Top News :
Home » » Hikmah : Memerangi Nafsu

Hikmah : Memerangi Nafsu

Posted on Monday, 4 July 2016 | garis 10:22

Muslimedianews.com ~ Ucapan takbir dan tahmid yang berkumandang memenuhi angkasa raya merupakan suatu manifestasi dari kebahagiaan setiap manusia muslim dalam menyambut hari Idul Fitri yang suci. Kegembiraan itu merupakan pencerminan dari ungkapan syukur kita kepada Tuhan yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Manusia mukmin bersyukur di hari Ied ini karena mereka telah melaksanakan puasa sebulan penuh dan ibadah-ibadah lain dengan tulus dan ikhlas. Berlatih mengendalikan nafsu dan membiasakan diri untuk bersikap tabah

Dalam kenyataan sejarah kehidupan manusia, kita jumpai banyak sekali orang yang dapat mengalahkan musuh-musuhnya di medan laga tetapi ia tidak berkutik melawan nafsu yang ada dalam dirinya sendiri. Nabi s.a.w. ketika ia dan para sahabatnya baru saja kembali dari Perang Badar, dalam perang itu banyak korban berjatuhan dari kedua belah pihak, kerugian harta dan benda sangat banyak. Nabi bersabda kepada para sahabat, “Kami baru saja kembali dari perang  yang kecil menuju perang  yang lebih besar.” (Syarah Sunan Ibnu Majah).

Mendengar ucapan Nabi seperti itu para sahabat terperanjat, spontan mereka bertanya, “Perang apa lagi yang akan kami hadapi?” Nabi menjawab, “Perjuangan memerangi hawa nafsu.”

Dengan puasa Ramadhan dan ibadah lainnya, manusia muslim akan meningkatkan dirinya menjadi insan takwa yang akan mendapat keridhaan Allah dalam segala kehidupannya. Manusia taqwa adalah mereka yang dapat melaksanakan perintah-perintah Allah dan menjauhi segala larangannya. Manusia taqwa adalah seorang yang teguh dalam berkeyakinan, tekun dalam menuntut ilmu, semakin bertambah ilmunya ia semakin merendah, semakin berkuasa ia semakin bijaksana, nampak wibawanya, jelas sikap syukurnya, senantiasa berhias, bersih walau miskin, senantiasa sederhana walau kaya, bersikap murah hati, tidak menghina dan mengejek, tidak menghabiskan waktu secara sia-sia dan tidak berkeliaran menebar fitnah.

Adalah Nabi Muhammad s.a.w., pembawa risalah agama Islam, memberikan suri tauladan semasa hidupnya untuk dipraktikkan oleh umatnya. Al-Qur’an dan al-Sunnah yang diajarkan beliau, baik secara verbal maupun non-verbal sungguh membekas di kalangan umatnya. Bahkan sampai sekarang, banyak kalangan non-muslim Barat yang berduyun-duyun ingin memeluk dan mengikuti ajarannya.

“Diriwayatkan dari Abdullah bin Amr r.a. bahwa seorang laki-laki bertanya kepada Nabi s.a.w.: “Ajaran Islam apakah yang baik?” Nabi s.a.w. menjawab, “Memberi makanan dan mengucapkan salam kepada orang yang kamu kenal dan kepada orang yang tidak kamu kenal.” (HR. Bukhari, No: 5882 dan Muslim, No: 2961)

Dari hadits di atas, sepintas kita menyaksikan betapa agungnya nilai-nilai Islam yang sejalan dengan nilai-nilai kemanusiaan dan keadilan. Tidak hanya masalah ibadah saja yang diurusi Islam, tetapi masalah-masalah kehidupan sosial pun menjadi sorotan. Hadits tersebut mengajak umat Islam, bahkan umat manusia secara keseluruhan untuk memperhatikan nasib masyarakat di sekitarnya. Tanggung jawab untuk menyantuni orang-orang lemah, fakir miskin, yatim piatu, para manula, dan mereka yang membutuhkan, tidak hanya dilimpahkan kepada para pemimpin. Tetapi itu semua merupakan tanggung jawab setiap orang yang mengaku dirinya sebagai muslim.

