Top News :
Home » , » Menegaskan Kembali Toleransi Kehidupan beragama

Menegaskan Kembali Toleransi Kehidupan beragama

Posted on Friday, 21 October 2016 | garis 06:00

Jakarta, Muslimedianews ~ Toleransi kehidupan beragama masih menjadi perbincangan serius beberapa tahun terakhir ini. Hal itu bermula dari adanya sejumlah aksi teror dan intimidasi yang dilakukan kelompok radikal baik terhadap umat agama lain, maupun terhadap kelompok tertentu diinternal umat Islam. Meskipun kelompok tersebut sangat kecil jumlahnya, namun fakta yang ada menyulitkan kita untuk menepis kesan dan tuduhan sejumlah kalangan yang disematkan terhadap Islam, terutama sejumlah kalangan Barat yang memandang bahwa Islam merupakan agama yang tak menghargai martabat manusia dan tak menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan. Islam dianggap sebagai agama yang menakutkan. Tak pelak, fobia terhadap Islam muncul dan meluas. Lalu apa dan bagaimana kita harus menjawab tuduhan-tuduhan dan stigma negatif yang disematkan terhadap Islam tersebut? 
Oleh karenanya, tulisan ini akan coba mengurai beberapa persoalan penting menyangkut toleransi. Uraian di dalamnya akan dimulai dengan pembahasan terkait kekeliruan tafsir agama yang dikembangkan dan mendasari kelompok radikal dalam melakukan aksi teror. Tak berhenti sampai di situ, pembahasan selanjutnya akan coba mengurai dan menghadirkan sejumlah fakta yang menunjukkan bahwa Nabi saw sangat memuliakan manusia, menjunjung tinggi nilai-nilai toleransi, bahkan membela kebebasan beragama.   
      
Kekeliruan Tafsir Agama

Harus segera dikatakan bahwa salah satu penyebab utama lahirnya kekerasan dan sikap intoleransi berawal dari kekeliruan bahkan keberingasan dalam memahami teks-teks suci keagamaan. Teks-teks suci keagamaan yang kerapkali menjadi dasar teologis bagi kelompok radikal tersebut ialah ayat-ayat pedang salah satunya ialah sebagai berikut. 

فَإِذَا لَقِيتُمُ الَّذِينَ كَفَرُوا فَضَرْبَ الرِّقَابِ 

Apabila kamu bertemu dengan orang-orang kafir, maka pancunglah batang leher mereka.  )QS, Muhammad, 4). 

Dengan berlandas tumpu pada makna literal ayat ini, mereka memahami bahwa membunuh umat agama lain memiliki basis legitimasi yang kuat dalam sumber otoritas Islam. Bom siap diledakkan dan pistol segera ditembakkan, baik terhadap umat agama lain, maupun terhadap umat Islam yang dianggap telah menyimpang. Mereka juga merasa bahwa apa yang tengah dilakukannya tersebut justru dalam rangka mengemban tugas suci ketuhanan dan mendapat jaminan Surga. Dari sini, dapat dikatakan bahwa pembacaan mereka terhadap ayat di atas tampak sangat dangkal, partikulatif, dan harfiah, lalu membuat generalisasi atasnya. Argumentasi mereka sangatlah kering dan konservatif. Oleh karenanya, harus diakui bahwa pola pembacaan semacam itu tak lain merupakan manifestasi keberingasan tafsir Agama.  

al-Quran memang banyak memuat ayat-ayat pedang, namun ketahuilah bahwa ia tidak turun dalam ruang yang kosong, melainkan dalam situasi dimana umat Islam tengah melakukan kontak fisik atau peperangan vis a vis umat agama lain. Oleh karenanya, generalisasi pengamalan ayat-ayat pedang dalam situasi damai seperti sekarang sesungguhnya merupakan kekeliruan besar bahkan bentuk kebodohan yang nyata terhadap teks-teks suci Islam.

 Sebagian mereka juga memahami bahwa ayat-ayat pedang yang memang turun pada priode Madinah tersebut telah menghapus ayat-ayat damai. Namun harap diingat bahwa pemahaman semacam itu sangat kontradiktif dengan prinsip dasar ajaran Islam yang memanusiakan manusia sebagai maha karya Tuhan dan  menjunjung tinggi nilai-nilai toleransi. 

