Top News :
Home » , » Benarkah KH. Ali Mustofa Ya'kub Berpaham Wahabi ?

Benarkah KH. Ali Mustofa Ya'kub Berpaham Wahabi ?

Posted on Thursday, 20 April 2017 | garis 11:52

Muslimedianews.com ~ Keluarga besar Darus-Sunnah baru saja menyelenggarakan Haul Ke-1 KH Ali Mustafa Yaqub, pendiri sekaligus pengasuh Darus-Sunnah sejak 1997 hingga 2016. Peringatan wafat ini sekaligus menjawab pertanyaan-pertanyaan liar seputar sosok beliau yang acapkali dituduh sebagai Wahabi oleh segelintir orang.

Tuduhan ini semakin lantang disuarakan ketika tulisan beliau yang berjudul Titik Temu Wahabi-NU mengemuka di media massa dan kemudian dikembangkan menjadi sebuah buku dengan judul yang sama.

Banyak sebenarnya tuduhan tidak berdasar yang dialamatkan kepada almarhum. Namun di antara sekian itu tuduhan Wahabi adalah yang paling terkenal. Benarkah beliau Wahabi? Pertanyaan ini akan dijawab dalam tulisan singkat ini untuk mengenang satu tahun wafatnya beliau.

Sebagaimana lazim diketahui banyak orang bahwa Wahabi adalah kelompok yang anti dan membidahkan tahlil, maulid, dan peringatan kematian seperti haul. Niscaya, jika almarhum Kiai Ali Mustafa adalah Wahabi, beliau akan secara tegas menolak dan membidahkan tradisi itu melalui pernyataan-pernyataan dan tulisan-tulisan beliau. Namun sampai akhir hayat, tidak ada satupun pernyataan dan tulisan beliau yang menolak tradisi tersebut. Ini bukti bahwa beliau bukan Wahabi seperti yang dituduhkan.

Sebaiknya, sebelum menuduh Wahabi, kenali dulu sosok dan sepak terjang beliau dari dekat. Dari keluarga besar, santri, sahabat karib, dan tradisi yang berjalan di pesantren beliau, Darus-Sunnah. Bukan dari tulisan, pernyataan, atau buku-buku orang yang tidak mengenal beliau dari dan secara dekat. Jika membaca beliau dari sumber sekunder ini, maka kemungkinan besar akan terjadi banyak penyimpangan karena ketegasan dan sikap moderat beliau yang seringkali disalahtafsirkan atau sengaja dicatut oleh kelompok-kelompok tertentu untuk kepentingan mereka.

Memperkuat uraian ini, tradisi-tradisi yang diwariskan oleh almarhum Kiai Ali di Darus-Sunnah akan menjelaskan bahwa tuduhan Wahabi terhadap beliau tidak benar dan omong kosong semata. Sebab tradisi tahlil, maulid, dan peringatan kematian yang dianggap bidah justru hidup dan semarak di Darus-Sunnah.

Yasinan dan Tahlilan
Di Darus-Sunnah, tradisi Yasinan dan Tahlilan dilaksanakan rutin sepekan sekali, yaitu setiap Kamis selepas shalat Maghrib berjamaah (malam Jum’at) sampai Isya’. Tradisi ini bukan sekadar kebiasaan semata, lebih dari itu Yasinan dan tahlilan adalah program pesantren yang harus dilaksanakan setiap pekannya. Meski demikian, tradisi ini tidak wajib dilaksanakan oleh setiap santrinya. Karena secara hukum, tradisi Yasinan dan tahlilan bukan syariat wajib yang harus dilaksanakan oleh para santri di Darus-Sunnah.

Program Yasinan dan tahlilan adalah sarana bagi para santri untuk beramal kebajikan. Bagi yang malaksanakan, akan mendapatkan pahala dan bagi yang meninggalkan tidak akan mendapat dosa. Yasinan dan tahlilan termasuk amalan sunah karena isinya adalah bacaan Al-Qur’an, zikir, dan bacaan doa untuk orang yang telah meninggal sebagaimana diajarkan oleh Rasulullah SAW, sahabat-sahabatnya, dan tabi’in.

Karena itu, di masa hidup beliau, jika pada malam Jum’at di Darus-Sunnah tidak terdengar suara santri yang Yasinan dan tahlilan, almarhum akan bertanya kenapa tidak ada Yasinan dan tahlilan. Tidak sampai di situ saja, almarhum bahkan menegur dan memperingatkan agar hal tersebut tidak diulangi lagi. Kiai Ali menekankan agar Yasinan dan tahlilan dibaca setiap pekan. Seandainya beliau seorang Wahabi, tentu tradisi Yasinan dan tahlilan tidak akan beliau anjurkan apalagi sampai menjadi program pesantren.

