Top News :
Home » » Tatacara dan Hukum Shalat Gerhana Matahari

Tatacara dan Hukum Shalat Gerhana Matahari

Posted on Wednesday, 9 March 2016 | garis 05:23

Muslimedianews.com ~ حامدا لله تبارك وتعالى ومصليا ومسلّما على رسول الله سيدنا محمد ابن عبد الله وعلى آله وصحبه ولا حول ولا قوة إلا بالله . أما بعد :

Terjadinya gerhana matahari dan bulan merupakan bagian dari tanda-tanda kekuasaan Allah Tabaroka Wa Ta’ala yang ditampakkan secara nyata bagi segenap umat manusia, guna menunjukkan terhadap anak cucu Adam tersebut bahwasanya matahari dan bulan yang selama ini banyak memberikan manfaat kepada semua pihak, namun pada kenyataannya tidak mempunyai kekuatan apapun. Keduanya tetap tunduk terhadap ketentuan dan kekuasaan Allah Dzat sang pencipta keduanya itu. Allah Ta’ala berfirman:

لاََ تَسْجُدُواْ لِلشَّمْسِ وَلاَ لِلْقَمَرِ وَاسْجُدُوا لِلَّهِ الَّذِيْ خَلَقَهُنَّ إِنْ كُنْتُمْ إِيَّاهُ تَعْبُدُوْنَ
“Jangan kamu menyembah matahari dan bulan, sembahlah Dzat yang menciptakan keduanya apabila kamu mengabdi pada-Nya.” (Q.S. Fussilat : 37 )

Dalam hadis yang diriwayatkan Bukhari dan Muslim, Nabi Muhammad Shalallahu Alaihi Wasallam bersabda:

إِنَّ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ آيَتَانِ مِنْ آيَاتِ اللهِ لاَ يَنْكَشِفَانِ لِمَوْتِ أَحَدٍ وَلاَ لِحَيَاتِهِ , فَإِذَا رَأَيْتُمْ ذَلِكَ فَصَلُّواْ وَادْعُواْ حَتَّى يَنْكَشِفَ مَا بِكُمْ (رواه البخاري ومسلم)
“Sesungguhnya Matahari dan Bulan merupakan dua buah ayat (tanda kekuasaan) dari ayat-ayat Allah yang ada. Terjadinya gerhana bukan lantaran mati maupun hidupnya seseorang. Apabila kamu melihat kejadian tersebut, maka sholatlah dan berdoa’lah kamu hingga keduanya kembali seperti semula.” (H.R. Bukhari dan Muslim)

Berlandaskan dua sumber hukum Islam tersebut, maka disunnahkan bagi seluruh umat Islam untuk bersama-sama melaksanakan sholat gerhana sebagaimana yang diajarkan Baginda Nabi kepada para sahabat beliau.

I. Hukum Sholat Gerhana:
Hukum sholat gerhana adalah sunnah muakkadah, dikuatkan kesunnahannya. Kendatipun dilaksanakan secara sendirian. Namun akan lebih utama -jika masih mencukupi waktunya- dilaksanakan secara berjama’ah di masjid- masjid.

II. Waktu Sholat Gerhana:
Waktu sholat gerhana dilaksanakan sejak bentuk matahari atau bulan mulai mengalami perubahan hingga kembali seperti semula.

III. Tujuan Dilaksanakan Sholat Gerhana:
Adapun tujuan dilaksanakannya sholat gerhana adalah memberikan pengertian dan kesadaran kembali kepada para penyembah matahari atau bulan, bahwa apa yang mereka sembah tersebut adalah makhluk yang tidak memiliki kekuatan apapun jua, andai saja keduanya itu tuhan, niscaya mampu mengatasi kekurangan dan kegelapan yang ada pada dirinya. Keduanya seperti ciptaan-ciptaan Allah Ta’ala yang lainnya, semuanya bergantung pada kekuatan dan kekuasaan Allah, Dzat Pencipta langit dan bumi dengan segala isinya.

IV. Niat Sholat Gerhana:
Sebagaimana sholat-sholat sunnah yang mempunyai sebab, maka pada sholat gerhana ini juga perlu disebutkan pula jenis sholatnya (at Ta’yin) bersamaan dengan niat ketika bertakbirotul ihram. Berikut ini contoh lafadz niat sholat gerhana:

a. Niat Sholat Gerhana Matahari:

أُصَلِّيْ سُنَّةً لكُسُوْفِ الشَّمْسِ رَكْعَتَيْنِ مَأْمُوْماً ( إِمَاماً ) لِلَّهِ تَعَالَى
“Saya berniat Sholat Khusuf gerhana matahari dua rokaat dengan menjadi makmum (imam) karena Allah Ta’ala“

b. Niat Sholat Gerhana Bulan:

