Top News :
Home » » Lawan Aksi Buzzer Radikal dengan Karya Digital

Lawan Aksi Buzzer Radikal dengan Karya Digital

Posted on Tuesday, 15 November 2016 | garis 11:42

Muslimedianews.com ~ Wasekjen PBNU H Imam Pituduh menilai, generasi muda kini terlalu dimanja oleh teknologi, sehingga lupa akan lingkungan. Sementara kelompok radikal sedang melakukan buzzer (propaganda) dalam upaya konsolidasi pembuatan persepsi melalui media sosial. Pada saat yang sama orang-orang baik seakan ‘terlelap’.

Imam menyampaikan hal tersebut saat menjadi pembicara dalam Youth Forum dalam rangkaian Youth Peace Harmony, di Gedung Nusantara V, Ruang GBHN-MPR RI Senayan, Jakarta, Sabtu (12/110 lalu.

Ia menyayangkan orang muda saat ini lebih percaya dan berguru kepada google daripada kepada pemuka agama.  “Kalau demikian mengapa tidak ada buzzer yang membuat dan memviralkan meme positif untuk mencegah meme negatif? Kalau dulu Soekarno mengatakan butuh 10 pemuda untuk mengubah negara, kini butuh 10 buzzer untuk mengubah negara, untuk menyebakan semangat positif,” kata Imam

Ia menyebut Arab Spring juga dimulai dari media sosial. “Negara Arab hancur karena sosmed. Yang dihancurkan bukan fisik, tetapi mental dan budayanya,” ujarnya.

Selain itu persepsi juga disebut menjadi hal yang sangat penting. “Perception is everything, orang benar bisa jadi salah karena persepsi yang dibuat dengan sengaja.”

Oleh karena itu, Imam mendorong bagaimana menggunakan media sosial untuk menyebarkan gelombang kebaikan dan semangat kebhinnekaan. Ia mengatakan kebhinekaan harus terus dijaga, dirawat, dan diwariskan karena kebhinekaan merupakan nilai yang harus dijunjung tinggi demi keselamatan bangsa.

Lebih lanjut, ia mengatakan, kerukunan menjadi kekhasan Indonesia yang kendati berbeda tapi tetap menghargai kebhinnekaan. Bangsa ini dibangun dengan semangat kesatuan dan dijalankan dengan toleransi, sehingga tidak boleh ada yang melakukan upaya memecah-belah bangsa. Toleransi menjadi hal mendasar dalam menjaga kerukunan dan merawat kebhinekaan Indonesia.

“Lawan aksi radikal dengan karya digital, dengan meme yang diviralkan dan mudah diterima masyarakat,” tegasnya kepada para hadirin yang merupakan perwakilan pemuda lintas agama baik Muslim, Katolik, Protestan, Hindu dan Buddha.

Kampanye budaya
Youth Forum juga menghadirkan pembicara lainnya diantaranya Wakil Ketua Komisi Pemuda Keuskupan Agung Jakarta Bondan Wicaksono, Aktivis Pelindung Biota Laut Rasyid Rajasa, dan Wakadis Kebersihan DKI Jakarta H Isnawa Aji.

Jalan Santai dan panggung budaya menjadi rangkaian acara hari kedua, pada Ahad 13 November di arena Car Free Day. Jalan santai dimulai dari Bundaran HI-Dukuh Atas, berlangsung sejak pukul enam pagi.

Selain itu, acara pada hari kedua diisi dengan panggung budaya, festival musik dan orchestra, tarian nusantara, dan festival perdamaian dan lingkungan hidup.

Ketua Panitia Luciana Dita, mengatakan pemuda lintas agama harus bersatu demi menjaga dan merawat kesatuan dan persatuan bangsa Indonesia. Orang muda harus menjadi pengganggas sekaligus penggerak dalam mewujudkan cita-cita bersama untuk merawat bumi Indonesia dari ancaman radikalisme.

“Pemuda harus bisa berkiprah dalam masyarakat dan mampu mengambil semua peluang yang ada untuk kemajuan bangsa,” pungkas Lulu. (Kendi Setiawan/Fathoni)

sumber nu.or.id


Share this post
:
Comments
0 Comments

Post a Comment

 
Konten boleh dicopy dan disebarkan untuk dakwah | Cantumkan www.muslimedianews.com
Copyright © 2013-2014. Muslimedia News - Media Islam | Voice of Muslim - All Rights Reserved
RSS | Sitemap | MMN dan Redaksi | Disclaimer | Contact | Iklan
Support IT : MK | JT | MT and IT Muslimedia News