Top News :
Home » , » Prof. Mahmud Yunus: Penyusun Kurikulum PAI Sekolah Umum

Prof. Mahmud Yunus: Penyusun Kurikulum PAI Sekolah Umum

Posted on Thursday, 27 October 2016 | garis 20:53

Jakarta, Muslimedianews ~ Dua publik yang perlu berterima kasih kepada sosok ini barangkali adalah publik sekolah umum (SD-SMA) dan pesantren. Untuk publik yang pertama, ia adalah orang yang berperan dalam memasukkan pelajaran Agama Islam (dikenal dengan PAI) ke lingkungan sekolah umum. Hasilnya, adalah sekolah yang di Indonesia dikelola di bawah Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan ini tetap mengenal pelajaran agama sampai saat ini, dengan bobot dua jam pelajaran. Untuk publik yang kedua, selain karya beliau yang lain dalam bahasa Arab, Kamus Arab-Indonesia yang beliau susun boleh jadi menjadi kamus bahasa Arab yang menggunakan aksara latin pertama di Indonesia. Kedudukan kamus ini menjadi opsi kamus bagi para santri selain kamus yang menggunakan aksara arab-melayu seperti Qamus al-Marbawi (saya berkeinginan membuat satu tulisan tentang penulisnya). 
Sosok ini bernama Prof. Dr. Mahmud Yunus, ulama asal Padang yang pernah menjadi Rektor IAIN Padang pada tahun 1967-1970. Jika anda ingin menziarahi makamnya, ada dapat menemukannya di kompleks pemakaman UIN Syarif Hidayatullah di Ciputat. Ia adalah sosol ahli tafsir, pendidik, bahkan leksikograf (pakar dibidang kamus). Ia menulis kamus dengan judul Kamus Arab-Indonesia, ditujukan bagi para pelajar bahasa Arab. 
Putra Minang asli Batusangkar ini lahir pada 27 Februari 1899. Sejak muda, ia sudah dekat dengan keluarga ibunya. Ia mengawali perjalanan mencari ilmunya dengan belajar kepada kakeknya hingga khatam Quran pada umur 7 tahun. Setelah itu masuk sekolah Dasar, namu memutuskan untuk keluar karena menurutnya pelajaran sekolah sangat membosankan dan mengulang pelajaran yang sudah ia ketahui. Tapi di umur 14 tahun, ia sudah diangkat menjadi guru di sekolah bernama Madras School, bahkan telah ikut berkumpul bersama Persatuan Guru Agama Islam (PGAI) di Sumatera Barat dan berinisiatif membuka perguruan Thawalib di kampungnya, Sunganyang pada usianya yang ke-20. 

Mesir: Orang Indonesia Pertama Berijazah Darul Ulum

“Kemudian berhenti usaha saya itu, karena melanjutkan ilmu pengetahuan ke Mesir (th. 1924). Mula2 saya belajar di Al-Azhar setahun lamanya. Diakhir tahun saya masuk ujian, Alhamdu lillah saya lulus dalam ujian itu dengan mendapat SYAHADAH ‘ALIMYAH (titel ‘alim dan syekh) (th. 1925). Ilmu2 yang diuji, yaitu 12 ilmu Agama dan bahasa Arab telah saya pelajari, bahkan telah saya ajarkan juga di Indonesia sebelum berangkat ke Mesir. Karena itu saya belum merasa puas dengan mendapat Syahadah ‘Alimyah itu.” (Mahmud Yunus, Mukadimah Tafsir Quran Karim (Jakarta: PT. Hidakarya Agung, 1982), III)

Beliau tidak lama belajar di Al-Azhar, Mesir ketika berangkat di tahun 1924. Selama satu tahun, beliau sudah lulus ujian syahadah ‘alimyah (setingkat magister saat ini). Beliau pun memutuskan untuk mengambil kuliah di Darul Ulum, sebuah institusi pendidikan milik pemerintah yang mengkader guru-guru agama dan bahasa Arab yang mengajar di sekolah-sekolah milik Pemerintah. Menurut Mahmud Yunus, waktu itu ialah satu-satunya orang Indonesia disana, selebihnya orang-orang Mesir dan mereka semua ikatan dinas. (Mahmud Yunus: III)

