Top News :
Home » » BERISLAM SECARA TOLERAN

BERISLAM SECARA TOLERAN

Posted on Wednesday, 19 April 2017 | garis 20:04

Muslimedianews.com ~ Indonesia sebagai Negara yang multi agama, etnis, suku dan ras menjadikannya sebagai bangsa yang kuat disatu sisi jika perbedaan itu disinergikan untuk bersama-sama membangun bangsa. Namun disisi lain keragaman tersebut jika tidak dikelola dengan baik akan melahirkan perpecahan bahkan bisa sampai menumpahkan darah.

Tindak kekerasan yang mengatasnamakan agama Islam kini sedang marak yang sesungguhnya mengusik keharmonisan, kerukunan umat beragama di bumi nusantara kita. Jika ditelisik lebih dalam, munculnya gejala kekerasan itu akibat dari beberapa faktor. Pertama, pengaruh gerakan-gerakan Islam transnasional. Gerakan Islam yang mencita-citakan tegaknya syariat Islam, menganggap pancasila sebagai asas Negara adalah thagut yang sesat dan menyesatkan dan harus dibumi hanguskan. Kedua, pengaruh euphoria demokratisasi Indonesia. Dibukanya keran demokrasi memberikan ruang bagi gerakan-gerakan Islam radikal yang pada masa orba dibungkam. Ketiga, gagalnya penegakan hukum di negeri ini menyebabkan lahirnya kembali aspirasi penegakan syariat Islam sebagai system pemerintahan yang sesungguhnya bertentangan dengan system Negara hukum demokratis. Keempat, gagalnya dakwah Islam rahmatan lilalamin. Hal ini dibuktikan dengan hasil penelitian oleh beberapa lembaga yang menemukan adanya intoleransi guru agama Islam.

Yusuf Al-Qaradawi, cendikiawan Muslim Mesir memberikan gambaran yang sangat menarik untuk disimak tentang faktor kemunculan gerakan radikalisme. Menurutnya radikalisme lahir dari beberapa hal yang diantaranya pengetahuan agama yang setengah-setengah (parsial) dan melalui proses belajar yang doktriner ditambah dengan proses pemahaman al-quran yang tekstual (literal). Orang yang memiliki pemahaman berbeda dengan mereka dianggap sesat dan akan masuk neraka. Surga hanyalah miliki kelompok mereka sedangkan yang "diluar" kelompoknya adalah calon penghuni neraka jahanam dan orang yang memerangi mereka akan mendaptkan pahala yang besar. sedangkan mereka yang mati dalam memerangi kelompok yang besebrangan akan dimasukan ke dalam surga karena mati sahid.
Pemahaman yang sempit terhadap Islam, mereka yang menganggap bahwa pemahannyalah yang paling benar harus segera di dibongkar agar mampu mendapatkan pemahan yang konprehensif terhadap Islam.

Islam sesungguhnya sangat menganjurkan untuk perdamaian. Hal ini jelas dengan nama agama Islam (salam) yang berarti damai. Perbedaan yang ada dalam kehidupan ini harus disikapi dengan semangat kerukunan karena perbedaan merupakan sunatullah dan Allah lah Yang Maha Benar. Oleh karena itu, menurut Qaradawi, mempelajari Islam harus dengan esensi tujuan syariat. Dengan mengamalkan esensinya, umat tidak akan terikat dengan hal-hal yang berbau symbol.

Imam syafii , salah satu Imam besar dan pendiri mazhab Syafi'i pernah mengatakan "pendapat kami benar tetapi mungkin salah, sedangkan pendapat kalian salah tetapi mungkin benar (ra'yuna sawabun yahtamilu al-khata wa ra'yu ghairina khataun yahtamilu al-aswaba). Pernyataan ini mempertegas bahwa perbedaan adalah sebuah keniscayaan. Ia menolak obsolutisme, penghambaan terhadap pendapatnya. Apa yang Ia dapat adalah hasil ijtihad yang mungkin bisa benar dan mungkin juga bisa salah, begitu juga dengan yang lain.

Dalam kasus lain, Imam Malik, pendiri mazhab Malikiyah dan penulis kitab al-Muwatta menolak keinginan Harun al-Rasyid yang berinisiatif menggantungkan kitab Al-Muwatta di atas Ka'bah dan memerintahkan semua orang agar mengikuti kitab tersebut. Dengan tegas Imam Malik mengatakan "Wahai pemimpin kaum mukminin, janganlah Anda gantung kitab itu di atas kabah, sebab para sahabat Nabi telah berbeda pendapat".

Islam sebagai agama dan sumber peradaban sangat konsen pada pembelaan (advokasi) terhadap segala bentuk penindasan dan mengajarkan penghormatan terhadap nilai-nilai kemanusiaan. Sikap toleransi, yakni penghormatan, penerimaan dan apresiasi terhadap keragaman agama, budaya, sudut pandang yang sesungguhnya melekat dalam Islam.

Demikian sekilas gambaran buku yang bertajuk "Berislam Secara Toleran" karya Irwan Masduqi. Buku ini berusaha membeberkan tentang Islam yang damai baik dalam persfektif teologis maupun historis. Dalam buku ini juga menghadirkan pandangan-pandangan tokoh Islam dari beberapa penjuru dunia. Pembaca disuguhkan menu bacaan yang sangat nikmat dan mudah dicerna. hal ini karena gaya bahasa yang digunakan mudah untuk dipahami dan selain itu juga penulis memberikan referensi yang lengkap dalam setiap kutipan.

Buku ini menjadi penting dibaca ditengah maraknya tindak kekerasan yang mengatasnamakan Islam yang kembali marak di negeri ini khususnya bagi mereka penggerak perdamaian (LSM), pendidikan (Dosen/guru), birokrat dan masayarakt luas agar mengetahui betapa agama Islam itu sangat damai.

Peresensi : Hamdi
Judul Buku: Berislam Secara Toleran
Penulis : Irwan Masduki
Penerbit : Mizan
Tahun : 2011
Tebal : 310 halaman


sumber pendis kemenag

Share this post
:
Comments
0 Comments

Post a Comment

 
Konten boleh dicopy dan disebarkan untuk dakwah | Cantumkan www.muslimedianews.com
Copyright © 2013-2014. Muslimedia News - Media Islam | Voice of Muslim - All Rights Reserved
RSS | Sitemap | MMN dan Redaksi | Disclaimer | Contact | Iklan
Support IT : MK | JT | MT and IT Muslimedia News