Top News :
Home » » Pengaruh Doktrin Wahabi Jihadi terhadap Terorisme Global

Pengaruh Doktrin Wahabi Jihadi terhadap Terorisme Global

Posted on Saturday, 19 November 2016 | garis 08:41

Muslimedianews.com ~ Tradisi pemikiran Yahudi, Kristen, Islam, Hindu, dan Budha telah terbukti dapat disalahgunakan untuk memproduksi terorisme religius. Terorisme yang berbasis pada doktrin agama telah berumur tua, terutama pada era pra-modern di mana agama sering disalahgunakan sebagai justifikasi utama bagi terorisme. Dalam sejarah Yahudi terdapat sekte radikal bernama Sicarii yang membantai sekte lainnya. Di India dikenal kelompok radikal bernama Thuggee yang membantai warga sipil sebagai bentuk persembahan pada Kali, dewa perusak dalam keyakinan Hindu. Teror juga dilakukan oleh tentara Kristen (Crusaders) pada Perang Salib untuk membasmi populasi Yahudi dan Muslim di Jerusalem. Tujuan mereka adalah untuk mengembalikan Jerusalem menjadi kota Kristen.[1]

Di dalam sejarah Islam klasik, kelompok Khawarij dan Hasyasyiyin (Assassins) merupakan dua kelompok radikal yang menghalalkan pembunuhan terhadap kelompok Muslim lainnya. Khawarij melakukan penafsiran radikal atas al-Qur’an untuk membangun teologi radikal yang melegitimasi perang melawan musuh politik yang mereka tuduh telah mengabaikan al-Qur’an dalam pemecahan masalah kepemimpinan. Sementara Hasyasyiyin merupakan sempalan sekte Syiah yang dimotori oleh Hassan Sabbah. Mereka menganggap kelompoknya sebagai wakil Tuhan, sehingga halal bagi mereka untuk membunuh siapa saja yang berseberangan dalam hal keyakinan. Sementara saat ini, terdapat kelompok Wahabi yang senantiasa dikait-kaitkan dengan merebaknya terorisme global dimana pengikutnya gemar membid’ahkan dan mengkafirkan Muslim lain yang berbeda aliran.

Pada era modern, terutama pasca revolusi Prancis pada tahun 1789, terorisme yang dimotivasi oleh sentimen agama jarang ditemui. Pada abad ke-18 dan 19, ideologi-ideologi yang muncul adalah ideologi sekular seperti nasionalisme dan Marxisme. Nasionalisme dan Marxisme pun dapat mempengaruhi kemunculan terorisme yang dijustifikasi dengan term-term sekular, bukan religius. Namun pasca Perang Dingin antara Barat dengan Uni Soviet dan pasca revolusi Iran pada tahun 1979, terorisme atas nama agama muncul kembali ke permukaan. Belakangan ini terorisme religius secara massif dipertontonkan oleh Al-Qaeda dan ISIS yang berbasis pada doktrin Wahabi Jihadi.[2]

Pasca serangan Al-Qaeda pada 11 September 2001 di World Trade Center New York dan Pentagon, terorisme menjadi isu global yang hangat dibicarakan karena dinilai telah mengakibatkan konsekuensi yang luas, tidak hanya secara politis dan militer, tetapi juga secara ekonomis. Serangan 11 September kemudian diikuti oleh serangkaian bom bunuh diri (suicide bombing) di Bali pada tahun 2002, Madrid pada tahun 2004, London pada tahun 2005, New Delhi pada tahun 2005, dan Mumbai pada tahun 2006. Bom bunuh diri hingga saat ini juga sering terjadi di kawasan konflik seperti di Iraq, Israel-Palestina, dan negara-negera Timur Tengah terutama Suriah yang dikacaukan oleh aksi-aksi brutal ISIS. Di Indonesia, dari tahun 2000 hingga 2016 teror bom terus saja memakan korban. Bahkan pada tahun 2016 ini kita kembali dikejutkan oleh bom di jalan Tamrin dan gereja Oikumene di Samarinda baru-baru ini.

