Top News :
Home » » Dulu Konflik Ideologis Ulama sangat Bermartabat, Tak Libatkan Massa

Dulu Konflik Ideologis Ulama sangat Bermartabat, Tak Libatkan Massa

Posted on Sunday, 13 November 2016 | garis 21:40

Muslimedianews.com ~ Aksi damai 411 lalu perlu dilihat dari perspektif Politik Islam Nusantara. Isu seperti itu juga terjadi dalam pilkada tahun sebelumnya. Tapi tidak seberat yang terjadi tahun ini.

Demikian disampaikan Zastrouw al-Ngatawi dalam Tadarus Islam Nusantara yang diadakan Pascasarjana STAINU Jakarta bertema "Dinamika Politik Pilkada DKI Jakarta" di gedung PBNU II, Jalan Amir Hamzah No. 5, Jumat (11/11) malam.

Jika melihat ke belakang, kata dia, rangkain sejarah panjang dari berdirinya kerajaan-kerajaan Islam, NU, MIAI hingga lahirnya NKRI menjadi konstruksi politik Islam Nusantara. Menurutnya, dulu saat terjadi konflik idiologis antarulama itu tidak melibatkan massa. Begitu juga saat ada perbedaan tafsiran terkait nash.

"Misalnya perbedaan paham antar-Wali Sanga dengan Siti Jenar yang berbeda dalam prinsip ideologis. Begitu juga perbedaan paham antara Syeikh Al-Fanshuri dengan As-Sinkili. Adanya isu itu cukup dilokalisir hingga tidak melibatkan massa," ungkapnya.

Perjalanan historis para Wali Sanga dengan Kesultanan Demak menjadi titik tolak politik Islam Nusantara. Ciri politik Islam Nusantara adanya hubungan antara keraton dan ulama. Wali Sanga misalnya menjadi back up Raden Fatah.

"Ciri lain dari politik islam nusantara itu tidak melegitimasi kekuasaan dengan Al-Qur'an. Para sultan dulu menciptakan mitologi untuk melegitimasi kekuasaannya. Itu dilakukan untuk menghindari penistaan terhadap Al-Qur'an" tambahnya.

Dengan begitu bisa dikatakan ilmu politik Islam Nusantara memiliki karakter yang khas. Pertama, lebih mengutamakan kearifan dibanding dengan tuntutan legal formal syariah.

Kedua, mengutamakan pluralitas dibanding sektarian. Ketiga, kemampuan merajut kemajemukan nusantara. Keempat, tidak menajamkan rasionalitas semata tapi juga spiritualitas rasa.

Dalam kesempatan yang sama Ahmad Suaedy mengatakan, Bhineka Tunggal Ika sedang mendapatkan ujian berat.

"Bhineka Tunggal Ika ditantang oleh isu-isu sektarianisme. Ini menjadi ujian demokrasi yang berat," tegasnya.

Dari aksi 411 bisa dianalisis bahwa tantangan pilkada saat ini lebih berat dibanding sebelumnya. Isu sektarian sudah sangat nampak dengan ratusan ribu orang berdemo beberapa waktu lalu. (Suhendra/Abdullah Alawi)

sumber nu.or.id

Share this post
:
Comments
0 Comments

Post a Comment

 
Konten boleh dicopy dan disebarkan untuk dakwah | Cantumkan www.muslimedianews.com
Copyright © 2013-2014. Muslimedia News - Media Islam | Voice of Muslim - All Rights Reserved
RSS | Sitemap | MMN dan Redaksi | Disclaimer | Contact | Iklan
Support IT : MK | JT | MT and IT Muslimedia News