Top News :
Home » » Kisah Thalut dan Jalut

Kisah Thalut dan Jalut

Posted on Friday, 20 May 2016 | garis 15:25

Jakarta, Muslimedianews ~ Nabi Harun dan Nabi Musa telah wafat. Mereka meninggalkan risalah Allah yakni Taurat dan lembaran-lembaran suci kepada Bani Israil. Nabi Musa menyimpannya di sbuah tabut (kotak tempat ia dihanyutkan sewaktu bayi). Ia mnyerahkannya kepada Yusya’ bin Nun selaku penggantinya. Seorang pemuda yang mendampingi saat ia bertemu Nabi Khidir.
Yusya’ bin Nun diutus menjadi Nabi dan memimpin Bani Israil. Ia mengajak kaum tersebut perang menklukkan kaum kafir di Tanah Suci (Palestina). Peperangan tak terhindarkan dan Yusya’ serta Bani Israil mampu menaklukkan perlawanan kaum kafir. Kemudian mereka mendirikan pemerintahan di Tanah Suci.
Pemerintahan ini tak lama saat yusya’ bin Nun wafat, Bani Israil kembali berbuat jahat dan mengabaikan ajaran yang diwariskan. Pemerintahan tersebut digulingkan oleh bangsa Mesir. Pasukan itu dirajai oleh Jalut yang bengis lagi kejam. Ia membunuh kaum lelaki dan memperbudak kaum wanita. Keimanan yang lemah menjadikan Bani Israil taka kuasa menghadapi serangan Jalut dan pasukan. Akibatnya, mereka ditindas di Tanah Suci dan Tabut perjanjian diambil.

Datangnya Nabi Armiya dan Thalut
Kemudian Allah mengutus Nabi Armiya guna mengajak Bani Israil kembali ke jalan-Nya. Mereka bertobat dan beriman kembali pada Allah. Sebagian orang beriman mendatangi Armiya agar meminta kepada Allah agar Jalut bisa dikalahkan. Mereka juga meminta agar Allah mengirimkan pemimpin atau raja bagi mereka. Waktu berlalu dan mereka bersabar menanti sosok pemimpin yang dijanjikan Allah datang.
Suatu hari Armiya memberikan kabar bahagia bagi mereka. Ia mngatakan bahwa Allah mengirim Thalut sebagai raja mereka. Thalut adalah pemuda miskin anak Benyamin saudara Yusuf. Ia seorang laki-laki kekar, namun tidak sombong. Matanya penuh pancaran keimanan dan kerendahan hati.
Sebenarnya ia datang ke negeri itu untuk mencari keledainya yang lari. Kemudian ia bertemu dengan Armiya yang kemudia menjelaskan bahwa Thalut adalah utusan Allah. Armiya menjelaskan kepada Thalut bahwa Allah menghendaki kedatangannya ke negeri itu dan Allah menunjuk dirinya sebagai raja. Ia sempat mengelak namun terdiam dan tunduk akan kata-kata Armiya.
Sebagian ada yang menyambut bahagia dan ada pula yang tak menerima pengangkatan Thalut sebagai raja Bani Israil. Bagi yang dengki padanya itu semua atas dasar kemiskinan Thalut. Perdebatan terjadi antara Armiya dengan Bani Israil. Mereka tak percaya jika Thalut menjadi pemimpin bagi mereka.
Armiya menjelaskan bahwa Thalut akan berhasil membawa tabut perjanjian kembali. Mereka masih tak percaya mengenai tabut yang akan kembali. Armia mengatakan bahwa tabut itu akan dibawa oleh malaikat dan diletakkan di gurun. Mereka pun pergi ke gurun unuk melihatnya. Tabut pun dibawa dan memantulkan cahaya malikat. Saat itu pula keheningan dan keimanan merasuk tubuh mereka dan Thalut pun menjadi raja mereka.
Thalut mengumumkan bahwa ia akan berjuanag dan Bani Israil disuruh bersiap untuk perang. Ada saja yang ingkar akan seruan itu. Tak banyak orang yang mau mengikuti seruan perang Thalut. Namun, tetap saja meskipun sedikit Thalut mampu membuat pasukan. Ia mengatakan bahwa esok hari pasukan itu akan menyerbu Jalut dan bala tentaranya.
Saat matahari terbit, mereka pun berangkat. Mereka yakin bahwa mereka mampu menklukkan kaum kafir. Di tengah perjalanan, Thalut mengatakan bahwa mereka akan melewati sungai dan mendapat ujian dari Allah. Ia melarang prajuritnya minum air sungai. Dan ketika tiba di sungai, banyak prajurit segera menuju sungai dan ada juga yang meminum air sungai.
Seelah melewati sungai, mereka melihat pasukan Jalut dari kejauhan. Jalut mengendari gajah sangat besar serta dilengkapi senjata-senjata terbaik. Jalut juga terlihat menakutkan karena ia memakai baju bisi dan helm di kepalanya. Melihat pemandangan itu, prajurit Thalut yang meminum air sungai tadi, menjadi lemah dan tak memiliki semangat. Sedangkan prajurit yang patuh dan tak meminum air sungai, semakin bersemangat untuk perang.