Ancaman terorisme global ini mendorong pentingnya identifikasi terhadap akar-akarnya (the roots of terrorism) dan cara penanggulangannya. Identifikasi merupakan langkah awal yang harus dilakukan untuk mengenali apa itu terorisme dan mengapa tindakan kekerasan dilakukan oleh para teroris. Kajian ini akan memperlihatkan bahwa selain dimotivasi oleh faktor politik, terorisme juga sering dipicu oleh doktrin Wahabi yang radikal. Terorisme religius yang didorong oleh doktrin radikal Wahabi memiliki karakteristik yang berbeda dengan tipe-tipe terorisme lain. Teroris religius ala Wahabi selalu menganggap tergetnya sebagai kafir dan musyrik yang boleh dibunuh. Mereka menghalalkan penggunaan kekerasan sebagai aksi suci. Benarkan doktrin Wahabi adalah sumber terorisme global? Inilah pertanyaan yang akan dikaji jawabannya dalam tulisan ini.[3]

Wahabi dan Aliansinya

            Doktrin Wahabi yang destruktif tersebut dengan mudah dimanfaatkan dan ditunggangi oleh Kerajaan Saud berserta aliansi-aliansi politik mereka yang selama ini senantiasa mensuplay dana dan persenjataan perang. Sudah menjadi rahasia umum bahwa kelompok Wahabi dalam sejumlah peperangan melawan Uni Soviet telah nyata-nyata beraliansi dengan Amerika dan Inggris kemudian menampakkan sikap arogansinya terhadap dunia Islam. Bahkan berdirinya Kerajaan Saudi setelah melepaskan diri dari Turki Utsmani juga karena mendapat dukungan dari Amerika dan Inggris, baik di bidang ekonomi, politik maupun militer. Inggris memiliki kepentingan mengamankan link via Canal Suez menuju India, sedangkan Amerika berkepentingan mengeksploitasi sumber daya minyak.

Anshumali Shukla, seorang peneliti dari Punjabi University, menggarisbawahi bahwa kemunculan Wahabi didorong oleh faktor internal dan eksternal. Faktor internalnya adalah keprihatinan Muhammad bin Abdul Wahab melihat perilaku bid’ah dan takhayul yang marak terjadi di Najd dan sekitarnya. Merespon fenomena itu, Muhammad bin Abdul Wahab dan pengikutnya menyerukan semangat pemurnian Islam sesuai dengan pemahaman tekstual dan kaku terhadap Al-Quran dan hadits. Sedangkan faktor eksternalnya adalah dorongan kepentingan kolonialisme. Negara-negara kolonialis Barat sangat terusik dengan semakin meluasnya pengaruh Turki Utsmani dari kawasan Asia Barat, Afrika Utara, hingga sebagian kawasan Eropa. Untuk melemahkan kedigdayaan Turki Utsmani maka diperlukan strategi pecah belah dan adu domba antar kaum Muslimin. Inggris kemudian melihat bahwa Arab Saudi, yang memiliki doktrin Wahabi yang radikal, berpotensi digunakan untuk menciptakan konflik sesama Muslim melalui doktrin takfirnya. Arab Saudi sendiri—dengan dukungan Barat—berkepentingan untuk lepas dari hegemoni Turki Utsmani dan berdiri secara independen. Arab Saudi yang notabene merupakan daerah kemunculan Islam tidak selayaknya berada di bawah bayang-bayang hegemoni Turki Utsmani. Sebaliknya, Arab Saudi semestinya berada di depan memimpin negara-negara berpenduduk Muslim lainnya. Bertemunya kepentingan-kepentingan itulah yang mendorong kedua negara merancang agenda-agenda politiknya.[4]

Kuatnya hubungan Amerika dan Kerajaan Saudi semakin kuat pasca 18 Desember 2010 ketika gelombang revolusi pecah di Tunisia dan Mesir; perang saudara di Libya, pemberontakan sipil di Bahrain, demonstrasi besar-besaran di Aljazair, Irak, Yordania, Maroko, Oman, Kuwait dan negara-negara Timur Tengah lainnya. Dalam situasi tidak stabil tersebut, Amerika tampak melindungi kekuasaan monarkhi Kerajaan Saudi dari gelombang revolusi untuk melanggengkan hegemoni, intervensi, dan kepentingan kapitalisasi sumber daya alam di Timur Tengah.

