Top News :
Home » » Buya Yahya: Jadilah Orang yang Mudah Mengingatkan dan Diingatkan

Buya Yahya: Jadilah Orang yang Mudah Mengingatkan dan Diingatkan

Posted on Tuesday, 5 July 2016 | garis 09:48

Cirebon~ Dini hari tadi (5/7) ratusan umat muslim di Cirebon berkumpul di Masjid At-Taqwa. Bukan tanpa alasan, mereka hendak menghadiri i’tikaf sekaligus renungan rutin di sepuluh malam terakhir di masjid tersebut. I’tikaf dan renungan dimaksud dipimpin langsung oleh Buya Yahya, pemimpin Lembaga Pengembangan Dakwah (LPD) Al Bahjah.

Acara dimulai sekitar pukul 01.00 WIB. Seorang santri dari LPD Al Bahjah menyampaikan runtutan acara i’tikaf rutin sudah berjalan secara rutin tersebut. Acara pertama ialah tausiah atau renungan yang disampaikan oleh Buya Yahya.

Buya Yahya dalam kesempatan tersebut mengajak jamaah yang hadir untuk membiasakan diri menjadi sosok yang mudah mengingatkan dan mudah diingatkan. Mengingatkan menurut Buya Yahya merupakan sesuatu yang sangat penting dalam kehidupan.  Namun, mengingatkan juga perlu dengan strategi.

“Mengingatkan itu tidak harus dari lisan kita” sebut Buya Yahya.

Ada beberapa strategi untuk mengingatkan menurut alumni salah satu universitas di negeri Yaman ini. Di antaranya ialah meminta tolong orang yang ‘alim atau orang yang dipercaya oleh orang yang akan kita nasehati. 

Buya Yahya memberi contoh tentang ibunya Imam Abu Hanifah yang enggan dinasehati oleh anaknya meskipun si anak sudah menjadi imam besar. Imam Abu Hanifah pun mempersilahkan si ibu untuk bertanya kepada guru yang lain. Padahal saat itu seluruh kota ialah murid dari Imam Abu Hanifah.

Hal lain yang perlu diingat saat akan mengingatkan orang lain ialah bahwa mengingatkan itu tidak harus saat yang bersangkutan berbuat kesalahan. Carilah waktu yang tepat untuk memberikan nasehat, misalnya saat orang yang akan kita nasehati dalam kondisi senang.

Tentang menjadi sosok yang mudah diingatkan, Buya Yahya mengajak hadirin untuk menyingkirkan kesombongan. Karena kesombonganlah atau sifat keakuanlah yang membuat seseorang enggan menerima nasehat dari orang lain.  Beliau mengilustrasikan dengan ingus. Orang akan jijik dengan ingus orang lain dan tidak jijik dengan ingus sendiri. Padahal keduanya adalah sesuatu yang sama. Mengapa? Karena ingus sendiri merupakan sesuatu yang keluar dari dirinya.


Share this post
:
Comments
0 Comments

Post a Comment

 
Konten boleh dicopy dan disebarkan untuk dakwah | Cantumkan www.muslimedianews.com
Copyright © 2013-2014. Muslimedia News - Media Islam | Voice of Muslim - All Rights Reserved
RSS | Sitemap | MMN dan Redaksi | Disclaimer | Contact | Iklan
Support IT : MK | JT | MT and IT Muslimedia News