Top News :
Home » » INTERNALISASI NILAI SPIRITUAL DI PESANTREN

INTERNALISASI NILAI SPIRITUAL DI PESANTREN

Posted on Monday, 4 July 2016 | garis 10:43

Muslimedianews.com ~

Oleh: KH. Abdul Ghaffar Razien, M.Ed
Ramadan adalah media pendidikan karakter yang didalamnya Allah SWT mengajarkan kejujuran, kedisiplinan, tanggungjawab, kepedulian sosial, produktivitas waktu untuk kebaikan, kebersamaan, dan tolong menolong antar sesama. Pembangunan karakter inilah yang akan mengantarkan kesuksesan dan kebahagiaan manusia di dunia dan akhirat. Lembaga pendidikan manapun seyogianya memprioritaskan pendidikan karakter diatas yang lain. Salah satu lembaga pendidikan yang menjadikan pendidikan karakter sebagai prioritas adalah pesantren.

Pesantren adalah lembaga pendidikan keagamaan yang tumbuh dan mengakar di tengah masyarakat. Figur seorang kiai menjadi icon pesantren. Kedalaman ilmu, kesantunan laku, dan kemuliaan perilaku menjadi daya tarik masyarakat untuk mengaji kepada kiai dan memasrahkan anak-anaknya untuk belajar langsung di tempat kiai. Dus, kiai berperan ganda, sebagai ilmuwan yang mengajari ilmu agama kepada para santri dan masyarakat dan sebagai figur sosial yang membimbing perilaku masyarakat dalam berakhlakul karimah. Dua peran ini membuat pengaruh kiai di masyarakat sangat kuat sehingga petuah-petuah kiai menjadi inspirasi perilaku para santri dan masyarakat. Dalam konteks ini, keteladanan menjadi sarana efektif pesantren dalam melakukan transformasi moral, selain transformasi keilmuan dan sosial. Keteladanan bisa dijumpai dalam berbagai kegiatan, seperti shalat berjamaah, mengaji bersama, bersalaman sambil mencium tangan kiai, mendudukkan kepala saat sowan kiai, berkata jujur, suka bersih-bersih, dan bergotong royong dalam kerja bakti pesantren.

Pendidikan karakter ala pesantren ini menjadi solusi dekadensi moral akut yang menimpa bangsa ini. Pesantren membentuk manusia yang bener dan pinter, tidak hanya bener tidak pinter atau pinter tidak bener. Bener dan pinter adalah kombinasi ideal sumber daya manusia yang dinamis, produktif, dan kompetitif yang dibutuhkan bangsa ini dalam mencapai era kejayaannya di masa depan. Bener tidak pinter membuat manusia pasif, sedangkan pinter tidak bener membuat manusia mudah tergoda penyakit yang mematikan, seperti korupsi, seks bebas, minum-minuman keras, kriminal, dan perbuatan negative-destruktif lainnya. Inilah tugas agung pesantren yang senantiasa relevan di tengah gegap gempira era globalisasi. Figur-figur besar pesantren seperti KH. M. Hasyim Asy’ari, KH. Abdul Wahab Hazbullah, dan KH. Bisyri Syamsuri adalah sosok pembangun moral dan keilmuan yang mempunyai peran kemasyarakatan dan kebangsaan yang tinggi.

Wallahu a’lam bish shawwab.

*Ketua PP. RMI NU juga Pengasuh Pondok Pesantren Maslakul Huda Kajen Pati

Naskah artikel pendek ini merupakan versi asli dari artikel yang dimuat di rubrik Halaqah Tribun Jateng bekerjasama dengan RMI NU Jateng tanggal 4 Juli 2016. Versi cetak berada di halaman 5.

Share this post
:
Comments
0 Comments

Post a Comment

 
Konten boleh dicopy dan disebarkan untuk dakwah | Cantumkan www.muslimedianews.com
Copyright © 2013-2014. Muslimedia News - Media Islam | Voice of Muslim - All Rights Reserved
RSS | Sitemap | MMN dan Redaksi | Disclaimer | Contact | Iklan
Support IT : MK | JT | MT and IT Muslimedia News