Yang tak kalah menarik dibanding fakta di atas adalah pernyataan dari Garikai Chengu, seorang peneliti dari Harvard University, dalam artikelnya yang berjudul America Created Al-Qaeda and the ISIS Terror Group. Menurutnya, Al-Qaeda dan ISIS tak lain hanyalah boneka buatan Amerika yang didesain untuk memecah-belah dengan strategi teror kemudian menguasai kekayaan kantong-kantong minyak di Timur Tengah di satu sisi, sedangkan di sisi lain adalah untuk menghambat berkembangnya pengaruh Iran di Timur Tengah. Pada era Perang Dingin, Amerika dengan kepentingan kapitalismenya menggunakan jasa Al-Qaeda Wahabi—yang didukung Arab Saudi dan dimentori oleh CIA—untuk melawan Uni Soviet di Afghanistan dengan dalih memerangi ideologi sosialisme yang dinilai atheis. Bahkan Amerika juga menndompleng gerakan Ikhwan Muslimin untuk menanggulangi semakin kuatnya pengaruh sosialisme di Mesir.

Sementara di Suriah saat ini, ISIS dengan doktrin Wahabi Jihadinya kembali ditunggangi oleh Amerika untuk menghadapi Basyar Asad dan sekutunya, yakni Iran dan Russia. Garikai Chengu menambahkan bahwa pada dasarnya ada tiga perang yang terjadi di Suriah: satu antara pemerintah dan pemberontak, yang lain antara Iran yang Syiah dan Arab Saudi yang Wahabi, dan yang lain lagi antara Amerika dan Russia. Ini adalah tiga pertempuan yang saling tumpang tindih. Inilah Perang Dingin Baru yang membuat Amerika mengambil risiko mempersenjatai pemberontak Wahabi di Suriah, karena Presiden Suriah, Bashar al-Assad, adalah sekutu utama Russia. Di sisi lain dan pada saat bersamaan, dukungan diam-diam Amerika pada ISIS bertujuan untuk menekan Iran. Dari situlah dapat dilihat sejauh mana doktrin radikal Wahabi yang dianut ISIS berperan dalam menciptakan konflik di Suriah.[5]

Kompleksitas konflik di Timur Tengah tersebut, menurut pandangan F. Gregory Gause, bukan semata-mata pertempuran tidak langsung antara Riyadh vis a vis Tehran. Jauh lebih komplek lagi, intervensi kepentingan ekonomi dan politik Amerika melawan Russia serta perebutan pengaruh antara Iran dan Arab Saudi atas negara-negara lemah di Timur Tengah menjadi muara Perang Dingin Baru di Suriah. Kaum militan yang mendasarkan aksi-aksi mereka pada doktrin agama hanyalah dijadikan alat perang kepentingan kelompok elit. Hal itu dapat terjadi sebab doktrin radikal rawan dipolitisasi oleh pihak-pihak elit yang berkepentingan. Amerika mendukung ISIS yang berbasis pada ideologi radikal Wahabi untuk melawan Basyar Asad, kemudian mengisolasi Iran, dan target berikutnya adalah Russia.[6]