Tradisi Maulid
Banyak penjelasan yang menyebutkan bahwa maulid adalah salah satu bidah terbesar dalam tradisi umat Islam. Menurut mereka, berdasarkan riwayat-riwayat yang shahih, tradisi Maulid tidak pernah diajarkan oleh Rasulullah SAW, para sahabat, dan para tabi’in. Mereka menambahkan, tradisi Maulid adalah tradisi bidah yang diwariskan oleh orang-orang syi’ah pada abad IV Hijriyah. Wahabi termasuk kelompok yang secara tegas menolak tradisi Maulid dengan landasan-landasan tersebut.

Ada dua argumen untuk menepis tuduhan Wahabi terhadap almarhum Kiai Ali dalam kasus Maulid. Pertama, seandainya KH Ali Mustafa Yaqub seorang Wahabi, beliau akan mengamini argumentasi sejarah ini. Namun ternyata beliau tidak mengakui sejarah Maulid yang berlandaskan pada tradisi syi’ah. Beliau sering menjelaskan bahwa sejarah tradisi Maulid yang diikuti oleh Ahlussunnah wal Jamaah khususnya di Indonesia adalah tradisi Maulid yang digagas oleh Shalahuddin Al-Ayyubi dalam memerangi pasukan Salib pada abad ke-7 Hijriyah. Beliau sering mengatakan, “Tentang sejarah Maulid baca penjelasan Imam As-Suyuthi dalam kitabnya Al-Hawi lil Fatawi.”

Kedua, KH Ali Mustafa Yaqub dikenal sebagai ahli hadits sangat tegas dan tidak kenal kompromi dalam masalah akidah dan ibadah. Beliau akan berkata apa adanya jika ada penyimpangan-penyimpangan yang terjadi di masyarakat. Jika Maulid adalah tradisi bidah, tentu dengan tegas dan tanpa kompromi beliau akan menyampaikan hal tersebut. Namun sampai ujung usianya, beliau tidak pernah menyatakan maulid itu bidah. Justru menurut beliau, Maulid adalah tradisi baik yang patut dilestarikan. Karena dalam tradisi Maulid, terdapat shalawat dan pujian-pujian kepada Rasulullah SAW yang tak ada henti-hentinya dikumandangkan.

Semakin tidak berdasar menuduh beliau Wahabi karena di Darus-Sunnah sendiri tradisi Maulid ini juga dilaksanakan rutin setiap sepekan sekali untuk santri (setiap malam Jum’at) dan sebulan sekali untuk Mahasantri (setiap awal bulan malam Jum’at). Bahkan dalam moment tertentu seperti wisuda, Maulid oleh beliau dijadikan sebagai sambutan penghormatan untuk menyambut tamu-tamu undangan. Lebih dari itu, saat tradisi Maulid belum hidup di Darus-Sunnah, setahun sebelum wafat, beliau menyampaikan; “Saya rindu tradisi pesantren seperti pembacaan Maulid Diba’i walaupun hanya satu kali dalam sebulan.” Atas dasar inilah kemudian tradisi Maulid Nabi dihidupkan di Darus-Sunnah.

Seandainya beliau seorang Wahabi, tentu beliau tidak akan merindukan tradisi pesantren yang bernama Maulid. Seandainya maulid itu bidah dan diharamkan, tentu ahli hadits seperti beliau adalah orang pertama yang akan pasang badan menolak dan menentang pelaksanaan Maulid. Namun faktanya, justru beliau sangat merindukan tradisi Maulid. Hingga akhirnya, sampai sekarang, tradisi itu terus berlanjut di Darus-Sunnah. (bersambung...)

Penulis: Muhammad Ali Wafa
Santri dan pengajar di Pesantren Luhur Darus-Sunnah
sumber nu.or.id

Share this post
:
Comments
0 Comments

Post a Comment

 
Konten boleh dicopy dan disebarkan untuk dakwah | Cantumkan www.muslimedianews.com
Copyright © 2013-2014. Muslimedia News - Media Islam | Voice of Muslim - All Rights Reserved
RSS | Sitemap | MMN dan Redaksi | Disclaimer | Contact | Iklan
Support IT : MK | JT | MT and IT Muslimedia News