Pendidikan di Darul Ulum ini juga yang menginspirasinya untuk membuat sebuah skema pelajaran Agama Islam di sekolah-sekolah umum ketika ia pulang ke Indonesia. Di Darul Ulum ini, ia tidak hanya belajar pelajaran-pelajaran Agama dan Bahasa Arab, namun ilmu-ilmu lain diluar tataran pelajaran agama, seperti ilmu pendidikan, psikologi (ilmu jiwa), dan kesehatan. Jika kita melihat sejarah pendidikan Islam (dalam arti: sekolah madrasah yang dikelola oleh Kementerian Agama), dahulu memiliki periode yang disebut PGA (Pendidikan Guru Agama). Sekolah model PGA kemungkinan besar meniru konsep yang ditemukan oleh Mahmud Yunus di Darul Ulum, karena diharapkan siswa yang belajar di PGA mampu menjadi guru Agama ketika lulus. Disana tidak hanya mempelajari ilmu-ilmu agama dan Bahasa Arab, tetapi ilmu lain seperti yang diajarkan di Darul Ulum. 

Memasukkan PAI ke Sekolah Umum
Pernah menjadi guru agama, dan sampai membuat persatuan guru sebelum kemerdekaan, menjadi latar belakang Mahmud Yunus berkeingingan memasukkan kembali pelajaran Agama Islam ke Sekolah Umum, pasca kemerdekaan. Usahanya tidak hanya bersifat lokal di Sumatera Barat, namun – lewat Departemen Agama – ia mengusahakan hingga tingkat Nasional. Di tahun 1950, ia mewakili langsung Departemen Agama bersama dengan Mr. Hadi dari Kemendikbud untuk mengkompromikan masuknya pelajaran Agama ke kurikulum nasional. Di tahun 1951, kurikulum agama ini disahkan. 
Hasilnya, adalah kurikulum PAI yang dikenal di sekolah umum dengan bobot 2 jam/minggu. Jumlah jam pelajaran ini, tentu sangat jauh kualitasnya jika dibandingkan dengan sistem kurikulum Pesantren salaf, yang memberikan porsi pendidikan agama sangat banyak dan dibagi sesuai dengan konsentrasinya mulai dari akidah, fikih, atau bahasa Arab dengan segala cabangnya. Kurikulum PAI yang kita kenal saat ini berupaya mensintesa seluruh materi-materi keagamaaan. Maka jika kita lihat, selama satu tahun PAI akan mempelajari al-Quran, Hadis, Fikih/Hukum Islam, dan Sejarah Islam. Penekanannya adalah bagaimana para siswa mengetahui ayat-ayat dalam berbagai topik keislaman dan kontemporer, bagaimana tata cara ibadah tertentu, hingga sejarah keislaman mulai dari sejarah para Nabi hingga sejarah Islam di Indonesia dan berbagai Dunia. 

Kamus Arab-Indonesia: Kamus Arab Beraksara Latin
Hemat penulis, Kamus Arab-Indonesia karya Mahmud Yunus, ini masih menjadi pilihan bagi mereka yang minat mempelajari bahasa Arab di tingkat pemula, selain kamus Arab-Indonesia al-Munawwir yang lebih tebal, atau Kamus Munjid berbahasa Arab-Arab untuk mereka yang ingin mempelajari berbahasa Arab hingga tingkat menulis karangan atau berkomunikasi dengan penutur bahasa Arab (native speaker/al-naatiqun bihaa). 
Kamus ini ditulis sejak tahun 1929 saat ia belajar di Mesir dengan judul Qamus Sahabi Arab-Melayu. (Kamus Arab-Indonesia: 4 Setelah di Indonesia, permintaan menerbitkan kamus itu semakin besar, dan mendorongnya untuk melakukan revisi di berbagai sisi kekurangannya. sehingga mudah dipahami dan disertakan gambar yang sebagian dinukil dari al-Munjid fi al-Lughoh, yang ditulis pertama kali oleh Louis Ma’luf, untuk membantu memahami kosakata. Sisi lain, ia memberikan dasar-dasar ilmu morfologi bahasa (Sharaf) dibagian terakhir, karena sasarannya memang bagi mereka yang sedang belajar bahasa arab.