Akar Terorisme dalam Doktrin Wahabi

 Dalam kitab Fajar al-Shadiq   fi al-Radd ‘ala al-Firqah al-Wahabiyah al-Mariqah, Jamil Sidqi al-Zahawi menuturkan sejarah kemunculan Wahabi di Najd pada tahun 1143 H yang dipimpin oleh Muhammad bin Abdul Wahab dan kemudian penyebarannya didukung oleh Dinasti Saudi yang beraliansi dengan Amerika dan Inggris. Sejak kemunculannya, para pengikut Wahabi mengkafirkan umat Islam yang berbeda pendapat, bahkan, lebih kejam lagi, mereka menghalalkan penjarahan harta serta pembunuhan terhadap kelompok lain yang dikafirkan. Dengan doktrin yang kaku dan sempit, pengikut Wahabi merusak bangunan-bangunan bersejarah Maqbaroh Baqi’ dan artifak-artifak keluarga Rasulullah. Jamil Shidqi berpendapat bahwa doktrin radikal Wahabi menjadi biang keladi kerusuhan dan kekerasan atas nama Islam di Jazirah Arab. Doktrin Wahabi sangatlah eksklusif, tidak menerima dialog, dan secara serampangan mudah menyesatkan kelompok-kelompok lain. Inilah penyebab utama fitnah di kalangan kaum Muslimin saat ini.[7]

Dr. Ahmad Mahmud Shubhi juga berpendapat senada dalam bukunya yang berjudul Judzur al-Irhab fi al-Aqidah al-Wahabiyyah (Akar-akar Terorisme dalam Akidah Wahabiyah). Menurutnya, gerakan-gerakan politik yang mengatasnamakan Islam dan menggunakan kekerasan atas nama Islam sejatinya tidak bisa merepresentasikan Islam. Mereka hanya merepresentasikan kelompok Wahabi  saja. Kelompok-kelompok teroris apapun namanya, baik itu Taliban, Al-Qaeda maupun ISIS, merupakan produk dari paham Wahabi yang ekstrem. Ahmad Subhi Manshur, pakar sejarah al-Azhar University Cairo, pun sepakat bahwa akar kekerasan atas nama Islam belakangan ini adalah produk dari paham Wahabi yang rigid (al-mutazammid). Di Mesir, paham itu menemukan tempatnya dalam gerakan Ikhwan al-Muslimun, sebuah organisasi keagamaan di Mesir yang terpengaruh kuat oleh Wahabi Saudi. Para ulama al-Azhar senantiasa melawan pemikiran Ikhwan Muslimun yang keras dengan cara-cara dialogis, akan tetapi sering sekali mereka mengkafirkan dan menyesatkan ulama-ulama al-Azhar.[8]

Di Indonesia, Ikhwan Muslimun sangat kuat mempengaruhi gerakan-gerakan PKS. Salah satu bukti kuat adalah tingginya kebencian kader-kader PKS terhadap ulama-ulama moderat Al-Azhar. Saat Syaikh Ahmed Thayyib berkunjung ke Indonesia pada awal tahun 2016 dalam rangka menyebarkan pesan damai, para kader PKS beramai-ramai mencaci maki Grand Syaikh Al-Azhar tersebut dengan kata-kata yang keji. Fakta ini menunjukkan bahwa teologi kebencian ala Wahabi telah merasuk dalam pemikiran sebagian kader-kader PKS.

Media Propaganda Wahabi dan Efek Geopolitiknya

Kelompok Wahabi sangat militan mempropagandakan doktrin kebencian melalui berbagai media baik cetak maupun elektronik. Chanel televisi merupakan media efektif yang sering dimanfaatkan oleh para pendukung Wahabi. TV Rodja, TV Insan, Sunnah TV, Ahsan TV, TV Wesal, Noor TV, Safa TV, dan puluhan TV lainnya merupakan contoh media corong Wahabi dalam menyebarkan paham-paham radikal.  Bahkan di Iran yang notabene basis Syiah juga dapat diitemui satelit chanel TV berhaluan Wahabi yang program-programnya mempropagandakan anti Syiah.

Dunia maya kita sekarang ini pun dijejali fitnah-fitnah dan ujaran kebencian yang disebarluaskan oleh situs-situs Wahabi radikal. Anshumali Shukla memberikan informasi bahwa otoritas Wahabi di Saudi Arabia telah menggelontorkan dana yang sangat besar untuk mendanai 40.000 website Wahabi yang isinya menyebarkan teologi kebencian dan adu domba. Ditambah lagi dengan penerbitan buku-buku berhaluan Wahabi serta reduksi isi kitab-kitab Sunni yang bertentangan dengan ajaran Wahabi. Para penganut Wahabi terbukti merubah isi sebagian kitab para ulama salaf yang tak sejalan dengan doktrin Wahabi. Propaganda yang didukung oleh Kerajaan kaya minyak tersebut berdampak pada cepatnya penyebaran ideologi Wahabi yang rigid dan intoleran.

