Top News :
Home » , » ISIS dan Intervensi Militer AS di Suriah

ISIS dan Intervensi Militer AS di Suriah

Posted on Friday, 18 November 2016 | garis 14:28

Muslimedianews.com ~ Di saat operasi pembebasan kota Mosul baru berusia tiga minggu di Irak, tiba-tiba Amerika Serikat (AS) memberi lampu hijau dan mendukung Pasukan Demokratik Suriah (SDF) untuk melancarkan operasi serupa pembebasan kota Raqqah dari Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS).

Kota Raqqah telah diduduki ISIS sejak Januari 2014, sebuah kota kaya minyak yang dihuni 200 ribu jiwa dan mayoritas adalah etnis Arab. Di kota ini diperkirakan ada 5.000 militan ISIS.

SDF merupakan milisi bersenjata sekutu AS yang secara fungsional didominasi oleh petempur Kurdi Suriah (YPG). SDF mengumumkan secara terbuka dimulainya operasi merebut Raqqah pada Rabu (6/11/2016) di kota Ain Issa, yang hanya berjarak 40 kilometer dari benteng pertahanan ISIS dengan sandi “Wrath of Euphrates”.

Perjuangan menumpas ISIS di Suriah sebenarnya menyajikan tantangan yang berbeda bagi AS. Lain halnya di Irak, di mana AS bisa berkoalisi dengan rezim. Keberadaan rezim Suriah telah lama tidak diakui AS.

AS meyakini kota Raqqah adalah “mercusuar” ISIS, pusat komando ISIS di mana teror global dioperasikan. Dengan kata lain, bagi AS, satu-satunya kunci melumpuhkan ISIS adalah merebut kota ini.

Ketika operasi Mosul digelar, banyak pengamat mempercayai operasi ini akan memiliki dampak yang cukup besar. Selain dihantui masalah pengungsi dan banyaknya warga sipil yang rentan menjadi korban pertempuran, ada kekhawatiran para jihadis ISIS eksodus dan melarikan diri menyeberang ke negara tetangga, yakni Suriah.

Kota Mosul di Irak adalah kota terbesar di antara kota-kota yang dikontrol ISIS. Dengan populasi lebih dari satu juta penduduk, diperkirakan ada 10 ribu jihadis ISIS bersarang di Mosul. Bisa dibayangkan bagaimana jika ISIS terusir dari kota tersebut.

Analisis ini rupanya semakin memperkuat alasan AS untuk segera memulai operasi militer merebut Raqqah. Pejabat militer AS menyebut bahwa operasi militer Raqqah sekaligus untuk menutup “pintu belakang” yang melarikan diri dari Mosul.

Meski operasi sudah berjalan, banyak pengamat masih menyangsikan keputusan AS mempercayakan SDF dalam operasi ini. Kenapa bukan Turki, sekutu AS di NATO, yang saat ini juga sedang melancarkan operasi serupa, yakni menumpas ISIS di Suriah.

Saya menilai, jika AS menunggu militer Turki bergerak menuju Raqqah, ini akan membutuhkan waktu cukup lama. Mereka harus melewati beberapa kota yang masih dikuasai ISIS dan harus menyeberangi sungai Tigris. Posisi militer Turki masih 180 km di barat Raqqah. Sementara AS berpandangan saat ini adalah momentum yang tepat memerangi ISIS. Intervensi militer secara bersamaan di Mosul dan Raqqah diharapkan membuat ISIS kewalahan.

Di samping itu, melibatkan Turki dalam operasi gabungan SDF juga hal yang mustahil, mengingat kedua sekutu AS ini merupakan musuh bebuyutan.

Kenapa SDF yang didominasi petempur Kurdi Suriah (YPG) bersedia memimpin pertempuran untuk Raqqa? Dugaan kuat ini sebagai langkah strategis mereka untuk memenangkan pengakuan politik mereka di Suriah, karena mereka saat ini membutuhkan dukungan AS untuk membangun pemerintahan sendiri.

Yang pasti, pertempuran Raqqa bisa berlangsung lama dan tentu memakan biaya besar. Awal tahun ini saja pejuang SDF membutuhkan waktu lebih dari dua bulan untuk merebut kota Manbij, yang jauh lebih kecil dari Raqqah.

Banyak yang mengkhawatirkan ketika SDF (yang didominasi milisi Kurdi) memasuki Raqqah akan terjadi penolakan dari penduduk lokal yang mayoritas etnis Arab. Tapi rupanya AS bergeming atas isu ini, prioritas AS hanya ISIS harus diusir dari kota ini.

Padahal Raqqah bukan Mosul dan Suriah bukan Irak. Setelah membebaskan Mosul, melalui pemerintah Irak, AS masih memiliki kemampuan untuk membangun kembali Mosul dan memulai proses rekonsiliasi. Tapi, di Suriah, AS tidak memiliki kemampuan seperti itu.


Penulis ; Iqbal Kholidi
pemerhati terorisme dan politik Timur Tengah
Foto; Pengungsi Irak yang meninggalkan kekerasan di Mosul dan pengungsi Suriah yang melarikan diri dari daerah yang dikuasai oleh ISIS di Deir al-Zor, membeli makanan dan air di dekat perbatasan Irak, di Wilayah Kepemerintahan Hasaka, Minggu (23/10). [ ANTARA FOTO/REUTERS/ Rodi Said ] via geotimes.co.id

Share this post
:
Comments
0 Comments

Post a Comment

 
Konten boleh dicopy dan disebarkan untuk dakwah | Cantumkan www.muslimedianews.com
Copyright © 2013-2014. Muslimedia News - Media Islam | Voice of Muslim - All Rights Reserved
RSS | Sitemap | MMN dan Redaksi | Disclaimer | Contact | Iklan
Support IT : MK | JT | MT and IT Muslimedia News