Nabi Muhamad saw Menjunjung Tinggi Nilai-Nilai Toleransi

Toleransi, yang dalam bahasa Arab disebut dengan istilah al-Tasamuh merupakan salah satu inti ajaran Islam. Dalam fakta sejarah Islam, dapat dijumpai bahwa Nabi Muhamad saw sangat memuliakan manusia dan menjunjung tinggi nilai-nilai toleransi. Hal itu sebagaimana terrekam dalam sejumlah literatur hadis sebagai berikut. 

عن عَبْد الرَّحْمَنِ بْن أَبِي لَيْلَى قَالَ كَانَ سَهْلُ بْنُ حُنَيْفٍ وَقَيْسُ بْنُ سَعْدٍ قَاعِدَيْنِ بِالْقَادِسِيَّةِ فَمَرُّوا عَلَيْهِمَا بِجَنَازَةٍ فَقَامَا فَقِيلَ لَهُمَا إِنَّهَا مِنْ أَهْلِ الْأَرْضِ أَيْ مِنْ أَهْلِ الذِّمَّةِ فَقَالَا إِنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَرَّتْ بِهِ جِنَازَةٌ فَقَامَ فَقِيلَ لَهُ إِنَّهَا جِنَازَةُ يَهُودِيٍّ فَقَالَ أَلَيْسَتْ نَفْسًا

Dari ‘Abdurrahman bin Abi Laila berkata: ketika Sahl bin Hunaif dan Qais bin Sa’d sedang duduk di Qadisiyah, maka datanglah sekelompok orang yang lewat dihadapannya dengan membawa jenazah. Kemudian keduanya berdiri (untuk menghormati jenazah tersebut). Lalu keduanya ditegur bahwa jenazah yang lewat tersebut adalah orang kafir dzimmi.  Kemudian keduanya berkata: Sesungguhnya pernah ada jenazah lewat di hadapan Nabi saw, kemudian beliau berdiri, lalu ada sahabat yang memberitahu bahwa jenazah itu adalah seorang Yahudi, kemudian Nabi saw bersabda: Bukankah dia juga manusia?  (HR, Bukhari Muslim).
      
Secara referensial, hadis di atas dapat dijumpai dalam sejumlah kitab hadis tak terkecuali Shahih al-Bukhari dan Shahih Muslim. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa ia memiliki tingkat kualitas tinggi. Sementara itu, secara substansial, hadis di atas merrekam sebuah fakta historis bahwa Nabi saw pernah berdiri untuk menghormati jenazah yang lewat di hadapannya meskipun beragama Yahudi. Hal ini hendak menegaskan bahwa Nabi saw sangat memuliakan manusia meskipun telah mati dan berbeda keyakinan. Apa yang dilakukan Nabi saw tersebut juga sejalan dengan firman Allah swt. 

 وَلَقَدْ كَرَّمْنَا بَنِي آدَمَ

Dan sesungguhnya telah kami muliakan anak-anak Adam (al-Isra: 70). 

Inspirasi nilai-nilai toleransi juga dapat dijumpai pada saat Nabi saw membiarkan sekelompok Kristen Najran beribadah dalam mesjid. Hal itu sebagaimana terrekam dalam hadis yang diriwayatkan imam al-Baihaqi. 

عَنْ مُحَمّد بْنِ جَعْفر بْنِ الندى بن الندي قَالَ  لَمَّا قَدِمَ وَفد نَجْرَان عَلىَ رَسُوْلِ اللهِ دَخَلُوْا عَلَيْهِ مَسْجِدَهُ بَعْدَ الْعَصْرِ فَحَانَتْ صَلَاتُهُمْ فَقَامُوْا يُصَلُّوْنَ فِي مَسْجِدِهِ فَأَرَادَ النَاسُ مَنعَهُمْ فَقَالَ رَسُوْلُ الله دَعُوْهُمْ فَاسْتَقْبَلُوْا الْمَشْرِق فَصَلُّوْا صَلَاتَهُمْ 
 
Dari Muhammad bin Ja’far bin berkata: Ketika sekelompok Kristen Najran tiba mengunjungi Rasulullah saw, mereka langsung memasuki Mesjid setelah waktu ashar. Kemudian tibalah waktu sembahyang mereka. Lalu mereka pun langsung melakukan kebaktian di dalam mesjid. Para sahabat ingin melarang mereka, kemudian Rasulullah saw bersabda: “biarkanlah mereka (melaksanakan ibadah mereka)”,  kemudian mereka menghadap Timur dan melakukan sembahyang dalam mesjid. (HR, Baihaqi). 