Efek geopolitik yang mungkin ditimbulkan dari propaganda tersebut antara lain: 1) Meningkatnya saling benci antar kaum Muslimin disebabkan oleh watak ideologi Wahabi yang intoleran terhadap sekte lain. Pembantaian brutal teroris Wahabi terhadap warga Yazidi di Iraq, warga Syiah di Suriah-Iraq, dan Ahmadiyah di Pakistan merupakan bukti bahwa ideologi Wahabi telah menjelma menjadi virus kebencian yang membahayakan; 2) Meningkatnya kebencian terhadap penganut agama lain. Perusakan gereja koptik di Mesir, Vihara di Afghanistan, dan patung Budha di Indonesia merupakan bukti sahih bahwa teologi kebencian Wahabi berimbas pada gangguan keamanan penganut agama lain; 3) Meningkatnya kasus-kasus kekerasan atas nama agama. Munculnya Jamaah Islam, Jamaah Ansharu Daulah, Jamaah Ansharu Tauhid, dan lain sebagainya di Indonesia yang diikuti oleh bom-bom bunuh diri di sejumlah lokasi di tanah air cukup menjadi peringatan akan bahayanya ideologi Wahabi. Sebagai perbandingan, meningkatnya kekerasan di Chechnya adalah konsekuensi dari semakin populernya ideologi Wahabi di kalangan anak muda. Mereka berani mendeklarasikan perlawanan melawan Russia dan hendak mendirikan negara Islam; 4) Lahirnya organisasi-organisasi teroristik yang dipengaruhi Wahabi. Sebagai contoh, telah lahir Ansharuddin, Al-Syabab, Boko Haram, Jamaah Ansharu Tauhid, Jamaah Ansharu Daulah, dan lain sebagainya yang telah berjejaring dengan ISIS. Jaringan kelompok teroris tersebut terbukti membahayakan eksistensi negara dan kedamaian kehidupan bersama.

Penanggulangan Terorisme


Terorisme bukan hanya persoalan penafsiran teks-teks agama. Terorisme merupakan problematika kompleks yang semestinya dipahami dalam konteks yang lebih luas yang membutuhkan perspektif-perspektif bervariasi dari beragam disiplin ilmu. Dari aspek psikologis, para pakar menilai bahwa teroris adalah manusia yang normal dan tidak mengalami gangguan psikopat maupun skizofrenia paranoid. Organisasi teroris tidak akan merekrut anggota yang mengalami gangguan mental sebab operasi terorisme membutuhkan rencana matang yang tak dapat dilakukan oleh orang yang memiliki gangguan mental. Para psikiatris dan psikolog menilai terorisme lebih berkaitan dengan fanatisme sehingga teroris tidak sudi berkompromi. Teroris fanatik sering melihat permasalahan secara hitam putih dan single-minded dalam menyikapi setiap hal yang tak disetujui. Pandangan hitam-putih itulah yang membuat teroris eksklusif mempertentangkan antara “Muslim versus kafirun”. Jika “mereka” (the other) adalah sumber problem kami, maka kami harus membasmi mereka. Begitulah pola pikir fanatik.[9]

Pandangan di atas senada dengan pendapat Abu Hasan al-Amiri, murid al-Kindi dan penulis al-I’lam bi Manaqib al-Islam, yang menyatakan bahwa fanatisme (ta’ashub) merupakan penyakit sosial karena dapat mendorong seseorang rela mengorbankan nyawa demi membela pandangan sempitnya. Fanatisme tidak hanya menjangkiti penganut Islam, tetapi adalah masalah yang dihadapi oleh semua agama (hadzihi afat yubtala biha ahlu kulli millah).[10]

