Top News :
Home » » Menyambut Hari Nan Fitri

Menyambut Hari Nan Fitri

Posted on Tuesday, 5 July 2016 | garis 13:30

Muslimedianews.com ~ Alhamdulillah. Bulan suci Ramadan adalah bulan penuh berkah dan magfirah telah hampir sebulan kita jalani, semua umat muslim berlomba-lomba menunaikan ibadah dan memohon ampunan dari segala kesalahan yang telah dilakukan. Di bulan suci Ramadan biasanya umat muslim berkumpul bersama keluarga besar dalam menjalankan ibadah puasa.Bisa berkumpul bersama orang tua, saudara, dan keluarga di kampung halaman dalam menjalankan ibadah puasa adalah kebanggaan tersendiri dan sesuatu hal yang sangat diinginkan oleh semua umat muslim. Karena dengan berkumpulnya sanak keluarga dalam menjalankan ibadah puasa dapat mempererat silaturahmi persaudaraan dan kekeluargaan.

Satu bulan penuh kita diwajibkan menunaikan ibadah Shiyam Ramadhan. Sekarang kita hampir sebulan penuh menyelesaikan perintah menunaikan ibadah puasa Ramadhan sebulan penuh dengan masih diberi kesehatan dan semoga Alloh SWT tetap senantiasa memberikan umur kita yang panjang serta badan yang sehat, dengan tetap diberi kekuatan iman, Islam dan taqwa sehingga dapat bisa menunaikan ibadah puasa kembali pada masa yang akan datang.

Sekarang kita akan memasuki waktu bulan Syawal, bulan yang tepat untuk mengisi halal bi halal, sesuai sabda Nabi SAW: Man qooma romadhona imaanan wahtisabn ghufiro lahu ma taqoddama min danbihi”. Yang artinya, ”Siapa saja orang giat beribadah ramadhan kanthi iman dan hanya berharap pahala karena Allah, maka orang tersebut akan diampuni dosa-dosa nya pada masa lampau.”

Di hari hari terakhir bulan Ramadhan ini makin giat kita melaksanakan ibadah. Ramadhan hampir meninggalkan kita dan tiada tersisa daripadanya melainkan sedikit saja Berbahagialah orang-orang yang telah berbuatkebaikan dan menutupnya dengan sempurna. Adapun orang-orang yang telahmenyia-nyiakannya maka berusahalah untuk menutupnya dengan kebaikan pula,karena yang dinilai dari amal adalah penutupnya. Selayaknya bagi setiap mukmin untuk terus semangat dalam beribahadah di sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan lebih dari lainnya. Di sepuluh hari terakhir tersebut terdapat lailatul qadar. Allah Ta’ala berfirman: “Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan” (QS. Al Qadar: 3). Lailatul qadar adalah malam yang penuh kemuliaan. Telah terdapat keutamaan yang besar bagi orang yang menghidupkan malam tersebut. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Barangsiapa melaksanakan shalat pada lailatul qadar karena iman dan mengharap pahala dari Allah, maka dosa-dosanya yang telah lalu akan diampuni.” (HR. Bukhari no. 1901).

Sebagian orang sibuk mencari tanda kapan lailatul qadar terjadi. Namun sebenarnya tanda tersebut tidak perlu dicari. Tugas kita di akhir Ramadhan, pokoknya terus perbanyak ibadah. Karena kalau sibuk mencari tanda malam tersebut, kita malah tidak akan memperbanyak ibadah. Walaupun memang ada tanda-tanda tertentu kala itu.  Tanda tersebut di antaranya: Pertama, udara dan angin sekitar terasa tenang. Sebagaimana dari Ibnu Abbas, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Lailatul qadar adalah malam yang penuh kemudahan dan kebaikan, tidak begitu panas, juga tidak begitu dingin, pada pagi hari matahari bersinar tidak begitu cerah dan nampak kemerah-merahan.” (HR. Ath Thoyalisi dan Al Baihaqi dalam Syu’abul Iman, lihat Jaami’ul Ahadits 18/361, shahih). Kedua, malaikat turun dengan membawa ketenangan sehingga manusia merasakan ketenangan tersebut dan merasakan kelezatan dalam beribadah yang tidak dirasakan pada hari-hari yang lain. Ketiga, manusia dapat melihat malam ini dalam mimpinya sebagaimana terjadi pada sebagian sahabat. Keempat, matahari akan terbit pada pagi harinya dalam keadaan jernih, tanpa sinar yang menyorot. Dari Ubay bin Ka’ab, ia berkata, “Malam itu adalah malam yang cerah yaitu malam ke dua puluh tujuh (dari bulan Ramadlan). Dan tanda-tandanya ialah pada pagi harinya matahari terbit berwarna putih tanpa sinar yang menyorot.” (HR. Muslim no. 762).

