Top News :
Home » , » Fenomena Anak Durhaka, Tanda Akhir Zaman

Fenomena Anak Durhaka, Tanda Akhir Zaman

Posted on Monday, 17 October 2016 | garis 20:14

Jakarta, Muslimedianews ~ Allah SWT menyeru hambanya untuk berbakti kepada orang tua. Perbuatan ataupun perkataan yang menyakiti hati keduanya sangat dikecam dalam Islam. Bahkan, durhaka kepada orang tua termasuk kategori dosa besar. Anjuran untuk berbakti kepada orang tua terdapat dalam firman Allah SWT yang berbunyi: 

“Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau Kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, Maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya Perkataan "ah" dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka Perkataan yang mulia...”. (QS: al-Isra` ayat 23)

Ayat ini menegaskan seorang anak wajib berbuat baik dan mengabdi orang tuanya. Bagaimana tidak, mereka telah bersusah payah merawat anaknya ketika masih di kandungan sampai ia tumbuh dewasa. Sebesar apapun pengabdian seorang anak tidak akan mampu mengalahkan kasih sayang orang tua pada anaknya. Maka dari itu,  mengucapkan kata “ah” yang dapat menyakiti hatinya dilarang Allah SWT, apalagi menyakiti fisik, seperti memukul, menampar, dan bentuk kejahatan lainnya. Lebih parah lagi, saat ini sudah banyak bermuculan kasus seorang anak membunuh orang tuanya. Biasanya motif pembunuhan ini karena ingin menguasai harta orang tuanya.  

Dalam hadis riwayat Ibnu Umar dikisahkan ketika Rasulullah  SAW berkumpul bersama orang-orang, datang seorang laki-laki dan berkata, “Wahai Rasulullah, kapan kiamat akan terjadi?” Rasulullah menjawab, “orang yang tidak ditanya tidak lebih mengetahui dibanding yang bertanya, tetapi akan kusampaikan tanda-tandanya, yaitu apabila seorang budak melahirkan majikannya, jika orang yang bertelanjang kaki menjadi pemimpin orang banyak, jika orang yang tak menggenakan baju (miskin) serta pengembala kambing berlomba-lomba mendirikan bangunan megah yang menjulang tinggi. Itulah tanda-tanda kiamat. (HR: Bukhari dan Muslim)

Berdasarkan hadis ini dapat dipahami bahwa Nabi SAW tidak mengetahui waktu pasti terjadinya kiamat. Sebab itu hanyalah Allah SWT yang mengetahuinya. Nabi SAW hanya mengetahui tanda-tandanya saja. Apabila tanda ini mulai tampak, maka kiamat akan terjadi, baik dalam waktu cepat ataupun lambat. Di antara tanda kiamat yang disebutkan dalam hadis di atas ialah seorang budak melahirkan majikannya.

Hadis ini tidak bisa dipahami secara hakiki (makna dasarnya), karena tidak rasional seorang anak melahirkan ibunya. Yang ada hanyalah seorang ibu melahirkan anaknya. Hadis ini harus dipahami secara metafor atau majazi. Al-Suyuthi menafsirkan yang dimaksud dari hadis di atas ialah banyaknya anak durhaka, sehingga posisi orang tua tak ubahnya seperti posisi budak dihadapan majikannya. Seorang anak tidak lagi mengindahkan nasehat dan kata-kata orang tua. Apa yang diperintahkan orang tua tidak lagi diikuti. Malahan orang tua dipaksa untuk mengikuti kehendak anak. 

Menurut Zaghlul Raghib al-Najjar hadis di atas bisa dipahami dengan dua makna: pertama, dunia akan dikuasai dan dipimpin oleh orang-orang yang dilahirkan dari budak-budak belian dan anak-anak pelaku zina yang tidak jelas asal usulnya. Menjelang hari kiamat, orang-orang seperti itulah yang akan memimpin masyarakat. Mereka akan menempati pos-pos jabatan yang penting, terutama di negara-negara maju. Keadaan para ibu pada zaman itu, tak ubahnya hanya sebagai perempuan yang melahirkan saja, tidak dihormati dan tidak dihargai. Anak-anaknya menganggap ibunya sebagai bagian dari kelompok masyarakat yang hina dan terbelakang.

Kedua, hadis di atas dipahami dengan pada akhir zaman akan merabaknya pembangkangan dan sikap durhaka anak-anak kepada orang tua mereka, terutama ibunya. Pengertian ini diambil dari kata ‘al-amah’ yang berati budak perempuan. Jadi, kaum perempuan secara umum dianggap tidak memiliki kebebasan berpendapat dan bertindak. Kaum perempuan pada saat itu memiliki kedudukan yang rendah, yaitu semata-mata perangkat produksi. Dengan demikian, secara keseluruhan hadis itu menyiratkan pesan bahwa kelak umat manusia akan mendapati suatu zaman ketika mereka tidak lagi memperdulikan nilai-nilai etika, kesopanan, dan kasih sayang antar sesama mereka sendiri. Mereka tak malu lagi untuk melawan, menganiaya, bahkan membunuh orang tuanya sendiri.




Oleh: Alfian Mushafi Abdullah, Peneliti Hadis di el-Bukhari Institute.

Share this post
:
Comments
0 Comments

Post a Comment

 
Konten boleh dicopy dan disebarkan untuk dakwah | Cantumkan www.muslimedianews.com
Copyright © 2013-2014. Muslimedia News - Media Islam | Voice of Muslim - All Rights Reserved
RSS | Sitemap | MMN dan Redaksi | Disclaimer | Contact | Iklan
Support IT : MK | JT | MT and IT Muslimedia News