Dari perspektif lingkungan, terorisme sering dimotivasi oleh faktor politik, sosial, ekonomi, dan ideologi agama. Terorisme sering dipicu oleh kepentingan mempengaruhi kebijakan politik atau bahkan merebut kendali kekuasaan. Kelompok teroris yang kecewa atas kondisi negara termotivasi untuk merubah kondisi politik melalui kekerasan. Kekerasan menjadi pilihan jika kelompok teroris merasa berhadapan dengan sikap represif pemerintah, kurangnya kebebasan politik, dan pendudukan asing. Meluasnya ketidakpuasan kelompok-kelompok teroris di dunia Muslim terhadap kebijakan politik luar negeri Amerika dalam masalah-masalah Timur Tengah, pendudukan Israel di Palestina, dan trauma kolonialisme ikut andil besar dalam memicu rasa benci dan curiga terhadap Barat. Belum lagi ditambah dengan dukungan Amerika terhadap Israel dan rezim-rezim negara Arab yang represif, eksploitasi Amerika atas kekayaan minyak di Timur Tengah, dan pendudukan tentara Amerika di dunia Arab.

Realitas ketidakadilan politik tersebut mendorong Graham E. Fuller, mantan wakil ketua intelejen di CIA sekaligus penulis sejumlah buku tentang Timur Tengah, melancarkan kritik terhadap kebijakan Amerika yang terbukti memicu konflik. Dia berkata, “Yang seharusnya menjadi pertanyaan bukan mengapa tragedi 11 September bisa terjadi, tetapi mengapa tragedi itu tidak terjadi lebih cepat?”. Dalam bukunya yang berjudul A World Without Islam, Graham berandai-andai bahwa seandainya tidak ada agama Islam di muka bumi maka terorisme akan tetap terjadi. Terorisme di Timur Tengah dan di kawasan lain tidak ada hubungannya dengan Islam. Fenomena terorisme adalah respons terhadap kondisi geopolitik dan isu-isu sosial yang melibatkan komunitas Muslim di dunia. Graham meyakini bahwa Islam tidak mengajarkan terorisme dan kekerasan yang destruktif, namun Islam yang mengajarkan jihad—yang bermakna cukup kompleks—disalahgunakan untuk menjustifikasi kepentingan politik. Dengan statemennya tersebut dia hendak mengatakan bahwa kebijakan luar negeri Amerika dan sekutunya ikut andil memicu terorisme. Oleh karena itu penanggulangan terorisme menuntut perubahan kebijakan Amerika yang lebih simpatik di Timur Tengah.[11]

Richard Bonney, seorang pendeta Inggris, juga menganjurkan agar Amerika dan kaum Muslimin sebaiknya meninggalkan cara-cara kekerasan dan beralih pada pendekatan diplomasi publik demi masa depan kehidupan manusia yang lebih damai. Resolusi konflik secara damai dengan menggunakan proses diplomatik sangatlah efisien dalam memediasi kepentingan dunia Barat dan Islam. Resolusi tersebut harus sesuai dengan aturan hukum internasional serta penuh keadilan untuk semua pihak. Selain itu, semua pihak harus konsisten bahwa perang hanyalah pilihan terakhir ketika penyebabnya adalah keadilan dan bersifat defensif dengan sarana terbatas sehingga membatasi jumlah korban, baik sipil maupun militer.[12]

Faktor lain yang berkaitan dengan terorisme adalah ideologi agama.  Hampir dapat dipastikan bahwa semua teroris Muslim mengatasnamakan aksi-aksi mereka sebagai jihad di jalan Allah. Aksi-aksi teror yang dilakukan oleh militan Muslim yang ditujukan kepada warga sipil jelas merupakan tindakan yang melewati batas dan tidak dibenarkan dalam Islam. Aksi-aksi tersebut tidak dapat dikategorikan sebagai jihad karena telah menyalahi prosedur yang ditetapkan dalam Islam. Namun harus digarisbawahi bahwa kebijakan militer Amerika dan sekutunya yang menyebabkan jatuhnya ribuan korban dari warga sipil di Iraq, Suriah, dan lain-lain juga merupakan tindakan yang melewati batas sehingga wajar jika memantik emosi dan balas dendam dari kelompok militan Muslim.

