Top News :
Home » » Pilkada DKI, Ternyata HTI Tidak Pilih Pemimpin Muslim ?

Pilkada DKI, Ternyata HTI Tidak Pilih Pemimpin Muslim ?

Posted on Wednesday, 2 November 2016 | garis 12:29

MMN ~ Pemberitaan mengenai Pilkada DKI memang sangat santer di berbagai media, khususnya di media sosial atau internet. Pilkada merupakan persoalan politik dalam rangka memilih kepala daerah.

Tidak jarang event pemilihan tersebut diwarnai kekisruhan. Kekisruhan yang paling mudah dipicu adalah kekisruhan yang menggunakan isu agama. Pada event Pilkada di Jakarta, isu agama sangat santer disuarakan.

Sebagian umat Islam, menyerukan agar memilih calon pemimpin yang muslim, memilih antara antara Agus-Sylviana atau Anis-Sandiaga. Dengan kata lain Ahok-Djarot tidak boleh dipilih karena Ahok (calon Gubernur-nya) Kristen walaupun calon wakil Gubernurnya Muslim.

Memilih cagub dengan mempertimbangkan agama bukan suatu kesalahan, apalagi bagi seorang muslim. Seorang muslim tentu ingin dipimpin oleh orang yang muslim juga.

Ajakan yang tulus agar memilih calon gubernur yang muslim adalah hal wajar. Tetapi persoalan politik ternyata tidak sesederhana itu, apalagi munculnya kepentingan kelompok-kelompok yang sebenarnya anti-NKRI namun mengambil momentum PILKADA tersebut untuk melakukan provokasi. Sebut saja seperti Hizbut Tahrir Indonesia.

HTI adalah kelompok Islam transnasional yang kepentingan utamanya adalah menghancurkan sistem pemerintahan NKRI dengan mengubah sistemnya menjadi sistem khilafah versi kelompok mereka. Penolakan HTI terhadap sistem pemerintahan di Indonesia membuat mereka enggan untuk mengikuti aktifitas perubahan melalui konstitusi, meskipun mereka sendiri terdaftar secara legal sebagai ormas di pemerintah Indonesia.

Hal itu pula yang membuat orang-orang HTI selalu golput dalam ajang pemilu diberbagai tingkatan. Memang, secara organsiasi tidak pernah memerintahan orang-orangnya (syabab-syababnya) untuk golput, tetapi HTI menanamkan doktrin didalam setiap pengajian internal mereka bahwa memilih pemimpin didalam sistem demokrasi seperti di Indonesia hukumnya haram. Mereka menganggap sistem demokrasi adalah sistem kufur, sistem pemerintahan di Indonesia adalah kufur. Menurut mereka, terjun kedalam kekufuran berarti mendukung kekufuran. Pemahaman mereka inilah yang membuat orang-orang HTI enggan mengikuti pemilihan umum.

Oleh karena itu, sudah bisa dipastikan HTI tidak akan memilih siapapun diantara calon gubernur dan wakil gubernur DKI Jakarta saat ini, baik yang muslim maupun yang non-muslim.

Lalu untuk apa mereka ikut gembar-gambor tolak pemimpin kafir sementara mereka tidak juga ikut memilih cagub muslim?. Jawabannya, HTI hanya memanfaatkan momentum Pilkada sebagai ajang untuk memperkeruh suasana di NKRI agar rakyat kehilangan kepercayaan kepada para pemimpin di negeri ini.

Muslim menolak dipimpin oleh non-muslim itu hal yang wajar, dan untuk mengantisipasi agar tidak dipimpin oleh non-muslim, mereka akan memilih pemimpin yang muslim. Inilah barangkali yang suarakan oleh ormas Islam lain. Mereka memang menolak Ahok, tetapi mereka menganjurkan umat Islam agar memilih salah satu dari calon yang muslim.

Beda dengan HTI, mereka ikut-ikutan menolak Ahok, bahkan HTI ingin dianggap "yang terdepan" menolak Ahok, tetapi tidak ada calon gubernur muslim yang mereka pilih. Kemunafikan HTI ini disebabkan mereka memiliki pemahaman bahwa sistem di negeri Indonesia adalah kufur, sehingga Pilkada DKI bagian dari kekufuran.

Ibnu Manshur





Share this post
:
Comments
0 Comments

Post a Comment

 
Konten boleh dicopy dan disebarkan untuk dakwah | Cantumkan www.muslimedianews.com
Copyright © 2013-2014. Muslimedia News - Media Islam | Voice of Muslim - All Rights Reserved
RSS | Sitemap | MMN dan Redaksi | Disclaimer | Contact | Iklan
Support IT : MK | JT | MT and IT Muslimedia News