أُصَلِّيْ سُنَّةً لِخُسُوْفِ الْقَمَرِ رَكْعَتَيْنِ مَأْمُوْماً ( إِمَاماً ) لِلَّهِ تَعَالَى
“Saya berniat Sholat Khusuf gerhana bulan dua rokaat dengan menjadi makmum (imam) karena Allah Ta’ala“

V. Cara Pelaksanaan Sholat Gerhana:
Sholat gerhana memiliki tiga model cara, umat Islam boleh menggunakan salah satu dari ketiga cara tersebut sesuai dengan tingkat kemampuan dan waktu yang ada. Berikut ini perinciannya:
1. Sholat dua rokaat sebagaimana sholat sunnah qobliah subuh tanpa diperpanjang bacaan-bacaan didalamnya
2. Sholat dua rokaat dengan menambah ruku’ dan berdiri
disetiap rokaatnya. Maka dalam satu rokaat terdapat dua kali berdiri dan dua kali ruku’. Di setiap berdirinya, dibaca pula surah Alfatihah dan surat-suratan pendek lainnya.
3. Sholat dua rokaat sebagaimana cara yang keduanya. Namun disini bacaan surah sesudah Al-Fatihah hendaknya diperpanjang demikian halnya bacaan tasbih ketika ruku’ juga diperbanyak seukur bacaan surah yang telah ditentukan.

VI. Bacaan-Bacaan Surah Untuk Cara Ketiga:
1. Bacaan ketika berdiri yang pertama (dari roka’at pertama) ialah: Surah Al Baqarah atau seukur dengannya
2. Bacaan ketika berdiri yang kedua (dari roka’at pertama) ialah: Surah Ali Imran atau seukur dengannya
3. Bacaan ketika berdiri yang pertama (dari rokaat kedua) ialah: Surah An-Nisaa atau seukur dengannya
4. Bacaan ketika berdiri yang kedua (dari rokaat kedua) ialah: Surah Al-Maidah atau seukur dengannya.

VII. Bertasbih (Mensucikan Allah) Ketika Ruku’ dan Sujud:
1. Bertasbih ketika ruku’ pertama (dari rokaat pertama) itu seukur 100 ayat dari Surah Al-Baqarah
2. Bertasbih ketika ruku’ kedua (dari rokaat pertama) itu seukur 80 ayat dari Surah Al- Baqarah
3. Bertasbih ketika ruku’ pertama (dari rokaat kedua) itu seukur 70 ayat dari Surah Al-Baqarah
4. Bertasbih ketika ruku’ kedua (dari rokaat kedua) itu seukur 50 ayat dari Surah Al- Baqarah.

VIII. Sunnah-Sunah Yang Perlu Diperhatikan Bersama:
1. Disunnahkan mandi bagi yang hendak melaksanakan sholat gerhana tanpa berpakaian bagus dan tanpa menggunakan wangi-wangian (parfum)
2. Disunnahkan melantangkan bacaan (aljahr) ketika sholat khusuf (gerhana bulan) dan menyamarkan suara bacaan ketika sholat kusuf (gerhana matahari)
3. Disunnahkan agar imam menyempurnakan sholat yang dipimpinnya dengan dua kali khutbah yang dilaksanakan setelah sholat. Adapun materi khutbah hendaknya meliputi: ajakan untuk segera bertaubat, sedekah dan peningkatan kwalitas amal saleh
4. Apabila ada beberapa sholat yang harus dikerjakan secara bersamaan waktunya (Fardhu Ain, Jenazah, Hari Raya dan Gerhana), maka hendaknya mengerjakan sholat fardhu terlebih dahulu, lalu sholat jenazah, hari raya dan yang terakhir sholat gerhana. Namun jika waktunya cukup panjang, maka hendaknya mendahulukan sholat jenazah, gerhana, lalu Sholat hari raya
5. Jika gerhana matahari terjadi bersamaan waktunya dengan sholat jum’at, maka dahulukan sholat gerhana kemudian pelaksanaan khutbah jum’at dan ditutup dengan sholat jum’at
6. Disunnahkan mendirikan sholat bagi siapapun ketika terjadi gempa, puting beliung atau angin kencang.

Demikian rangkuman bahasan tentang tata cara sholat gerhana matahari dan bulan. Semoga bermanfaat bagi segenap kaum muslimin dimanapun berada. Aamiin ya Rabbal Alamiin …

Oleh : Ust. M Ali Rahbini محمد على رهبيني

Referensi :
1. At-Taqrirotu Al-Sadidah karya Habib Zain bin Ibrahim Bin Smaith
2. Hasyiah Al-Baijury Karya Syekh Ibrahim Al-Baijury.


Share this post
:
Comments
0 Comments

Post a Comment

 
Konten boleh dicopy dan disebarkan untuk dakwah | Cantumkan www.muslimedianews.com
Copyright © 2013-2014. Muslimedia News - Media Islam | Voice of Muslim - All Rights Reserved
RSS | Sitemap | MMN dan Redaksi | Disclaimer | Contact | Iklan
Support IT : MK | JT | MT and IT Muslimedia News