Top News :
Home » , » NKRI Harga Mati Wujud Ajaran Nabi

NKRI Harga Mati Wujud Ajaran Nabi

Posted on Monday, 21 November 2016 | garis 09:13

Muslimedianews.com ~
Dakwah Islam itu tidak akan tercapai jika negara ini tidak aman dan penuh angkara murka antar warganya. Nabi Ibrahim saja mendoakan aman negara (Makkah) sebelum mendoakan anak cucunya dijauhkan Allah dari praktik menyembahan berhala, sebagaimana tercatat dalam ayat al-Quran: “Dan (ingatlah), ketika Ibrahim berkata: "Ya Tuhanku, jadikanlah negeri ini (Mekah), negeri yang aman, dan jauhkanlah aku beserta anak cucuku daripada menyembah berhala-berhala".” (QS. Ibrahim ayat 35)

Demikian salah satu pesan berharga dari ceramah KH. Abdullah Saad Surakarta dalam acara Maulid Nabi dan Manaqib Kubro Syaikh Abdul Qodir al-Jailani XVI bertajuk "Napak Tilas Para Pewaris Nabi di Nusantara" di Pondok Pesantren Darul Arofah, Keciput, Kec. Sijuk, Kab. Belitung, Babel, pada Sabtu (19/11/2016) malam.

"Memperingati Maulid Nabi merupakan bentuk kegiatan dan bukti bahwa kita orang-orang yang mencintai Nabi kita Muhammad Saw.," kata Bupati Belitung Sahani Saleh dalam sambutannya. Hadir pula dalam acara di pesantren yang diasuh KH. Ali Haris tersebut, antara lain, Drs. Irwandi A. Rani (Wakil Bupati Belitung), Taufiq Rizani A.Md (Ketua DPRD Belitung), Letkol Kaveleri Eko Saptono Kristyanto, S.E (Dandim Belitung) dan jajaran Muspida setempat.

Di hadapan 4 ribuan hadirin, Kiai Saad berpesan agar tetap menjaga persatuan dan mencintai Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) bahwa NKRI adalah harga mati. Karena akhir-akhir ini, katanya, seolah-olah ada pihak yang menginginkan negara Indonesia ambruk, bubrah, remuk sehingga dakwah Islam otomatis terganggu. “Anda tidak akan bisa menyampaikan ukhuwah, tarbiyah dan ta’dib kepada umat kalau negara ini tidak aman,” tegas Kiai Saad yang saat itu menggantikan Maulana Habib Luthfi bin Yahya karena sedang ada acara mendadak dan tidak bisa ditinggalkan.

Adanya acara maulid dan manaqib di Darul Arofah Belitung disebut oleh Kiai Saad sebagai bagian dari menjalin persatuan umat. Dengan maulid, akan tumbuh rasa cinta kepada Rasulullah, yang akhirnya bisa melahirkan keimanan.

Kiai yang juga alumnus madrasah TBS Kudus ini menegaskan, untuk mencapai keimanan, umat Islam pertama-tama harus cinta kepada Nabi Muhammad Saw., dzurriyah Nabi, baru kemudian meraih iman bersama al-Quran. "Itu kurikulum yang sangat penting," katanya.

Menanamkan cinta kepada utusan Allah sebelum al-Quran itu adalah pola pendidikan Nabi yang dipraktikkan kepada para sahabat. Dalam kitab Ihya Ulumiddin karya Imam al-Ghazali tertulis pengakuan para sahabat begini: “Kami adalah para sahabat Rasul yang diberikan iman dulu sebelum al-Quran. Dan akan datang suatu masa dimana ada orang pintar al-Quran tapi belum punya iman.”

Pengakuan di atas adalah sindiran bagi mereka yang terburu-buru mengaku memiliki iman, sebagai pembela al-Quran namun tidak paham isinya. “Kalau cinta kepada al-Quran didahulukan, maka ia bisa dianggap bacaan-bacaan biasa saja,” terang Kiai Saad.

