Top News :
Home » » Perang Media Salafi Indonesia

Perang Media Salafi Indonesia

Posted on Wednesday, 19 April 2017 | garis 09:20

Muslimedianews.com, Jakarta ~ Dalam perjalanan dari Jakarta ke Bogor, kira-kira sejam bermobil, kumandang suara di sekitar kawasan itu mengerucut ke satu suara yang terdengar di depan toko-toko, gerobak makanan, dan perumahan: itulah suara dari Radio Rodja, stasiun radio Salafi terdepan di Indonesia.

Pada tahun 2005, Radio Rodja bermula sebagai sebuah produksi kecil-kecilan di Cileungsi, kota kecil di Bogor dan dua tahun kemudian memperoleh frekuensi AM, dan sejak itu menjadi yang paling populer di antara puluhan stasiun radio Salafi di Indonesia. Dalam beberapa tahun ini, Radio Rodja juga melakukan siaran streaming sekitar 20 jam sehari untuk menjangkau pendengar di seluruh Indonesia.

Sebagian besar acaranya adalah pengajian Al-Qur’an dan ceramah tentang teologi, perilaku, kesehatan dan gaya hidup. Salafisme adalah sebuah gerakan yang melihat dirinnya sebagai gerakan pemurnian berasal dari Arab Saudi, yang memuji norma-norma Islam abad ke-8 dan menolak “inovasi” budaya modern. Salafi memang sengaja tidak banyak gembar-gembor, atau tidak mendukung aksi politik atau ekstremisme. Meski demikian, bangkitnya konservatisme Salafi telah menimbulkan pertentangan dalam Indonesia yang beragam dan toleran.


Salafisme tampak bangkit di kalangan kelas menengah di wilayah dekat Jakarta, seperti Bogor, Depok, dan Bekasi, terlihat dari isi khotbah-khotbahnya di berbagai masjid setempat, jumlah pesantren Salafi di kota-kota itu, dan pakaian Salafi – celana setumit kaki dan jenggot bagi pria, burka dan cadar bagi perempuan – di kalangan penduduk.

Salah satu yang membuat gerakan ini bisa menembus kelompok-kelompok masyarakat itu adalah Salafisme langsung menjangkau mereka lewat stasiun radio dan televisi seperti Rodja.

Berbagai organisasi Muslim moderat seperti Nahdlatul Ulama telah melakukan berbagai upaya untuk mengimbangi pengaruh Salafisme, tetapi terhalangi oleh besarnya organisasi ini dan agenda-agenda yang kurang jelas. Sementara media Salafi, berfokus mirip laser untuk menyiarkan dakwah sepanjang hari. Pesan sederhana ini berperan besar menjadi daya-tarik yang populer.

Perkantoran Rodja

Kantor pusat Rodja terletak di kompleks bangunan kecil di sekitar masjid Al-Barkah. Fasilitasnya termasuk beberapa ruangan kedap suara untuk siaran langsung dan sebuah kantor besar dengan sekitar 20 komputer Apple. Staf Radio Rodja menolak berkali-kali permintaan untuk diwawancarai, dengan alasan sebelumnya ada “penggambaran keliru” oleh media.
Masjid Al-Barkah di Cileungsi, Bogor (foto: VOA/K. Varagur). Kantor pusat Rodja teletak di kompleks masjid ini.
Salah satu siaran belum lama ini termasuk ceramah mengenai tanda-tanda kiamat, acara lainnya tentang “menjadi remaja yang dicintai Allah,” acara interaktif dengan pendengar tentang kesehatan, pelajaran bahasa Arab, dan pengajian Al-Quran berjam-jam. Menurut jadwal yang dipasang di situs mereka, Radio Rodja menyiarkan imam-imam Salafi terkemuka dari seluruh Indonesia, seperti Badrussalam dan Yazid Jawas, dan juga siaran langsung dari Jakarta Islamic Center.

Gaya bahasa kelompok Salafi Indonesia menjadi kurang provokatif beberapa tahun belakangan, kata Din Wahid, periset Salafi di Universitas Islam Negeri Jakarta. Mereka menghindari kata-kata “sesat” supaya tidak dikecam kelompok-kelompok utama seperti Nadhatul Ulama (NU).

Namun, sebagian besar konten Rodja dengan tegas “menolak modernitas” menurut Ayang Utirza Yakin, seorang periset pascadoktoral di Universitas Katholik Leuven di Belgia. Ia selama enam bulan pada tahun 2016 meriset radio Rodja secara intensif.

