Top News :
Home » , , » Muaz bin Jabal Koreksi Umar Soal Hukum Rajam

Muaz bin Jabal Koreksi Umar Soal Hukum Rajam

Posted on Saturday, 22 October 2016 | garis 08:30

Jakarta, Muslimedianews ~ Muaz bin Jabal dikenal sebagai salah satu ahli hukum yang langsung diberi predikat oleh Nabi. Pujian Nabi mengenai Muaz terekam banyak di dalam hadis-hadisnya. Di antaranya, Nabi pernah bersabda, “…Orang yang paling paham mengenai halal dan haram di antara umatku itu Muaz bin Jabal…” (HR Tirmidzi, Nasai, dan Hakim). Selain itu, Nabi juga pernah bersabda, “Ambillah (pemahaman) Alquran dari empat sahabat, Abdullah bin Mas’ud, Muaz bin Jabal, Ubay bin Ka’ab, dan Salim” (HR Bukhari). 

Seperti dicatat dalam sejarah, Muaz baru masuk Islam pada tahun ke-3 hijriah di Madinah. Saat itu, usia Muaz masih muda belia, yaitu 18 tahun. Karena kecemerlangannya, Muaz sempat diutus oleh Nabi untuk mengajari agama pada masyarakat Mekah pada tahun 8 hijriah, yang bertepatan dengan perang Hunain. Pada tahun 10 hijriah, sebelum Rasulullah Saw. wafat, Muaz juga sempat diutus menjadi pendidik agama untuk masyarakat kota al-Janad, Yaman Utara. 

Saat mengutus Muaz menjadi dai di Yaman Utara, Rasulullah sempat bertanya kepada Muaz, “Jika Anda dihadapkan suatu permasalahan hukum, bagaimana Anda memutuskannya?” “Saya pasti akan merujuk nilai-nilai keadilan yang terdapat dalam Alquran dulu, Rasul,”jawab Muaz. “Kalau di dalam Alquran tidak ada, bagaimana Anda memutuskan suatu permasalahan hukum?” tanya Rasul kembali. “Saya akan mencari rujukannya dalam Sunahmu, Rasul,” lanjut Muaz menjawab. “Kalau tidak ditemukan juga dalam Sunahku bagaimana?” Rasulullah mendesak. “Saya berupaya untuk ijtihad dengan pendapatku sendiri dan berusaha untuk tidak sembrono,” jawab Muaz rendah hati. (HR Abu Daud dan Tirmidzi). Hadis ini menjadi salah satu dalil bolehnya berijtihad menggunskan qiyas bagi yang memiliki kapasitas keilmuan Islam yang memadai yang tercatat dalam buku-buku Ushul Fikih. 

Atas bekal legalitas dari Nabi dan keilmuan yang mumpuni, suatu saat setelah Nabi wafat diceritakan bahwa Muaz bin Jabal pernah mengoreksi putusan Umar untuk merajam seorang wanita hamil yang ditinggal suaminya selama dua tahun dan tidak pulang-pulang. Saat itu, masyarakat sudah siap untuk merajam wanita tersebut yang diduga berzina, namun tidak diketahui dengan siapa wanita itu berzina. Umar yang sudah datang di lokasi wanita tersebut hampir saja mengamini para sahabat lain yang ingin merajam wanita itu. Untung saja, Muaz tidak terlambat datang menghampiri Umar. 

Mu'az mengingatkan Umar yang hampir tergesa-gesa memberikan keputusan, “Sahabatku, Umar, Anda berhak menghukum rajam wanita ini, tapi ingat janin yang ada di dalam kandungan wanita itu tidak berdosa sama sekali. Apakah Anda rela janin tersebut meninggal bersama ibunya?” Akhirnya, Umar dan para sahabat yang lainnya menerima saran dan pandangan Muaz untuk menunda merajam wanita tersebut. Setelah melahirkan, ternyata anak itu mirip bapaknya yang meniggalkan anak dan istrinya selama dua tahun. Tidak disangka, bapak anak yang baru lahir itu pun kembali lagi dan berkumpul bersama anak dan istrinya. 

