Top News :
Home » , » Gubernur Itu Bernama Yusuf

Gubernur Itu Bernama Yusuf

Posted on Friday, 6 May 2016 | garis 14:33


Jakarta, Muslimedianews ~ Pada suatu hari, ada kafilah dari palestina tiba di Mesir. Kafilah ini terdiri dari 10 bersaudara. Mereka hendak mendatangi Yusuf. Yusuf mengenali mereka semua, karena mereka adalah kesepuluh bersaudara yang memasukkannya ke dalam sumur karena rasa iri dan dendam. Namun kesepuluh saudaranya ini tak mengenali Yusuf. 

Yusuf sekarang adalah seorang yang berkuasa di Mesir. Ia mengenakan pakaian istana. Para tentara dan  pengawal mengelilinginya. Di tangannya terdapat kunci lumbung yang penuh dengan gandum. Namun Yusuf tidak pernah memiliki rasa ingin balas dendam terhadap mereka karena hatinya dipenuhi dengan keimanan yang berisi cinta dan kebaikan. Yusuf menerima kedatangan sepuluh saudaranya dengan hangat, penuh kasih dan cinta.
 
Ia menyediakan penginapan, menerima barang, memberi dan mengisi wadah mereka gandum sehingga mereka mencintainya. Mereka bercerita, “ Ya’qub adalah salah seorang dari keturunan Ibrahim. Kami kedua belas bersaudara. Salah satu dari kami telah meninggal. Namanya Yusuf. Seekor serigala telah memangsanya.” 

Yusuf menerima sepuluh saudaranya, tetapi ia tidak ingin membiarkan mereka mengenalinya. Setelah mereka bersepuluh bercerita panjang lebar, Yusuf pergi menjauh, berlindung di balik  pepohonan dan mulai menangis. Ia menangis untuk orang tuanya dan saudaranya Benyamin. Ia sangat rindu kepadanya. 

Kembali

Yusuf pergi untuk mengawasi pemberian gandum kepada saudaranya, ia memerintahkan pejabatnya untuk meletakan dirham, perak secara diam-diam. Yusuf mengerti bahwa saudaranya menjalani kehidupan yang miskin. Yusuf menanyakan kepuasan atas barang yang telah diberikan kepada mereka dan meminta mereka berjanji kembali ke Mesir dengan membawa saudaranya yang bernama Benyamin. 

Sesampainya di kota Al-Khalili, di Palestina mereka berkata kepada ayahnya bahwa Gubernur Mesir tidak akan memberi mereka gandum jika mereka datang ke Mesir tanpa membawa Benyamin. Tapi, Ya’qub berkata ia tak mempercayai mereka. Ia masih trauma akan kehilangan Yusuf. Ia pun menangis mengingat Yusuf. Tapi, mereka tetap kekeh ingin mngajak Benyamin dan berjanji tak akan mengulang kejadian Yusuf.

Kekhawatiran Ya’qub

Mereka pun bersiap pergi ke Mesir untuk menemui Yusuf. Ya’qub mengantar keberangkatan mereka, menasehati satu persatu. Ya’qub khawatir orang-orang akan iri pada kesebelas anaknya. Sesampainya di Mesir mereka mendatangi gubernur Mesir dua orang demi dua orang. Hanya Benyamin yang datang sendirian mengahadap gubernur Mesir itu. 

Waktu telah berlalu, setelah dua puluh tahun, Yusuf bertemu saudaranya Benyamin yang dulu masih bayi. Sekarang ia menjadi seorang pemuda. Yusuf melihat jelas kesedihan di raut muka Benyamin. Saat ditanya, ternyata Benyamin sedih teringat saudaranya. Ia bercerita ketika awal mula saudaranya hilang dan dikabarkan meninggal. Benyamin diajak duduk dan diajak berbincang agar hatinya merasa tenang dan tidak sedih lagi.

Kebenaran 

Benyamin mencintai gubernur Mesir itu, ia tak mengerti mengapa ia begitu sangat mencintainya. Ia menemukan kebaikan dan belas kasih kepada dirinya. Yusuf ingin menyenangkan saudaranya. Ia menyakinkan Benyamin bahwa saudaranya masih hidup. Benyamin tak kuasa dengan keadaan itu. Ia mengusap matanya. Ia memandangi Yusuf dengan seksama. Ia mengenalinya, memeluknya kemudian ia menangis. Yusuf ikut menangis.