Kiprah dan Karangan
Selama hidupnya, Prof. Dr. Mahmud Yunus mengabdikan hidupnya untuk pengembangan pendidikan agama Islam. Ketika Kementerian Agama membentuk lembaga bernama ADIA (Akademi Dinas Ilmu Agama, yang menjadi cikal bakal berdirinya IAIN di Jakarta) di Jakarta, ia ditugaskan langsung memimpin lembaga itu dari tahun 1957-1960. 
Mahmud Yunus juga memiliki reputasi internasional karena mampu berkomunikasi berbahasa Arab dengan baik. Ketika memimpin ADIA, ia sering diundang ke berbagai negara-negara Timur Tengah. Dalam sebuah konferensi yang dihadirinya, ia menyampaikan makalah berjudul al-Israailiyyat fi al-Qur’an dan mendapatkan sambutan yang serius dari para hadirin. 
Sebagai seorang yang mahir berbahasa Arab, pakar kurikulum, ia memiliki perhatian kepada penulisnya buku daras berbagai pelajaran agama baik dalam bahasa Indonesia maupun bahasa Arab. Kekhasannya adalah menyajikan buku daras yang ringkas dan mudah dipahami oleh para pembacanya. Contohnya adalah al-Fiqh al-Wadhih, sebuah buku daras fikih yang disusun secara ringkas, serta ‘Ilmu Mushthalah al-Hadith dibidang ilmu hadis. 
Di bidang tafsir, seperti yang ia akui, telah lama ia tekuni baik sebelum maupun sesudah pulang dari Mesir (karya ini diterbitkan pertama kali tahun 1973, dan telah mulai ditulis di tahun 1920). Karya tafsirnya yang bernama Tafsir al-Qur’an Karim, pada awalnya menuai kritik dari beberapa pihak, setidaknya dua kali mengenai status kebolehan menerjemahkan al-Qur’an kedalam bahasa Indonesia. Di kritikan yang pertama, bersumber dari seorang ulama di Yogyakarta. Kritikan itu namun tidak pernah sampai ke tangannya setelah dikirim ke Departeman Agama. Namun, lewat kritikan ini – menurutnya – berpengaruh kepada keberanian penerbit untuk meneruskan pencetakan buku ini, hingga akhirnya penerbitan diambil alih oleh Penerbit Al-Ma’arif, Bandung. (Mahmud Yunus: IV)
Kritikan berikutnya justru datang dari Jakarta. Seorang ulama Jatinegara menyampaikan kritikannya ini ke Departeman Agama. Namun, Mahmud Yunus menjawab langsung kritikannya ini dengan baik dengan mengirimkan surat sampai ditembuskan ke Departemen Agama, pada waktu itu, hingga ulama dari Jatinegara ini tidak merespon kembali. (Mahmud Yunus: IV)
Ia berkeyakinan, demi tujuan dakwah ke berbagai belahan dunia penerjemahan al-Qur’an ke bahasa negara yang dituju menjadi sangat penting (Prakata Tafsir al-Qur’an Karim). Pada masanya, Tafsir Qur’an Karim menjadi tafsir dan terjemah al-Qur’an pertama yang ditulis dengan bahasa dan aksara Indonesia. bahkan tafsir ini telah menyertakan indeks tematik, yang memasukkan didalamnya tema-tema ilmu alam, ilmu ekonomi, dan ilmu tersebut yang dimasa itu masih tidak populer disertakan kedalam pembelajaran ilmu agama.

Akhir Hayat: Mimpi Melihat Mekkah
Beberapa sumber yang kami temukan menyatakan bahwa Mahmud Yunus meninggal di tahun 1973, dan dimakamkan di Pemakaman UIN Jakarta. Ketika ia baru pulang dari lawatannya ke luar negari, ia jatuh sakit. Pada hari menjelang wafatnya ia sempat terbangun lalu berseloroh “Saya di Mekkah ! Saya di Mekkah !”. Padahal, ia sedang terbaring di kamarnya. Sesaat setelah itu, ia menghembuskan nafas terakhir. Semoga kita bisa meneladani sikap istiqamah dan kesungguhan beliau, lahu al-faatihah. 




Oleh: Masrur Irsyadi, Peneliti Hadis di el-Bukhari Institute.

Share this post
:
Comments
0 Comments

Post a Comment

 
Konten boleh dicopy dan disebarkan untuk dakwah | Cantumkan www.muslimedianews.com
Copyright © 2013-2014. Muslimedia News - Media Islam | Voice of Muslim - All Rights Reserved
RSS | Sitemap | MMN dan Redaksi | Disclaimer | Contact | Iklan
Support IT : MK | JT | MT and IT Muslimedia News