Jawaban Rasulullah ketika ditanya seorang sahabatnya tentang amalan Islam apakah yang paling baik, beliau langsung menyarankan orang itu untuk memberikan bantuan dan memasyarakatkan salam kepada siapa saja, baik pada orang yang dikenal maupun pada orang yang belum dikenal sebelumnya, termasuk kepada orang-orang non-muslim. Akan tetapi, khusus pada mereka yang non-muslim, Rasulullah biasa mengucapkan salam dengan redaksinya yang khusus, yaitu “Salamun ‘ala man ittaba’ al-huda” (salam sejahtera bagi orang yang mengikuti petunjuk-Nya). Hal ini dikarenakan redaksi “Assalamu’alaikum” adalah salam Rasulullah saw yang ditujukan bagi sesama muslim dan masyarakat campuran antara muslim dan non-muslim.

Islam memandang bahwa rizki yang barakah adalah rizki yang cukup untuk diri sendiri dan orang lain, bukan rizki yang banyak dan berlimpah tetapi tidak barakah.

Diriwayatkan dari Jabir bin Abdillah r.a., Nabi s.a.w. bersabda: “Makanan satu orang cukup untuk dua orang, makanan dua orang cukup untuk empat orang, dan makanan empat orang cukup untuk delapan orang.” (HR. Muslim, No: 3845, Tirmidzi, No: 1358 dan Ibnu Majah, No: 2137)

Menurut Jarir yang diriwayatkan oleh Ishaq bin Rahawaih, pengertian hadits di atas bahwa makanan untuk satu orang dapat mengenyangkan dua orang, makanan untuk dua orang dapat mengenyangkan empat orang, dan seterusnya. Sedangkan pendapat Abdullah bin Urwah, maksud hadits tersebut kembali pada perkataan Sahabat Umar ra, “Aku ingin memberikan makanan pada setiap anggota keluarga sesuai dengan jumlah mereka, dengan asumsi bahwa satu orang dari mereka tidak akan mati meski mendapatkan porsi setengahnya.”

Berbeda halnya dengan orang yang kikir, tidak memiliki rasa empati terhadap sesama, meskipun hartanya banyak dan berlimpah ruah, tetapi ia merasa hal itu masih kurang dan tidak cukup baginya. Sehingga ia merasa berat untuk mengeluarkan sebahagian rizkinya pada mereka yang membutuhkan. Hidupnya selalu dikejar-kejar oleh nafsu duniawi, seolah-olah ia ingin mencengkeram seisi dunia ini dengan jari-jari tangannya. Akibatnya, ia hidup dengan prinsip they’re for me (mereka harus melayaniku) bukan I’m for them (aku harus melayani mereka). Sikap demikian inilah yang membuat hidupnya tidak barakah dan tidak pernah merasa cukup atas rizki yang ia dapatkan.

Sejatinya, manusia muslim harus memperhatikan nasib masyarakat yang berada di bawahnya. Ia harus empati dan iba untuk menolong dan meringankan beban mereka. Jika hal itu terwujud, maka jurang kemiskinan pun bisa diminimalisir dan angka gejolak sosial pun dapat ditekan. Dengan demikian masyarakat muslim akan sejahtera sesuai dengan tatanan dan tuntunan agamanya. Alangkah tingginya Islam yang memandang semua umatnya adalah bersaudara yang harus saling membantu dan menolong antara satu dengan yang lainnya. Bahkan, lebih jauh lagi, Islam melalui sabda Rasulullah s.a.w. memandang bahwa iman seseorang tidak sempurna sehingga ia mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri.Diriwayatkan dari Anas bin Malik r.a, Nabi s.a.w. bersabda: “Tidak sempurna imannya seseorang sehingga ia mencintai untuk saudaranya seperti ia mencintai untuk dirinya sendiri.” (HR. Bukhari, No: 13, dan Muslim, No: 45).(***)Aji Setiawan

Penulis : Aji Setiawan


Share this post
:
Comments
0 Comments

Post a Comment

 
Konten boleh dicopy dan disebarkan untuk dakwah | Cantumkan www.muslimedianews.com
Copyright © 2013-2014. Muslimedia News - Media Islam | Voice of Muslim - All Rights Reserved
RSS | Sitemap | MMN dan Redaksi | Disclaimer | Contact | Iklan
Support IT : MK | JT | MT and IT Muslimedia News