Ia mengibaratkan hal itu dengan seorang yang bangkrut hartanya, lalu karena pusing, ia membaca al-Quran untuk mencari solusi hingga sampai pada ayat yang bermakna, “Dan orang yang disempitkan rezekinya (bangkrut), hendaklah memberi nafkah dari harta yang diberikan Allah." (QS. ath-Tthalaq ayat 7)”.

Walaupun ia memiliki kebiasaan rutin membaca al-Quran 30 juz, namun jika ia tidak memiliki iman, al-Quran lah yang akan disalahkan. Karena menurut rasio normal, dalam situasi bangkrut tidak mungkin harus memberikan infaq sedekah hartanya kepada orang lain. Itu justru akan meningkatkan kebangkrutannya.

Tapi bagi mereka yang memiliki iman, ayat itu akan dimaknai sebagai cara Allah memberikan imbalan bagi mereka yang menyayangi makhlukNya. “Sayangilah makhluk di bumi, maka engkau akan disayangi makhluk yang ada di langit.” (Al-Hadits). Sedekah kepada makhluk, akan dibalas Allah dengan lebih baik. Sudah bangkrut, namun ikhlas bersedekah, ia akan dijanjikan kembali ke keadaan yang lebih baik. Inilah manfaat iman sebelum mengenal al-Quran.

“Sebelum al-Quran, cintailah Rasul dulu. Itu syarat wujud iman,” kata Kiai Saad. Karena itulah, imbuhnya, setiap pengajian yang menghadirkan Maulana Habib Luthfi diharuskan ada pembacaan maulid. Jika orang sudah kenal dan iman kepada Rasulullah, hatinya akan mudah mengenal Allah melalui al-Quran. “Orang tidak akan bisa kenal al-Quran kalau hatinya tidak syuhud kepada Nur Muhammad, yakni hadhratut tafsil atau hadhratul muhammadiyah. Karena akhlak Nabi adalah al-Quran,” imbuhnya. 

Mendahulukan penanaman cinta kepada Nabi sebelum mengenal al-Quran inilah yang menurut Kiai Saad bisa digunakan untuk memperbaiki kondisi umat di akhir zaman yang sudah terpuruk. Ia mengutip pendapat Imam Malik, “La yashluhu akhiru hadzihil ummah illa bima shalaha bihi awwaluha" (tidak akan ada yang pernah bisa ndandani/memperbaiki keadaan akhir umat ini terkecuali dengan konsep yang ada pada awal umat ini (yakni cinta Nabi dulu, baru al-Quran),” tegasnya.

Di akhir ceramah, Kiai Saad berpesan untuk menjaga negara ini agar tetap bisa dijadikan wasilah agung menggelar ajaran agama Islam dari Rasulullah Saw. "Jaga bumi ini, bumi pertiwi ini, dengan cara menjaga diri ini menjadi manusia yang tahu membayar hak, jadi hamba yang shaleh,” tandasnya.

“Kalau suatu daerah banyak orang kafirnya, tapi perbuatannya shaleh, kepada orang tua baik, kepada tetangga baik, kepada masyarakat baik, kepada istri baik, akan dijaga untuk tidak dihancurkan oleh Allah. Tapi sebaliknya, banyak orang Islamnya tapi mendzalimi sesama, membunuh sesama Islam, akan dihancurkan oleh Allah,” terang Kiai Saad mengutip Tafsir al-Qurthubi. (Disadur dari dutaislam.com dengan beberapa imbuhan).

Share this post
:
Comments
0 Comments

Post a Comment

 
Konten boleh dicopy dan disebarkan untuk dakwah | Cantumkan www.muslimedianews.com
Copyright © 2013-2014. Muslimedia News - Media Islam | Voice of Muslim - All Rights Reserved
RSS | Sitemap | MMN dan Redaksi | Disclaimer | Contact | Iklan
Support IT : MK | JT | MT and IT Muslimedia News