Ia  tak ingin saudaranya yang lain mengetahui bahwa Yusuf adalah saudara kandungnya. Kesepuluh saudara kandungnya datang menemui Gubernur Mesir. Kemudian Yusuf memerintahkan para pekerjanya untuk mengisi wadah saudaranya dengan gandum.

Rencana 
 
Yusuf mencoba mendekati unta saudaranya Benyamin. Ia meletakan cangkir perak yang mahal dalam tasnya. Ia menutupi tasnya dengan gandum. Dalam perjalanan, dari kejauhan terdengar suara memanggil meyuruh mereka berhenti. Mereka dituduh mencuri dan yang terbukti mecuri akan dijadikan budak. Saat pemeriksaan, cangkir itu didapati dalam tas Benyamin.

Kesepuluh saudaranya terkejut melihatnya. Mereka menatap Benyamin dengan marah. Yusuf merasa sedih karena ternyata saudaranya masih dengki kepadanya dan kepada saudaranya. Berbagai alasan telah mereka lontarkan agar Benyamin dapat pulang bersama mereka. Kalau tidak mereka akan merasa bersalah sekali kepada ayahnya Ya’qub, jika pulang tanpa membawa benyamin kembali.  

Sesampainya di rumah, mereka mendatangi Nabi Ya’qub. Namun ayahnya hanya diam  saja. Kesembilan bersaudara itu merasa ayah mereka sudah tidak mempercayai mereka. Nabi Ya’qub sangatlah bersedih atas apa yang terjadi. Ia teringat Yusuf yang telah hilang selama dua puluh tahun. Ia mengerti bahwa yang terjadi pada Benyamin ini berkaitan dengan apa yang terjadi pada Yusuf.

Aku adalah Yusuf

Nabi Ya’qub memerintahkan anak-anaknya untuk pergi ke Mesir. Sesampainya di Mesir, tak ada seorang pun yang menghormati kedatangan mereka. Akhirnya mereke menemui gubernur Mesir. Sebuah kejadian menakjubkan menarik perhatian mereka. Mereka melihat Benyamin sedang duduk bersama gubernur. Mereka melihatnya mengenakan pakaian yang terbuat dari linen yang indah. 

Pada saat itu pula saudaranya mengerti keadaan yang sebenarnya terjadi. Mereka menyadari bahwa seorang gubernur yang mulia ini merupakan saudara kandungnya. Mereka lalu muali mencium pakaian Yusuf. Mereka menangis gembira dan menyesal meyesal atas apa yang telah mereka lakukan. Mereka ingin cepat kembali untuk menemui ayah mereka secepat mungkin untuk membuat hatinya gembira.

Akhir penderitaan 

Nabi ya’qub pergi ke jalan, melihat jalan yang sering dilalui kafilah setiap harinya. Ia menunggu kepulangan anaknya. Suatu hari ketika matahari telah tenggelam di kaki langit, Nabi Ya’qub melihat seekor unta berlari dengan cepat menuju arahnya. Terlihat salah satu anaknya melambaikan pakaian dari kejauhan kemudian menghampiri untuk mengatakan kabar gembira dari Mesir.

Nabi Ya’qub segera menusapkan baju pemberian Yusuf ke matanya. Tiba-tiba, matanya kembali bisa melihat. Segera ia juga menceritakan kepada istrinya dan mereka bergegas menuju Mesir. 




Diceritakan ulang oleh Danny Setiawan Ramadhan dari buku “The Greatest Stories of Al-Qur’an” karya Syekh Kamal As Sayyid.


Share this post
:
Comments
0 Comments

Post a Comment

 
Konten boleh dicopy dan disebarkan untuk dakwah | Cantumkan www.muslimedianews.com
Copyright © 2013-2014. Muslimedia News - Media Islam | Voice of Muslim - All Rights Reserved
RSS | Sitemap | MMN dan Redaksi | Disclaimer | Contact | Iklan
Support IT : MK | JT | MT and IT Muslimedia News