Sangat dianjurkan untuk memperbanyak do’a pada lailatul qadar, lebih-lebih do’a yang dianjurkan oleh suri tauladan kita –Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam- sebagaimana terdapat dalam hadits dari Aisyah. Beliau radhiyallahu ‘anha berkata: ”Wahai Rasulullah, apa pendapatmu jika aku mengetahui suatu malam adalah lailatul qadar. Apa yang mesti aku ucapkan saat itu?” Beliau menjawab, ”Katakanlah: ‘Allahumma innaka ‘afuwwun tuhibbul ‘afwa fa’fu anni’ (Ya Allah sesungguhnya Engkau Maha Pemaaf yang menyukai permintaan maaf, maafkanlah aku).” (HR. Tirmidzi no. 3513, Ibnu Majah no. 3850, dan Ahmad 6/171, shahih).

Karena itu pada kesempatan di menjelang awal bulan Syawal atau bulan Idul Fitri pada tahun ini mari kita manfaatkan sebaik-baiknya kesempatan bulan ini untuk berhalal bi halal dengan keluarga, teman dan tetangga serta kepada orang yang lebih tua. Mari kita memohon halal bi halal dan mohon ridha terhadap hak anak adam atau hubungan sesama. Nabi Muhammad bersabda: Man ahabba anyus satholahu fi rizqihi wayuntsaa a lahu fi atsarihi falyasil rohimahu”. Yang artinya, “Siapa saja orang yang senang dan melapangkan urusan rizqi orang lain maka akan dipanjangkan umurnya dan ditambah sanak keluarganya. (HR Muslim).

Jadi jelaslah tujuan diadakannya idul fitri yang sudah mentradisi tidak saja di Indonesia namun oleh umat Islam seluruh dunia tujuannya adalah untuk saling memaafkan, menghilangkan rasa permusuhan dan menyambung tali silaturahmi. Akan tetap kendati tiap tahun diadakan dirayakan masih sering kita jumpai rasa saling bermusuhan diantara manusia. Ketika bulan Ramadhan berlalu, kesalihan umat islam kembali tereduksi atau makin terkikis. Rasa dendam, iri dan dengki kembali merasuki jiwa manusia. Kesadaran sosial semakin bekurang. Kemungkaran dan kemaksiatan menyebar di mana-mana.

Padahal hakikat idul fitri hakikat hari raya idul fitri sebenarnya adalah mengembalikan manusia pada fitrahnya.Yaitu manusia yang beriman dan berserah diri kepada Allah SWT. Nampaknya, nilai-nilai yang terkandung di dalam hari raya idul fitri belum terlaksana dengan baik. Oleh karena itu sudah saatnya kita merenungi akan hakikat dan makna idul fitri yang sebenarnya.

Hari Raya Idul Fitri adalah momen paling tepat untuk membersihkan jiwa dari segala dosa. Hakikat Idul Fitri adalah mengembalikan manusia pada fitrahnya. Sebagimana Sabda Rasulullah SAW: ”Setiap manusia dilahirkan dalam keadaan fitrah (suci). Akan tetapi orang tuanya yang menjadikannya Yahudi, Nashrani dan Majusi.”(HR Bukhari).

Allah SWT juga berfirman: “Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Allah): (tetapkanlah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu, tidak ada perubahan pada fitrah Allah.Itulah agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.” (QS Ar-Rum:30).

Agar hari raya Idul Fitri lebih bermakna bagi kita maka setidaknya ada dua hal yang harus diperhatikan. Pertama, meluruskan kembali arti silaturahmi. Silaturahmi bukan sekedar saling bersalaman dan saling menziarahi. Akan tetapi , harus ada komitmen untuk saling melupakan rasa permusuhan dan membuka lembaran baru untuk saling memaafkan dan berkasih sayang. Rasulullah SAW bersabda,” Bukanlah menyambung (tali silaturahmi) itu dengan saling membalas (mengunjungi), akan tetapi orang yang menyambung (tali silaturahmi) adalah apabila terputus kerabatnya, dia segera menyambungnya. (HR Turmudzi).

Kedua, melekstarikan hikmah-hikmah puasa Ramadhan. Kita semua tentu mengetahui hikmah dan keutamaan Ramadhan, akan tetapi tidak banyak setelah Ramadhan berakhir.Kebanyakan kaum muslimin yang aktif dan rajin shalat berjamaah , bersedekah,tadarus Al Qur’an, mendengarkan ceramah agama dan rajin ke masjid selama sebulan Ramadhan. Namun ketika Ramadhan berakhir, mereka berubah seperti semula.

Oleh karena itu, Ramadhan dapat dijadikan untuk memperkuat pribadi dan karakter kaum muslimin yang sehat, tangguh dan sabar serta kembali ke fitrah manusia yakni manusia-manusia yang cinta damai, sabar, ikhlas , jujur dan muara akhirnya adalah menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa di hadapan Allah SWT. Sebagaimana firman Allah SWT: ”Hai orang-orang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana telah diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana telah diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu, agar kamu menjadi orang yang taqwa. (QS Al Baqarah:183).

