Top News :
Home » , » Kenali Strategi dan Taktik ISIS untuk Syrianisasi Indonesia, 6 Cara Mencegahnya

Kenali Strategi dan Taktik ISIS untuk Syrianisasi Indonesia, 6 Cara Mencegahnya

Posted on Monday, 14 November 2016 | garis 10:24

Muslimedianews.com ~ Kamis (20/10/2016) pagi, seorang terguga teroris yang bersal dari Anshor Daulah Indonesia (ADI/simpatisan ISIS) menyerang Kapolsek Tangerang dan dua anggotanya di Pos Polisi Yupentek, Cikokol, yang terletak di Jalan Perintis Kemerdekaan, Tangerang. Penyerangan itu dapat menjadi potret masa depan situasi di Indonesia seandainya ISIS berhasil menjadikan Indonesia sebagai Syria jilid II.

Sebelum semuanya terlambat, semua upaya syrianisasiIndonesia yang sedang dilakukan oleh para simpatisan ISIS harus dihentikan.

KENALI STRATEGI DAN TAKTIK  
Mengenali stategi dan taktik apra simpatisan ISIS untuk mengubah Indonesia menjadi medan konflik seperti Syria merupakan langkah awal dalam menanggulangi bahaya ISIS dan para simpatisan-nya.

Strategi besar pada simpatisan ISIS dalam protek syrianisasi Indonesia meliputi propaganda kebencian (hete speech), seruan melakukan kekekerasan (hate crime), dakwah takfiri (pengkafiran), penciptaan teror sosial dan penggulingan pemerintah.

Propaganda yang dimotori ISIS ini bersifat masif, baik melalui perterjemahan buku-buku, majalah-majalah ISIS seperti Dabiq, bahkan media-media sosial, termasuk grou-group teleggram dan WA untuk menjangkau target yang lebih luas sekaligus menghindari pantauan dan pelacakan arapat kepolisan.

Buku berjudul Ayaturrahman fi Jihadis Suriah, adalah salah satu diantara sekian banyak propaganda yang sangat menguntungkan bagi para pembela ISIS di indonesia.

Selain itu dakwah takfiri tersebut bertjuan untuk merekrut anggota2 baru dan menyiapakan umat Islam Indonesia agar menerima paham takfiri ISIS.

Melalui kajian-kajian di masjid dan diskusi-dikusi online dalam grup-group telegram sepert group Pembela Tauhid (GPT), Group Khilafah Islamiyah (KI) dan group Mudik bareng, para simpatisan ISIS mengajak masyarakat untuk turut mendukung ISIS sekaligus mengkafirkan siapa saja yang tidak sepaham dengan mereka.

Karena itulah, saya tidak heran mengapa selama ini isis mengkafirkan tokoh-tokoh Islam moderat dari kalangan semisal NU, Muhammadiyah, atau MUI. Jangankan ormas-ormas tersebut, tokoh=tokoh dari ormas-ormas yang selama ini dilabeli sebagai kelompok radikal semacam FPI, Jamaah Ansharusy Syariah (JAS), dan jemaah Islamiyah pun mereka kafirkan. Bagi para simpatisan ISIS, terutama yang berasal dari jamaah Amaniyyun (para pengikut paham takfiri Aman Abdurrahman), siapapun yang tidak sepaham dengan kelompok mereka masuk golongan kafir.

Sambil terus menyebarkan ajaran takfiri, para simpatisan ISIS berusaha sekuat tenaga untuk menciptakan teror sosial di Indonesia. Mereka percaya dapat beroperasi dengan baik di Indonesia hanya kalau dalam keadaan kacau dan konflik sosial merajalela.

Skenario lain ISIS adalah memainkan sistimen keagamaan untuk mengadu domba antar pemeluk agama dan antar pengikut aliran keagamaan di Indonesia. Di Syria, skenario ISIS itu berhasil.


Di negara itu, ISIS membenturkan umat Islam dengan umat agama lain, kaum Sunni dengan kaum Syiah dan kelompok takfiri dengan kelompok salafi jihadi.

Di Indonesia, simpatisan ISIS memprovokasi dan menunggangi kelompok-kelompok masyarakat yang anti-Bhineka Tunggal Ika untuk membuat kekacauan sosial. Jika Indonesia berhasil dibuah chaos dengan balutan sentimen agama, mereka berhasil lebih mudah mengganti pemerintahan Indonesia yang sah dengan tiga strategi perangyang diadobsi dari ISIS di Timur Tengah, yaitu perang konvensional, perang gerilya dan serangan teror.

Nah, saat berhasil menguasai Indnesia, ISIS akan memusnahkan anak bangsa yang selama ini tidak sejalan dengannya.

SEGERA BERTINDAK
Untuk mencegah ISIS mengubah Indonesia yang damai menjadi Syria kedua yang berdarah-darah, pemerinah perlu mengambil langkah2 tegas berikut:

1. pemerintah perlu mengindentifikasi dai-dai simpatisan ISIS di Indonesia yang aktif menyebarkan paham takfiri.

2. pemerintah perlu memonitor dai-dai tersebut dan segala melakukan tindakan hukum ketika ceramah-ceramah mereka berisi anjuran untuk melakukai atau menghilangkan nyawa orang lain dan mengangung-agungnykan aksi-aksi terorisme yang dilakukan oleh ISIS.

3. melalui kerja sama dengan DKM-DKM, pemerintah perlu segera menurut kajian-kajian takfiri/terkait ISIS yang selama ini selenggarakan di masjid-masjid.

4. pemerintah perlu mengambil langkah hukum yang tegas terhadap kelompok-kelompok anti-Bhineka Tunggal Ika yang selama ini ditunggangi agenda ISIS ketika mereka telah terbukti melakukan pelanggaran hukum.

5. para tokoh ormas Islam perlu berfikir secara cerdasa dalam menjalankan aktifitas dakwah masing-masing. Jangan sampai kegiatand akwah mereka (tabligh akbar dan kaderisasi) tanpa disadari justru ikut serta menciptakan kondisi sosial yang diharapkan oleh ISIS.

Sebaiknya isu-isu keagamaan yang sensitif seperti isu-isu Ahmadiyah, Syiah, aliran kepercayaan, non-musliim, dan sejenisnya didakwahkan dalam konteks Bhineka Tunggal Ika.

Apabila isu-isu itu dipolitisasi dengan menggunakan kacamata Timur Tengah, kekacauan sosial karena sentimen keagamaan sangat berpotensi untuk muncul di wilayah-wilayah Indnesia.

6. pemerintah harus segara melokalisasi setiap kerusuhan sosial yang terjadi, apapun latar belakangnya, dan memperoses secara hukum setiap pihak yang terlibat tindak pidana yang terkait dengan kerusuhan tersebut tanpa pandang bulu.

Tulisan : KH. Said Aqil Siraj
Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama





Share this post
:
Comments
0 Comments

Post a Comment

 
Konten boleh dicopy dan disebarkan untuk dakwah | Cantumkan www.muslimedianews.com
Copyright © 2013-2014. Muslimedia News - Media Islam | Voice of Muslim - All Rights Reserved
RSS | Sitemap | MMN dan Redaksi | Disclaimer | Contact | Iklan
Support IT : MK | JT | MT and IT Muslimedia News