Top News :
Home » , » Hukum Permainan Catur

Hukum Permainan Catur

Posted on Thursday, 20 October 2016 | garis 20:28

Jakarta, Muslimedianews ~ Skak Mat !, dalam permainan catur adalah momen menangnya salah satu pihak dalam permainan catur. Menarik jika kita membaca beberapa keterangan sejarah bahwa kata Skak Mat yang sebenarnya adalah pelafalan yang bahasa Inggrisnya adalah checkmate, ternyata adalah digunakan – dan boleh jadi serapan dari frase bahasa Arab, Shaah Maat !. Keterangan sejarah ini menarik perhatian penulis karena catur ternyata telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Arab, dan dunia secara umum hingga saat ini. Catatan sejarah itu buktinya, meski kata Shah telah menjadi baahasa Arab, sebenarnya kata itu sendiri juga bersumber dari bahasa Parsi, sebuah gelar untu seorang raja. 
Tapi, bukan persoalan itu yang akan menjadi penekanan. Catur adalah permainan yang penuh cerita kebudayaan dan politik, bukan sekadar permainan biasa. Dimainkan oleh dua orang, sisi hitam dan putih, permainan ini menuntut optimalisasi berpikir strategis dalam menjalankan setiap anak catur hingga dapat mengalahkan lawan mainnya.
Hamza Yusuf, seorang tokoh Islam terkenal di Amerika Serikat pernah membuat  paper dengan judul “The Chess in the Light of Jurist” (Catur dalam Pandangan Fuqaha). Ia menyatakan bahwa literatur barat mengenai catur menyebutkan bahwa ada empat periode sejarah catur, pertama periode India, periode  Persia, lalu periode Arab (ketika Islam mulai memperluas kekuasaan politik), dan periode Eropa ketika permainan ini dibawa oleh orang-orang Moor di Spanyol. Periode terakhir inilah yang menjadi catur di dunia modern yang kita kenal saat ini. 
Karena terdapat berbagai persinggungan diantara bermacam kebudayaan dan bangsa, ada banyak istilah-istilah didalam permainan ini yang merupakan hasil serapan dari satu bahasa ke bahasa lain. Catur, sebenarnya adalah separuh dari dua kata yang disatukan , yaitu Chaturanga. Chaturanga yang gabungan dari kata Chatur dan Ranga kemudian dikenal dalam bahasa Arab dengan Shatranj (arab: شطرنج). Chatur yang berarti empat, dan Ranga yang berarti senjata. Jadi catur sebenarnya adalah maket posisi militer India, dimana mereka mengenal empat lini pasukan, kereta kuda (chariot), pasukan berkuda (cavalry), pasukan gajah (elephant), dan tentara (infantry). Sehingga, catur digambarkan sebagai sebuah pasukan militer negara. Kata lainnya adalah bidak (diserap dari bahasa Arab: baydaq), menteri (dikutip dari bahasa India: mantri), dan masih banyak lagi. Demikian, catur pun juga telah mengalami peraturan “aktor” pada pion-pionnya, serta cara permainnya. Dalam dunia Arab misalnya, terjadi perubahan ketika “peran” gajah diganti dengan kuda. Cara berjalannya anak catur juga berubah. Catur di dunia Arab yang mengganti posisi Chariot menjadi “Rajah” (Ratu/Raja) dan kuda yang diganti dari “elephant” menjadi fars (Kuda). Orang arab pula yang merubah cara berjalan kuda menjadi tiga langkah kedepan, da a (Selengkapnya dapat dibaca dalam: Hamza Yusuf, The Chess in the Light of Jurist. 
Soal apa saja yang menjadi unsur permainan catur, dan bagaimana bermainnya saya kira para pembaca sudah mengetahui. Permainan ini sudah dikenal di banyak tempat, termasuk di Indonesia. Permainan ini disebut sebagai olahraga di Indonesia, sehingga diikutkan kedalam turnamen olahraga. Karena digolongkan sebagai olahraga, pemainnya disebut atlet, dan dikoordinatori oleh sebuah lembaga bernama PERCASI. 
Sebenarnya, ketika catur dikenal sebagai permainan tua – termasuk di dunia arab – sangat wajar ketika mereka bisa menemukan kosakatanya didalam bahasa Arab. Sebagai permainan tua, catur dikenal oleh para Sahabat Rasulullah Saw. Beberapa atsar dari para Sahabat ditemukan menyebutkan mengenal permainan ini, lalu mereka meresponnya dengan pertanyaan bagaimana hukumnya.
Bermain Catur Membalikkan Badan
Jika kita menelusuri hukum catur dalam teks-teks fikih, hukum yang kita dapati umumnya menyamakan hukum catur dengan hukum bermain dadu. Namun, dalam kitab Syafi’iyyah seperti al-Majmu’ karya Imam al-Nawawi, kita tidak mendapati bahasan khusus mengenai catur. Pembahasan mengenai catur, dihubungkan dengan bagaimana hukum jual beli catur, serta apakah seorang pemain catur dapat diterima persaksiannya (al-Majmu’ Syarh al-Muhazzab: 20/228-230).  Pembahasan ini menunjukkan fakta penting, bahwa para ulama fikih tidak menghukumi sebuah jenis barang tertentu jika tidak ada nash yang jelas, tapi yang ditinjau adalah apa manfaat dan kegunaannya bagi umat muslim. Pola yang sama
