Top News :
Home » » Nasehat Untuk Yang Mondok Menjadi Santri (Kisah KH. Yahya Cholil Staquf)

Nasehat Untuk Yang Mondok Menjadi Santri (Kisah KH. Yahya Cholil Staquf)

Posted on Tuesday, 18 April 2017 | garis 18:48

Muslimedianews.com ~ Ada banyak pelajaran yang bisa diambil dari kisah seorang santri yang pernah mendapat nasehat dari ayahnya saat sering bolos mengaji. Pernah pula diusir karena pulang ke rumah hanya karena kehabisan bekal.

Kini, santri tersebut sudah menjadi Kiai Besar yang berada di jajaran Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), beliau adalah KH. Yahya Cholil Staquf.

Berikut kisah beliau yang diceritakan melalui laman facebooknya :
 
***
Waktu mondok di Krapyak dulu, entah tahu dari mana, ayahku mendapati bahwa aku suka keluyuran dan keseringan bolos ngaji. Maka aku pun terima surat berisi teguran keras.

"Kamu boleh punya kegiatan apa saja, tapi satu hal jangan kau tinggalkan: ngaji ngaji ngaji!" begitu tulisan ayahku. Ya, cuma begitu itu. Diatas kertas selebar tiga jari, entah bekas apa.

Kupikir, ayahku tidak terlalu serius memarahiku. Nyatanya, sesudah surat itu, tak pernah lagi beliau mengungkit-ngungkitnya. Sekalinya beliau marah besar justru karena soal lain. Aku kehabisan uang karena kiriman telat lebih dari setengah bulan. Konon gara-gara jembatan Karanggeneng (tepi Barat Rembang) ambruk. Begitu sampai di rumah siang-siang, ayahku langsung mengusirku balik ke pondok saat itu juga!

"Kehabisan duit kok pulang! Nggak pantas!"

Waktu itu aku jadi berpikir bahwa ayahku memang sunggguh-sungguh menginginkan aku betah menghabiskan waktu di pondok dalam keadaan apa pun, tapi tidak terlalu sungguh-sungguh perduli dengan ngajiku. Aku ingat saat beliau mengantarkanku ke Krapyak dan meninggalkanku disana awal-awalnya, yang beliau pesankan kedengarannya remeh.

"Kamu kerasan-kerasankan tinggal disini. Biar ketularan Pak Ali", katanya. "Pak Ali" adalah cara ayahku menyebut Mbah Kyai Ali Makshum yang adalah gurunya juga.

Belakangan, waktu mengantarkanku ke Mekah dan meninggalkanku disana, pesan beliau pun tak terdengar serius,

"Minum Zamzam sebanyak-banyaknya".

Jadi, aku disuruh mukim bukan terutama untuk ngaji, tapi cuma supaya bisa banyak minum Zamzam.

Disitu aku menduga, ketika ayahku dulu mengatakan "ketularan Pak Ali", mungkin yang beliau maksud adalah barokah.

***

redaktur: Ibnu L' Rabassa

Share this post
:
Comments
0 Comments

Post a Comment

 
Konten boleh dicopy dan disebarkan untuk dakwah | Cantumkan www.muslimedianews.com
Copyright © 2013-2014. Muslimedia News - Media Islam | Voice of Muslim - All Rights Reserved
RSS | Sitemap | MMN dan Redaksi | Disclaimer | Contact | Iklan
Support IT : MK | JT | MT and IT Muslimedia News