Datangnya Nabi Daud

Peperangan pun terjadi. Jalut menganggap ringan musuhnya. Jalut terlena akan kekuatannya. Ia telah membunuh banyak rajurit dari Thalut. Ia juga menantang pasukan Thalut, namun tak satupun diantara mereka yang berani.
Di lain sisi, di Baitul Lahm, tinggalah seorang lelaki tua dan keempat anak lelakinya. Saat Thalut mengumumkan perjuanagan di jalan Allah, ia mengutus anak tertuanya untuk ikut perang. Ia melarang si bungsu, yakni Daud untuk turut dalam peperangan itu. Si Bungsu belum cukup umur dan pengalaman. Namun, Sang Ayah mengizinkannya untuk mengantarkan makanan dan membawa kabar mengenai peperangan. Daud gembira dan bersyukur lalu ia pun berangkat menuju pasukan Thalut.
Thalut mendapatkan wahyu dari Allah bahwa yang akan mengalahkan Jalut adalah orang yang cocok memakai baju besi Musa. Ia mengumumkan kepada seluruh pasukan dan banyak yang mencobanya. Namun tak ada satupun yang pantas mengenakannya. Hingga datanglah Daud menghampiri Thalut dan menyatakan bahwa ia siap bertempur melawan Jalut.
Tahlaut yang melihat Daud pun seolah tak percaya karena umurnya yang masih muda dan tak memiliki pengalaman berperang. Namun Thalut kagum akan keberanian dan keimanannya. Lalu Thalut mengeluarkan baju besi Musa dan menyuruh Dau mengenakannya. Ia heran, baju tersebut cocok dipakai Daud. Thalut sadar bahwa Daud adalah utusan Allah dan kelak ia akan mengalahkan Jalut.
Daud pun maju untuk menghadapi Jalut. Namun, ia disepelekkan oleh Jalut karena hanya membawa sebuah batu dan ketapel, tanpa tombak maupun pedang. Daud meletakkan batu dalam ketapel serta bersiap mengahadapi Jalut. Daud tak gentar saat Jalut menuju ke arahnya. Daud pun melontarakn batu pada jalut dan mengenai kening Jalut.
Prajurit yang melihat pertempuran keduanya, berdoa untuk kemenangan Daud. Tak seorang pun melihat kala batu itu terhemapas di udara dan merobohkan Jalut. Kaum kafir ketakutan melihat Jalut terhemps di tanah. Akhirnya Thalut beserta pasukannya menang menghadapi kaum kafir. Saat Thalut merasa dirinya akan wafat, ia menunjuk Daud sebagai raja penggantinya.
“Mereka (tentara Thalut) mengalahkan tentara Jalut dengan izin Allah dan (dalam peperngan itu) Daud membunuh Jalut, kemudian Allah memberikan kepadanya (Daud) pemerintahan dan hikmah (sesudah meninggalnya Thalut) dan mengajarkan kepadanya apa yang dikehendaki-Nya. Seandainya Allah tidak menolak (keganasan) sebagian umat manusia dengan sabagian yang lain, pasti rusaklah bumi ini. Tetapi Allah mempunyai karunia (yang dicurahkan) atas semesta alam. (Q.S. Al-Baqoroh ayat 251).




Diceritakan ulang oleh Danny Setiawan Ramadhan dari buku “The Greatest Stories of Al-Qur’an” karya Syekh Kamal As Sayyid



Share this post
:
Comments
0 Comments

Post a Comment

 
Konten boleh dicopy dan disebarkan untuk dakwah | Cantumkan www.muslimedianews.com
Copyright © 2013-2014. Muslimedia News - Media Islam | Voice of Muslim - All Rights Reserved
RSS | Sitemap | MMN dan Redaksi | Disclaimer | Contact | Iklan
Support IT : MK | JT | MT and IT Muslimedia News