“Hampir semua da’i mengutuk atau mengecam “modernitas,” kata Yakin. “Para ustadz dan da’i di Rodja mengecam Internet, teknologi, dan televisi – pada saat bersamaan mereka menggunakannya dalam tugas mereka – karena, menurut mereka, hal itu bisa membuat orang tidak patuh pada Allah,” imbuhnya.

Kaum Salafi juga meyakini peran keluarga tradisional dan masing-masing jender, kata Yakin. “Propaganda Radio Rodja sangat bertentangan dengan apa yang diperjuangkan kaum perempuan dalam beberada dekade ini,” ujar dia.

“Bagi para da’i Rodja, perempuan tidak harus bekerja. Bekerja adalah untuk kaum pria. Tempat perempuan adalah di rumah. Bagi perempuan bekerja menjadi fitnah atau godaan, karena akan menimbulkan birahi laki-laki. Pada hakikatnya, ada yang mengatakan bekerja dilarang bagi perempuan.”

Tumbuh Cepat

Sementara stasiun-stasiun kecil muncul dan lenyap, kini ada sekitar 25 stasiun radio utama Salafi di seluruh Indonesia, menurut situs SalafyForum.net.


Bulan lalu, dalam pertemuan Nahdhatul Ulama (NU), para anggota organisasi Muslim moderat itu menyebutkan membesarnya media Salafi “cukup mencemaskan.”

“Dakwah mereka seringkali mencakup penyebaran kebencian terhadap kelompok-kelompok lain, intoleran, dan bertentangan dengan nilai-nilai persahabatan dan perdamaian dalam Islam,” kata Ahmad Najib, seorang pemuka NU.

NU telah mencoba mengimbangi sejumlah media Salafi dengan mendirikan media saingan. Di Cirebon, Jawa Barat, di mana ada dua radio Salafi, NU mendirikan stasiun radio “kontra-propaganda.” Tetapi tidak jelas apakah kedua aliran Islam Indonesia ini saling bersinggungan, dengan kata lain, apakah para pendengar NU sudah pernah mendengarkan konten acara Radio Salafi.

“Jujur saja kami tidak berbuat banyak untuk mengimbangi radio Salafi,” kata Savic Ali, direktur NU Online.

“Kami telah mendirikan beberapa jaringan tetapi tak satupun yang dikelola dengan benar. Ia mengatakan keadaan ini disesalkan karena “pandangan-pandangan Salafi memang meningkatkan ketegangan dengan kaum Muslim tradisional Indonesia, khususnya para anggota NU.”

Pengaruhnya Belum Diketahui

Salafisme telah berkembang terus di Indonesia sejak tahun 1980an, tetapi dampak tepatnya sulit untuk diketahui. Tentu saja, masyarakat Indonesia telah tampak berkembang lebih relijius, tetapi antara lain ini disebabkan oleh adanya ekspresi kebebasan beragaman yang baru setelah kediktatoran sekuler Soeharto berakhir pada tahun 1998.

Salafisme bertentangan dengan Islam tradisional yang toleran di Indonesia. Misalnya, Salafisme menganggap Syiah dan Ahmadiyah adalah sesat.

Baru-baru ini, jaringan Salafi telah menjadi jalur bagi para ekstremis. Meskipun mereka adalah kaum Salafi yang minoritas di Indonesia, ada benih jihadis Salafisme yang terlihat di pesantren Ngruki yang dipengaruhi Salafi di Jawa Tengah.

Yakin mengatakan menurut risetnya, Rodja didanai antara lain oleh oleh gabungan sumbangan, langganan, pengusaha-pengusaha kaya Indonesia, dan juga “menerima dana dari Arab Saudi dan negara-negara kaya lainnya di Teluk Persia.” Rincian pasti mengenai siapa mereka itu, kata Yakin, masih tidak jelas.

Ia mengatakan otoritas penyiaran Indonesia, KPI, “bisa dan harus memantau Radio Rodja, dan ratusan stasiun radio Salafi lainnya di seluruh Indonesia.” [is/hj/np]

sumber voa id

Share this post
:
Comments
0 Comments

Post a Comment

 
Konten boleh dicopy dan disebarkan untuk dakwah | Cantumkan www.muslimedianews.com
Copyright © 2013-2014. Muslimedia News - Media Islam | Voice of Muslim - All Rights Reserved
RSS | Sitemap | MMN dan Redaksi | Disclaimer | Contact | Iklan
Support IT : MK | JT | MT and IT Muslimedia News