Berkaitan dengan hal ini, ada wacana menarik yang ditawarkan oleh para pengamat seperti Richard Jackson, Eamon Murphy, dan Scott Poynting tentang terorisme negara (state-terrorism). Menurut mereka, terorisme yang dilakukan oleh negara, dalam konteks ini adalah Amerika dan Israel, merupakan salah satu dari sumber kerusakan terbesar yang menimpa umat manusia dewasa ini. Bentuk-bentuk ekstrem kekerasan sering dilakukan oleh institusi negara demi agenda politik, pemindahan populasi, dan kolonialisme dengan korban yang mencapai jutaan jiwa dari rakyat jelata. Terorisme negara atas nama perang melawan teror jauh lebih berbahaya dibanding terorisme yang dilakukan oleh kelompok-kelompok militan. Ironisnya, terorisme kelompok militan lebih disoroti oleh media Barat ketimbang terorisme negara. Oleh karena itu, Richard Jackson, Eamin Murphy, dan Scott Poynting mengajak analis hubungan internasional dan sarjana yang concern dalam wacana counter-terrorism agar tidak mengabaikan masalah kejahatan terorisme negara.[13]


Penulis : Irwan Masduqi 
Sumber/selengkapnya : http://as-salafiyyah.com/artikel/

[1]Assaf Moghadam, The Root of Terrorism  (New York: Chelsea House, 2006), hlm. 102.
[2] Ibid., hlm. 27.
[3] Eli Berman, Radical Religious and Violent: the New Economics of Terrorism (Cambridge, The MIT Press), hlm. 2.
[4] Anshumali Shukla, Wahhabism and Global Terrorism (Punjabi University, International Kournal of Innovation and Applied Studies), hlm. 1524-1525.
[5] Garikai Chengu, Amerika Created Al-Qaeda and the ISIS Terror Group, http://www.globalresearch.ca/america-created-al-qaeda-and-the-isis-terror-group/5402881
[6] F. Gregory Gause, Beyond Sectarianism: The New Middle East Cold War (Washington DC, The Brookings Institution), hlm. 1.
[7] Jamil Shidqi al-Zahawi, Fajr al-Shadiq fi Radd al-Firqah al-Wahabiyah al-Mariqah (Dar al-Shidiq al-Akbar), hlm. 12-18.
[8] Ahmad Mahmud Shubhi, Judzur al-Irhab fi al-Aqidah al-Wahabiyyah, Beirut: Dar al-Mizan, hlm. 10-14.
[9] Assaf Moghadam, The Root of Terrorism, hlm. 18-19.
[10] Abu Hasan al-’Amiri, al-I’lam fi Manaqib al-Islam (Riyadh: Dar al-Ashalah li Tsaqafah, 1988), hlm. 195.
[11] Graham E. Fuller, A World Without Islam (New York: Hachette Book Group, 2010), hlm. 267 & 281.
[12] Richard Bonney, Jihad From Qur’an to bin Laden (New York: Palgrave Macmillan, 2004), hlm. 422.
[13] Richard Jackson, Eamin Murphy, dan Scott Poynting (ed.), “Terrorism, the State and the Study of Political Terror “ in Contemporary State Terrorism: Theory and Practice (USA and Canada: Routledge, 2010), hlm. 1-2.


Share this post
:
Comments
0 Comments

Post a Comment

 
Konten boleh dicopy dan disebarkan untuk dakwah | Cantumkan www.muslimedianews.com
Copyright © 2013-2014. Muslimedia News - Media Islam | Voice of Muslim - All Rights Reserved
RSS | Sitemap | MMN dan Redaksi | Disclaimer | Contact | Iklan
Support IT : MK | JT | MT and IT Muslimedia News