Top News :
Home » » Hikmah: Menebar Salam

Hikmah: Menebar Salam

Posted on Tuesday, 5 July 2016 | garis 10:29

Muslimedianews.com ~ Pada hari yang agung dan bersemarak ini, kaum muslimin yang bertebaran diseluruh dunia, serempak menyambut kedatangan Idul Fitri dengan ucapan tahmid, takbir dan tahlil. Gemuruh suara tahmid dan takbir berkumandang memenuhi angkasa raya, diucapkan oleh setiap insan mukmin dengan  tulus dan khusu’. Manusia mukmin dalam segala keadaan, dan segala status sosial, mengharap keharibaan-Nya dengan tunduk dan patuh. Dia yang Maha Agung, Maha Kuasa dan Maha Esa, hanya miliknya segala keagungan, kekuasaan dan kesempurnaan. Kepada-Nya saja kembali segala puja dan puji dari semua makhluk-Nya yang hidup dan berkembang di alam raya ini.

Ucapan takbir dan tahmid yang berkumandang memenuhi angkasa raya merupakan suatu manifestasi dari kebahagiaan setiap manusia muslim dalam menyambut hari Idul Fitri yang suci. Kegembiraan itu merupakan pencerminan dari ungkapan syukur kita kepada Tuhan yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Manusia mukmin bersyukur di hari Ied ini karena mereka telah melaksanakan puasa sebulan penuh dan ibadah-ibadah lain dengan tulus dan ikhlas.

Dalam bulan Ramadhan setiap manusia muslim menempa dirinya untuk berlatih agar senantiasa taat kepada Allah, mengerjakan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Berlatih mengendalikan nafsu dan membiasakan diri untuk bersikap tabah serta sabar, saling mengasihi sesama, dan saling menghormati.

Selain menyerukan untuk empati atau solidaritas pada sesama, point berikutnya dari hadits di muka adalah menyebarkan salam. Salam yang dalam bahasa Ibrani shalom, berarti ucapan tegur sapa yang mengandung arti perdamaian dan kesejahteraan. Karena mengandung nilai perdamaian dan kesejahteraan itulah, ucapan tersebut harus disebarluaskan pada setiap orang, baik orang yang dikenal maupun tidak.

Hidup yang damai dan sejahtera adalah dambaan semua manusia yang beradab. Tidak ada seorang pun yang menginginkan adanya kekerasan, lautan darah, dan tindakan yang tidak berperikemanusiaan mengena pada dirinya. Oleh karena itu, Islam sebagai agama yang membawa rahmat untuk semesta alam (rahmatan lil alamin), sesuai namanya, juga menyerukan umatnya untuk menebarkan perdamaian dan saling mencintai antar sesama manusia.

Cinta kasih adalah modal utama untuk mewujudkan hidup rukun, aman, dan tentram. Tetapi jika ada pihak atau sekelompok manusia yang menginginkan untuk mencabik nilai-nilai yang tinggi itu, maka Islam melalui sabda Nabi Muhammad saw, dengan tegas menyatakan bahwa mereka tidak akan memperoleh kesuksesan di dunia dan akherat.

Diriwayatkan dari Abu Hurairah r.a., Rasulullah s.a.w. bersabda: “Kamu sekalian tidak masuk sorga sehingga menjadi kaum yang beriman, kamu sekalian tidak termasuk kaum yang beriman sehingga saling mencintai. Tidakkah aku berikan petunjuk bagi kalian agar saling mencintai? (jawabannya) sebarkanlah salam diantara kalian!” (HR. Muslim, No: 54, Tirmidzi, No: 2689, dan Abu Daud, No: 5193).

Tentu saja hal tersebut tidak berarti cukup dengan menyebarkan salam semata (tibyus salam), melainkan harus disertai juga dengan beribadah yang khusyu kepada Allah dan mengaplikasikannya dalam tataran sosial. Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan dari Abdullah bin Amr r.a., Rasulullah s.a.w. bersabda:“Sembahlah Allah Yang Maha Pengasih, berikanlah makanan, dan sebarkanlah salam, maka kamu sekalian akan masuk sorga dengan penuh kesejahteraan.” (HR. Tirmidzi, No: 1855)

Demikianlah, ajaran Islam yang paripurna dan senantiasa relavan untuk dipraktikkan umat manusia sampai akhir masa, demi mencapai kebahagiaan di dunia dan di akherat. Umat yang beradab adalah umat yang selalu memperhatikan nasib masyarakat sekitarnya. Mereka dapat hidup tenang dan damai, jika masyarakatnya berkecukupan. Begitu pula mereka merasa gundah dan gelisah, jika masyarakatnya hidup susah. Hal ini digambarkan Nabi s.a.w. sebagaimana hadits dari Al-Nu’man bin Basyir:“Kamu melihat kaum mukminin dalam hal sayang menyayangi, cinta mencintai, dan kasih mengasihi, bagaikan satu tubuh, jika ada salah satu anggota tubuh yang mengeluh (sakit), maka anggota-anggota tubuh lainnya ikut merasakannya dengan tidak bisa tidur dan panas.” (HR. Bukhari, No: 5579, dan Muslim, No: 2586,)

Sikap dan cara pandang itulah yang harus kita usung bersama, yaitu solidaritas terhadap sesama. Dalam nuansa Idul Fitri ini, di balik merayakan kegembiraan dan kemenangan kita dengan takbir, tahlil, dan tahmid, kita pun harus menengok saudara-saudara kita yang masih hidup dalam garis kemiskinan. Kepada mereka, kita ulurkan tangan. Untuk mereka, kita hentikan gaya hidup yang berlebihan. Marilah kita berbagi dan empati dalam kerangka solidaritas sosial untuk bahu membahu mewujudkan masyarakat yang mapan dan sejahtera.(***) Aji Setiawan

Penulis : Aji Setiawan, ST

Share this post
:
Comments
0 Comments

Post a Comment

 
Konten boleh dicopy dan disebarkan untuk dakwah | Cantumkan www.muslimedianews.com
Copyright © 2013-2014. Muslimedia News - Media Islam | Voice of Muslim - All Rights Reserved
RSS | Sitemap | MMN dan Redaksi | Disclaimer | Contact | Iklan
Support IT : MK | JT | MT and IT Muslimedia News