَنَّ بِهِ عَلَيْنَابه، قَالَ: «آ? مَا أَجْلَسَكُمْ إِلاَّ ذَاكَ». قَالُوا: وَالله! مَا أَجْلَسَنَا إِلاَّ ذَاكَ قَالَ: «أَمَا إِنِّي لَمْ أَسْتَحْلِفْكُمْ تُهْمَةً لَكُمْ وَلَكِنَّهُ أَتَانِي جِبْرِيلُ فَأَخْبَرَنِي أَنَّ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ يُبَاهِي بِكُمُ المَلاَئِكَةَ
Dari Mu’awiyyah radhiallahu ‘anhu bahwasanya Rasulullah shallahu ‘alaihi wa sallam keluar mendatangi perkumpulan majlis sahabatnya lalu berkata, “ Hal apa gerangan yang membuat kalian berkumpul di majelis ini ? ”.  Para sahabat menjawab, “ Kami berkumpul disini tidak lain hanya untuk berdzikir kepada Allah dan memuji-Nya atas petunjuk-Nya kepada agama Islam dan atas karunia yang diberikan-Nya dengan sebabnya “.Nabi bertanya kembali : “Demi Allah, apakah tidak ada hal lain lagi yang membuat kalian berkumpul di majelis ini selain hal itu? ”  para shahabat menjawab, “ Demi Allah, tidak ada hal lain yang membuat kami berkumpul selain itu semua”. Nabi bersabda kepada mereka : “Sesungguhnya aku tidaklah bersumpah untuk suatu keburukan, akan tetapi sesungguhnya Jibril datang kepadaku dan mengkhabarkan bahwa para malaikat sangat berbangga dengan kalian semua ”.[Ditakhrij imam Muslim. Disebutkan dalam Tahdzib al-Kamal, al-Mizzi : 3196]

Dari hadis ini dapat diambil beberapa kesimpulan, antara lain : dibolehkannya berkumpul untuk berzikir dan berdoa, dibolehkannya membuat majelis tertentu untuk memperingati karunia hidayah dan syukur terhadap nikmat, dibolehkannya berkumpul untuk bersyukur atas karunia yang Allah berikan berupa diutusnya Nabi Muhammad Shallahu ‘alaihi wa sallam, sebagaimana dalam ucapan para sahabat “Kami berkumpul disini tidak lain hanya untuk memanjatkan doa kepada Allah dan memuji-Nya atas petunjuk-Nya kepada agama kita dan atas karunia yang diberikan-Nya. Bukankah Nabi Muhammad yang menjadi sebab kita mendapat hidayah Islam bahkan menjadi umat yang paling utama dari semua umat lainnya ?

2. Mengungkapkan bahwa beliau makhluk yang paling baik akhlak dan fisiknya. Ini juga sesuai dengan hadits Nabi sendiri :

كان رسول الله صلى الله عليه وسلم أحسن الناس وجهاً وأحسنه خلقاً،
“ Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah paling bagusnya manusia dari segi wajah dan akhlaknya “. (HR. Muslim)

3. Mengungkapkan bahwa nama beliau disebut-sebut oleh semua manusia sama ada barat ataupun Timur. Ini sangat banyak sekali dalilnya, bahkan merupakan perintah dari Allah untuk bersholawat kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dan setiap waktu bahkan setiap saat di dunia ini selalu disebutkan nama Nabi Muhamamd shallahllahu ‘alaihi wa sallam melalui lantunan adzan sholat lima waktu.  Jelas sudah qasidah ini sangat sesuai dengan dalil-dalil al-Quran dan Sunnah, hanya orang bodoh yang menuduhnya syirik atau sesat. Naudzu billahi min dzaalik…

Shofiyyah an-Nuuriyyah, via Aswaja Research Group/Editor: Ibnu L' Rabassa

Share this post
:
Comments
0 Comments

Post a Comment

 
Konten boleh dicopy dan disebarkan untuk dakwah | Cantumkan www.muslimedianews.com
Copyright © 2013-2014. Muslimedia News - Media Islam | Voice of Muslim - All Rights Reserved
RSS | Sitemap | MMN dan Redaksi | Disclaimer | Contact | Iklan
Support IT : MK | JT | MT and IT Muslimedia News