Secara substansial, hadis ini membolehkan umat agama lain memasuki mesjid bahkan beribadah di dalamnya. Fakta tersebut tak lagi dapat diragukan kebenarannya. Hal ini juga kian menegaskan bahwa Nabi saw sangat menjunjung tinggi nilai-nilai toleransi. Lebih dari itu, fakta tersebut sekaligus menepis pandangan sejumlah kalangan Barat bahwa Islam tak menghargai keragaman dan eksistensi umat agama lain.  

Islam Membela Kebebasan Beragama 

Sesungguhnya kebebasan beragama memiliki dasar teologis yang kuat dalam al-Quran. Hal itu sebagaimana dijumpai dalam surat al-Baqarah ayat 256.

لا إِكْرَاهَ فِي الدِّينِ قَدْ تَبَيَّنَ الرُّشْدُ مِنْ الغَيِّ فَمَنْ يَكْفُرْ بِالطَّاغُوتِ وَيُؤْمِنْ بِاللَّهِ فَقَدْ اسْتَمْسَكَ بِالْعُرْوَةِ الْوُثْقَى لا انفِصَامَ لَهَا وَاللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ . (256)

Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam). Sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat. Karena itu, barang siapa yang ingkar kepada taghut dan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah berpegang pada buhul tali yang amat kuat yang tidak akan terputus. Dan Allah maha mendengar lagi maha mengetahui.  (QS, al-Baqarah: 256).
   
Secara substansial, ayat ini menegaskan terkait tidak adanya paksaan bagi seseorang untuk memeluk Islam. Hal itu, sebagaimana dikemukakan Ibn Katsir. Ia juga mengutip  riwayat dari Ibn ‘Abbas bahwa ayat di atas turun berkenaan dengan perempuan Anshar yang tidak punya anak. Kemudian ia berjanji bahwa sekiranya ia mempunyai anak, maka akan menjadikannya seorang Yahudi. Berawal dari kasus ini, maka turunlah ayat di atas. Sementara itu, dalam  riwayat lain yang juga bersumber dari Ibn ‘Abbas dijelaskan bahwa ayat di atas turun berkenaan dengan peristiwa seorang laki-laki Anshar bernama Abu Hushain. Konon Abu Hushain adalah seorang Muslim yang memiliki dua anak beragama kristen. Ia pun mengadu kepada Nabi saw dan berkata: Apakah dirinya boleh memaksa kedua anaknya agar memeluk Islam, sedangkan keduanya tetap menolak. Dari kasus ini, maka turunlah ayat di atas sebagai bukti tidak adanya paksaan dalam memeluk Islam. 
      
Tak hanya itu, persoalan lainnya yang harus segera dikemukakan ialah bahwa peperangan yang pernah dilakukan Nabi saw dan para sahabat vis a vis umat agama lain sesungguhnya tak dilatari karena faktor perbedaan agama, melainkan sebagai bentuk pembelaan diri dari berbagai macam tirani yang dilakukan kelompok non Muslim. Nabi saw memang berdakwah dan mengajak umat agama lain untuk memeluk Islam, namun  tak sekalipun memerangi dan memaksanya agar memeluk Islam. Dengan demikian, jelaslah bahwa Islam dengan sangat tegas membela skebebasan beragama.


Oleh: Mujiburrahman, Peneliti Hadis di el-Bukhari Institute .

Share this post
:
Comments
0 Comments

Post a Comment

 
Konten boleh dicopy dan disebarkan untuk dakwah | Cantumkan www.muslimedianews.com
Copyright © 2013-2014. Muslimedia News - Media Islam | Voice of Muslim - All Rights Reserved
RSS | Sitemap | MMN dan Redaksi | Disclaimer | Contact | Iklan
Support IT : MK | JT | MT and IT Muslimedia News