Namun, jika dilihat dari sudut pandang dalil yang digunakan, banyak dari para ulama yang menyatakan kalau tidak ada dalil yang tegas mengharamkannya. Al-Munziri, seperti yang dikutip al-Bushiri dalam Ithaf al-Khirah al-Mahirrah menyatakan bahwa riwayat-riwayat yang menyatakan keharaman catur tidak ada yang sahih. Bahkan, lanjutnya bahwa hukum bermain catur bisa haram ketika dalam pelaksanaannya dicampuradukkan dengan kata-kata kotor, atau ada usur perjudian, atau melupakan waktu shalat, dan hal-hal munkar lainnya. Pendapat yang sama juga digunakan Imam al-Nawawi dalam al-Majmu’.
Sa’id bin Jubair, seorang Tabi’in adalah diantara tabi’in yang membolehkan permainan catur. Ada sebuah riwayat yang menyebutkan kalau cara ia bermain catur adalah dengan membalikkan tubuhnya (Kana Sa’id ibn Jubair yal’abu al-syathranj istidbaaran). Dari sini, al-Baihaqi dalam Sunan al-Kubra memasukkannya riwayat ini kedalam “bab perbedaan pendapat tentang permainan catur” (Bab al-Ikhtilaaf fi al-Shatranj). Di awal bab misalnya, al-Baihaqi – yang bermazhab Syafi’i dan tidak mengharamkan catur, hanya makruh saja – mengutip sebuah hadis dari al-Ma’qil al-Baahili tentang seseorang yang bertanya apa pendapat al-Hasan bin ‘Ali (cucu Rasulullah Saw.) tentang catur. Imam al-Hasan Ra. Menyatakan kalau catur tidak dilarang (laa yaraa bihaa ba’san), berbeda dengan dadu (nardashir) yang dihukum haram. (al-Baihaqi: 10/357).
Sementara yang mengharamkan, ada yang menyatakan bahwa catur adalah permainan orang-orang asing (lu’batu al-a’aajim). Riwayat lain menyebutkan bahwa permainan catur sama dengan permain-permainan setan. Tapi yang jelas, para ulama tidak bersepakat tentang status keharaman catur
Dalam diskusi tentang haram tidaknya permainan catur, al-Subki dalam fatwanya mendapatnya pertanyaan soal bagaimana hukumnya ketika seorang bermazhab Syafi’i bermain catur dengan orang yang bermazhab Hanafi (mazhabnya mengharamkan permainan catur), apakah ini sama saja dengan menolong orang lain dalam kemaksiatan ketika membuka perdagangan di saat umat Islam sudah bersiap berangkat ke masjid ? Jawaban Al-Subki, tentu tidak sama. Karena Dalam jual beli disaat shalat Jum’at, perkara ini diharapkan oleh kesemu mazhab. Sementara permainan catur antara orang bermazhab Hanafi dan Syafi’I, hanya satu pihak yang mengharamkan, yaitu Hanafi. Itu pun bagian dari ijtihadnya, sehingga boleh jadi keliru. (Taqiyyu al-Din al-Subki: 5/133).
Lihat Fungsinya  
Masih menurut Hamza Yusuf, sperti yang diucapkan oleh ulama pakar ushul fikih bahwa pengharaman permainan catur yang dilakukan oleh para ulama terdahulu banyak menggunakan dalil Qiyas (Analogi). Masalahnya, catur (arab: al-shatranj) tidak pernah disebutkan secara spesifik dalam hadis, apalagi Quran. Bahkan, riwayat-riwayat yang ada cenderung lemah bahkan palsu. Sementara, penggunaan qiyas catur dengan beberapa permainan lain seperti dadu ala Persia (nardashir) masih diperdebatkan sehingga ada yang berpendapat kalau penggunaan analogi ini tidak sah terhadap catur. Catur, bagi yang membolehkan dianggap sebagai sarana berlatih meningkatkan kecerdasan, mengatur strategi, dan bisa jadi malah bisa dianalogikan kedalam aktivitas yang disukai Nabi Saw., seperti memanah, berenang, dan berkuda. 
Akhiran, menarik untuk mengangkat riwayat al-Baihaqi bahwa untuk menilai apakah catur itu termasuk perjudian (arab: maysir) atau tidak, dengan riwayat yang dimasukkan kedalam bab Man kariha kulla maa la’iba al-naasu min al-hazzah (Mereka yang memakruhkan Permainan di waktu senggang). Banyak riwayat yang dikutip bahwa maysir – pada esensinya – adalah apapun yang melalainkan dari mengingat Allah Swt. dan beribadah (kullu maa alhaa al-naas ‘ani al-shalaati wa ‘an dzikrillaahi fahuwa maysir). Artinya, hadis ini bisa dijadikan kaidah untuk mencela apapun yang membuat waktu kita terbuang sia-sia. Di akhir kesimpulan paper-nya, Hamza Yusuf menyatakan bahwa kita yang sibuk dengan internet dan media sosial, berkemungkinan masuk kedalam bab ini. Wallahu A’lam




Oleh: Masrur Irsyadi, Peneliti Hadis di el-Bukhari Institute.

Share this post
:
Comments
0 Comments

Post a Comment

 
Konten boleh dicopy dan disebarkan untuk dakwah | Cantumkan www.muslimedianews.com
Copyright © 2013-2014. Muslimedia News - Media Islam | Voice of Muslim - All Rights Reserved
RSS | Sitemap | MMN dan Redaksi | Disclaimer | Contact | Iklan
Support IT : MK | JT | MT and IT Muslimedia News