Pendapat Muaz ini kemudian disepakati ulama fikih bahwa wanita yang sedang mengandung itu tidak boleh dirajam, karena alasan kemanusian. Bila setelah melahirkan, wanita itu terbukti melakukan zina dengan pria lain, apakah wanita itu wajib dirajam? Menurut Imam Syafi’i, wanita tersebut tidak boleh dirajam sampai anaknya itu tercukupi ASI-nya. Namun, bila keluarga atau orang lain ada yang menjamin ASI anak itu, maka ibunya boleh langsung dirajam. 

Perlu diketahui, hukuman rajam diterapkan itu bagi pasangan suami-istri yang melakukan perselingkuhan dengan lelaki atau wanita lain yang bukan pasangannya. Di masa Nabi, hukuman rajam memang pernah diberlakukan. Hal ini dialami oleh wanita dari suku Juhainah dan suku Ghamidiyah. Dalam waktu yang berbeda, keduanya mengaku khilaf dan menghadap Nabi untuk diterapkan hukum rajam bagi keduanya. Artinya, keduanya dirajam bukan atas dasar paksaan dari Nabi atau sahabat yang lainnya. Hal itu murni dari kesadarannya masing-masing. Artinya, kedua wanita itu mengaku bersalah, bertobat, dan merasa dirinya kotor karena perbuatannya itu. Kedua wanita itu meninggal dalam keadaan bertobat, husnul khatimah. 

Sebaiknya, orang yang melakukan zina itu tidak membuka aibnya sendiri kepada orang lain. Ketika hanya dia dan pasangan zinanya yang mengetahui perbuatannya, sebenarnya dengan bertobat secara sungguh-sungguh, berjanji tidak mengulanginya kembali, dan merasa hina di hadapan Allah, insya Allah dosanya diampuni. Zina muhsan itu memang dosa besar, namun menurut Imam an-Nawawi, ulama sepakat bahwa orang yang melakukan zina bila bertobat secara sungguh-sungguh maka dosanya akan diampuni. Karenanya, Indonesia yang tidak menerapkan hukum had rajam tidak dapat dikatakan bahwa Indonesia tidak menerapkan hukum Islam secara kaffah. Pelaku zina muhsan atau perselingkuhan di Indonesia hanya dihukum sembilan bulan. 

Seberat apa pun hukuman yang diberikan, namun tidak ada kesadaran dalam diri sendiri untuk menjadi orang baik, maka sampai kapan pun orang itu akan mengulangi perbuatannya. Sebaliknya, seringan apa pun hukuman yang diberikan, jika orang yang dihukum itu mau instrospeksi diri, maka hidupnya pun akan menjadi lebih baik. Oleh karena itu, pada hakikatnya, hukuman yang Allah berikan pada manusia itu untuk kemaslahatan kehidupan manusia itu sendiri. Karenanya, sikap bijak Muaz di atas dapat kita jadikan pelajaran bahwa ketergesaan dalam memutuskan suatu hukum itu akan berakibat fatal, apalagi nyawa taruhannya, sehingga mengakibatkan mafsadat yang tak diinginkan. Wallahu a’lam. 



Oleh: Ibnu Kharish, Peneliti el-Bukhari Institute dan Redaktur Pelaksana Bincangsyariah.com. 
 
   






Share this post
:
Comments
0 Comments

Post a Comment

 
Konten boleh dicopy dan disebarkan untuk dakwah | Cantumkan www.muslimedianews.com
Copyright © 2013-2014. Muslimedia News - Media Islam | Voice of Muslim - All Rights Reserved
RSS | Sitemap | MMN dan Redaksi | Disclaimer | Contact | Iklan
Support IT : MK | JT | MT and IT Muslimedia News