Top News :
Home » » Nabi Yunus dan Ikan Paus

Nabi Yunus dan Ikan Paus

Posted on Saturday, 21 May 2016 | garis 15:27


Jakarta, Muslimedianews ~ Nabi Yunus dilahirkan di sebuah kota besar bernama Nainawa. Letaknya berada di tepi sungai Tigris. Mayoritas penduduknya berasal dari bangsa Asiria. Nainawa merupakan kota terbesar yang dihuni ratusan ribu orang. Mereka mayoritas hidup dari bertani dan menggembalakan ternak.

Penduduk Nainawa sebenarnya adalah orang-orang baik. Sayangnya mereka tidak menyembah Allah, melainkan menyembah berhala. Maka Allah memilih Nabi Yunus untuk menyeru kepada penduduk Nainawa agar menyembah Allah.

Nabi Yunus setiap harinya menyerukan kepada penduduk Nainawa agar beriman kepada Allah. Menyembah Tuhan Allah, bukan menyembah berhala. Ia selalu mengingatkan kaumnya akan ancaman bila menyekutukan Allah. Tapi penduduk Nainawa tak menggubrisnya mereka tetap menyembah berhala. 

Merasa seruannya tak digubris, Nabi Yunus sangat marah. Ia memuuskan pergi meninggalkan kaumnya. ia menuju ke laut Mediterania dan berharap Allah menghukum kaumnya. Namun, berita buruk mengenai Nainawa tak pernah ia dengar. Setiap musafir yang ia temui maka ia akan menanyakan kondisi Nainawa. Jawaban para musafir sama, yakni Nainawa baik-baik saja.

Penyesalan dan Peristiwa di Laut

Sebenarnya, ketika Nabi Yunus pergi meninggalkan kaumnya, Allah hendak menghukum kaum Nabi Yunus. Kala itu langit dipenuhi awan hitam dan terlihat seperti ada asap di langit. Beberapa orang saleh dan beriman di kota tersebut melihat tanda-tanda akan hukuman Allah. Mereka memperingatkan penduduk setempat akan hukuman Allah. Mereka turut menyerukan agar penduduk segera minta ampunan Allah.

Melihat hal tersebut, para penduduk merasa khawatir dan takut bilamana hukuman Allah benar terjadi. Mereka berpikir akan sebab jika hukuman terjadi. Mereka mulai sadar bahwa berhala-berhala yang mereka sembah hanyalah batu belaka. Akhirnya, mereka pun bertobat dan menyesali akan dosa-dosa yang mereka lakukan. Semua penduduk mendeklarasikan bahwa mereka beriman kepada Allah.
Allah telah mengampuni dosa yang mereka lakukan. Matahari mulai terbit lagi di langit. Mereka bersuka cita atas pengampunan Allah. Sebelumnya, mereka mencari keberadaan Nabi Yunus utuk mendeklarasikan keimanan mereka kepada Allah. Sayang mereka tak menemukan keberadaan Nabi Yunus sebab ia telah pergi. Sampai hukuman itu tak terjadi, mereka terus mencari dan mencari serta menunggu kedatangan Nabi Yunus.

Nabi Yunus yang mereka tunggu kedatangannya telah berada di laut Mediterania. Ia sedang menunggu kapal yang berlayar ke suatu pulau. Ketika sebuah kapal datang, Nabi Yunus segera menaiki kapal yang penuh akan penumpang.

Kapal telah berlayar meninggalkan pelabuhan. Di tengah laut, angin topan bertiup dan menjadikan ombak yang besar nan tinggi. Saat genting seperti itu, tiba-tiba muncul seekor ikan paus. Paus tersebut menghampiri kapal dan membuat gelombang besar dengan mengibaskan ekornya. Kapal terguncang karena gelombang dari kibasan ekor ikan paus.

Kapten kapal dan semua penumpang ketakutan. Sang Kapten mempunyai jalan keluar, yakni dengan mengorbankan salah satu penumpang untuk paus tersebut. Semua penumpang dikumpulkan dan dilakukan pengundian. Keluarlah nama Nabi Yunus. Tanpa rasa takut dan gentar, ia maju dan segera menenggelamkan dirinya ke laut.

Ombak menelan Nabi Yunus dan ia berusaha berenang menyelamatkan diri. Tak berselang lama, ia telah berada di mulut ikan paus dan masuk ke dalam perut ikan paus. Saat itulah ia sadar dirinya harus kembali ke Nainawa dan bukan pergi ke suatu pulau.

Kemarahannya pada kaumnya dikarenakan kekafiran. Hal tersebut dilandasi beban berat yang ia pikul dalam berdakwah selama 40 tahun tanpa gubrisan dari kaumnya. lalu ia pun meninggalkan kaumnya dan berharap Allah menghukumnya. Namun saat-saat terakhir Allah akan menghukum kaumnya, mereka sadar dan tobat. Allah mengampuni dan menghentikan perjalanan Nabi Yunus dengan memasukkannya ke perut ikan paus.

Di dalam perut ikan paus, ia selalu berdoa, “Tidak ada Tuhan selain Engkau. Maha Suci Engkau, sesungguhnya aku adalah termasuk orang-orang yang zalim.” Mungkin itulah kekuragan Nabi Yunus karena meninggalkan kaumnya. Kekurangan itu bukanlah ‘dosa mutlak’ namun ‘dosa relatif’. Sebenarnya juga, apa yang ia lakukan adalah tarkul aula’ (meninggalkan yang lebih layak) seperti yang dilakukan Nabi Adam.

Setiap siang dan malam Nabi yunus terus berdoa. Allah telah mengampuni dosanya. Allah mendamparkannya ke sebuah pulau tanpa batu karang dan ia terdampar di pantai yang sepi. Ia lemah dan kehausan. Allah menolongnya dengan menumbuhkan sebuah tanaman buah labu yang manis. Ia segera duduk di bawah daun besar tanaman dan memakan buahnya.

Ketika kondisinya telah pulih kembali, ia memutuskan untuk pulang ke kotanya, Nainawa. penduduk pun menyambut gembira kedatangan Nabi Yunus. Mereka telah beriman kepada Allah. Mengetahui kondisi dan keadaan kaumnya sekarang, Nabi yunus amatlah bergembira.




Diceritakan ulang oleh Danny Setiawan Ramadhan dari buku “The Greatest Stories of Al-Qur’an” karya Syekh Kamal As Sayyid


Share this post
:
Comments
0 Comments

Post a Comment

 
Konten boleh dicopy dan disebarkan untuk dakwah | Cantumkan www.muslimedianews.com
Copyright © 2013-2014. Muslimedia News - Media Islam | Voice of Muslim - All Rights Reserved
RSS | Sitemap | MMN dan Redaksi | Disclaimer | Contact | Iklan
Support IT : MK | JT | MT and IT Muslimedia News