BREAKING NEWS
latest

728x90

468x60

Thursday, November 10, 2016

Ijazah 'Senjata' Bambu Runcing dibalik Resolusi Jihad

Muslimedianews.com ~ Untold Story 10 November

Saya menyangka bahwa perjalanan fatwa Resolusi Jihad berjalan mulus dan lancar, karena kita tidak mengetahui sejarahnya.

Gus Sholahuddin meriwayatkan dari ayahnya Kiai Mujib Ridlwan dan kakeknya Kiai Ridlwan Abdullah (pencipta lambang NU). Saat 3 kiai, Kiai Wahab, Kiai Ridlwan dan Kiai Asnawi sowan ke Jombang meminta kepada Hadlratusy Syaikh KH Hasyim Asy'ari untuk mengeluatkan fatwa Jihad, maka Kiai Hasyim bertanya: "Kalau Fatwa Jihad sudah dikeluarkan, kita mau berperang dengan apa? Senjata tidak ada, peluru tidak punya, prajurit sudah banyak yang gugur. Perang bagaimana? Semua kiai terdiam sejenak.

Kiai Wahab menjawab: "Kita punya wirid dan hizib, kiai". Kemudian Kiai Hasyim bertanya: "Apa sudah waktunya kita mengeluarkan itu?". Kiai Wahab memantabkan: "Kalau bukan sekarang, kapan lagi, kiai?.

Kiai Hasyim menyuruh para kiai tersebut untuk sowan ke Kiai Subeki Para'an Temanggung. Setelah ditanya untuk mengeluarkan senjata dibuat perang, Kiai Subeki menjawab: "Senjata apa yang saya punya? Yang ada di belakang rumah saya ini berupa barongan (rimbunan bambu). Akhirnya beliau yang memberi ijazah 'senjata' Bambu Runcing.

Setelah Fatwa Jihad dikeluarkan, maka ribuan kaum Santri berduyun-duyun berangkat ke Surabaya, untuk perang. Di kawasan Jl. Bubutan kantor HBNU pertama, banyak yang diungsikan dari kalangan wanita, anak kecil dan orang tua. Sementara rumah mereka diinapi ribuan Santri yang akan perang.

Ketika perang meletus, maka para Santri yang maju ke barisan terdepan peperangan 10 November dan banyak dari Santri yang gugur sebagai Syuhada', sebagaimana dalam Resolusi Fatwa Jihad 22 Oktober, yang kita peringati sebagai Hari Santri.
Gus Sholahuddin

Ust. Mummad Ma'ruf Khozin, Santri Ploso Kediri
« PREV
NEXT »

No comments