Bulan Ramadhan adalah bulan ketika kesabaran kaum muslimin diuji. Salah satu i’tibar atau pelajaran kesabaran adalah dengan membaca kisah-kisah kesabaran para nabi dan Rasulullah.Kesabaran yang timpakan kepada para Nabi dapat diambil hikmahnya dan dicontoh dalam menghadapi obaan Tuhan dan juga gangguan oleh para musuh Nabi. Dengan berpuasa, kesabaran kita asah sehingga ketika menghadapi cobaan dan duri onak kehidupan kita semakin tegar dan bersabar dalam menghadapinya.

Oleh karena itu setelah ramadhan berakhir, aktivitas-aktivitas ibadah yang positif dilakukan selama bulan Ramadhan harus tetap dilestarikan setelah bulan Ramadhan. Diantara hikmah puasa yang menjadi prioritas yang dilakukan saat ini adalah menanamkan jiwa sosial terhadap kaum fakir miskin. Selama bulan Ramadhan kita diperintah untuk memperbanyak sedekah kepada kaum fakir miskin dan juga diperintah untuk mengeluarkan zakat fitrah yang kesemuanya itu merupakan manifestasi dari jiwa sosial kita kepada fakir miskin.

Bersedekah dan mengeluarkan zakat bisa mempersempit jurang sosial antara kaya dan orang miskin. Tidak selayaknya bila dihari raya kita bersenang-senang , bersuka ria bersama sementara tetangga kanan kiri kita hidup menderita serta serba kekurangan. Di hari-hari menjelang hari nan fitri ini, mari kita saling bermaaf-maafan, bersilaturahmi, berziarah kepada orang tua, guru, teman dan sanak saudara. Lupakan rasa permusuhan diantara kita. Mari kita pererat tali persaudaraan umat Islam. Hilangkan segala perselisihan dan kesalahpahaman , lalu kita buka lembaran baru dengan saling pengertian dan kasih sayang. Sehingga pada hari raya idul fitri ini yang kita rayakan lebih terasa dan bermakna bagi kita semua.

Semoga Allah SWT menjadikan kita bagian dari orang-orang kembali (‘idul) kepada kesucian (fitrah) serta tergolong menjadi orang-orang yang menang dari melawan hawa nafsu dan memperoleh ridha Allah SWT —dimana kita berhasil menundukan hawa nafsu yang bersemayam dalam diri kita—.Taqabalallahu minna wa minkum, minnal ‘aidzin wal faizin. Mohon maaf lahir bathin.(*) Aji Setiawan, Wartawan Majalah Al Kisah 2004-2007.

Aji Setiawan,ST lahir pada Hari Minggu Wage, 1 Oktober 1978. Di lahirkan, tepatnya di Desa Cipawon, Bukateja, Purbalingga, Jawa Tengah, Indonesia.

Menempuh pendidikan formal diawali dari Sekolah di Madrasah Ibtidaiyah II Cipawon di desa Cipawon, kemudian sesudah itu dilanjutkan ke SMP I Bukateja. Pendidikannya berlanjut ke kota kripik, tepatnya sejak 1993-1996, di SMA 3 Purwokerto.

Selepas dari Purwokerto, tahun 1996, ia pergi ke Yogyakarta dan mengambil pendidikan di Jurusan Teknik Manajemen Industri, Fakultas Teknologi Industri, Universitas Islam Indonesia di Yogyakarta.

Sejak tahun 1997 ia mulai malang melintang di berbagai lembaga kampus, mulai dari Himpunan Mahasiswa TMI-FTI UII, Lembaga Pers Mahasiswa “Profesi” FTI, LPM “Himmah” UII, Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Rayon Fakultas Teknologi Industri _UII Jogjakarta, Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Komisariat KH Wahid Hasyim UII Jogjakarta, Ketua Persatuan Wartawan Indonesia Reformasi Korda Jogjakarta (1999-2002).

Lulus kuliah tahun Oktober 2002, kemudian bekerja di Majalah alKisah, anekayess group! tahun 2004-2007. Staff Ahli Fraksi Persatuan Pembaharuan Bangsa Kab Purbalingga 2012-2014.

Memutuskan diri menjadi kontributor banyak media dari tahun 2009. Mulai dari alKisah, Risalah NU, Media Ummat, Sufi, http://www.nu.or.id , www.berita9online.com , mediasantri, islampos, Suraupos,  muslimmedia, majalah tabloid online Islam  ,dan  lain-lain.


Penulis : Aji Setiawan, ST

Share this post
:
Comments
0 Comments

Post a Comment

 
Konten boleh dicopy dan disebarkan untuk dakwah | Cantumkan www.muslimedianews.com
Copyright © 2013-2014. Muslimedia News - Media Islam | Voice of Muslim - All Rights Reserved
RSS | Sitemap | MMN dan Redaksi | Disclaimer | Contact | Iklan
Support IT : MK | JT | MT and IT Muslimedia News