Top News :
Home » , , , » Selebaran HTI Dilarang di Masjid Jami Pasuruan, Di Masjid Lain Kapan?

Selebaran HTI Dilarang di Masjid Jami Pasuruan, Di Masjid Lain Kapan?

Posted on Wednesday, 26 April 2017 | garis 20:36

Muslimedianews.com ~ Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) memiliki beberapa media, baik cetak maupun online. Media-media tersebut digunakan untuk menyebarkan propaganda khilafah di masyarakat, baik di masjid, dunia akademik, dan lain sebagainya. Salah satu media cetak HTI adalah buletin Jum'at yang diberi nama buletin AL-ISLAM.

Buletin AL-ISLAM HTI disebarkan di masjid-masjid. Mereka melobi beberapa pengurus masjid yang kurang memahami mengenai gerakan khilafah HTI agar buletin mereka bisa di edarkan di masjid yang jadi targetnya. Biasanya pengurus masjid hanya melihat "o.. itu buletin tentang Islam", tanpa melihat propaganda apa yang disebarkan dan siapa yang menyebarkannya. Bahkan pengurus atau ta'mir masjid yang tidak mengerti tersebut, juga membayar uang buletin HTI. Tidak jarang masjid-masjid yang pengurusnya nahdliyyin pun (orang NU pun) turut membayar karena ketidak mengertian mereka.

Bila pengurus masjid yang memahami tentang propaganda HTI, biasanya buletin mereka dilarang. Tetapi orang HTI tidak diam begitu saja, mereka tetap mengedarkan walaupun tanpa izin ta'mir masjid. Biasanya syabab atau anggota HTI berdiri di pintu gerbang keluar masjid lalu membagi-bagikan kepada jamaah yang  sudah keluar masjid. Bagi masjid yang memiliki pengawasan cukup bagus, HTI tidak memiliki ruang untuk menyebarkan buletin mereka.


Salah satu contohnya seperti kasusyang di beritakan dalam situs bangsaonline ini.

Usai salat Jumat, keluarga besar Ta’mir Masjid Agung Al-Anwar Drs KH Ali Ahmad Sachal menegur seorang yang tidak diketahui identitasnya, membagi-bagikan selebaran yang isinya tentang kajian Islam, berlambang HTI (Hizbut Tahrir Indonesia).

“Selain dari kajian Islam Sidogiri dan As-sunniyah, tidak boleh diedarkan di lingkungan sini,” tegas Gus Ali, kepada Bangsaonline.com, usai salat Jumat (31/4).

Gus Ali menyilakan mengedarkan kertas itu di mana saja, asal jangan di kawasan masjid Jami.

“Dulu dia sudah saya peringati untuk tidak mengedarkan di sini. Gak tahu sekarang kok muncul lagi,” jelas Gus Ali.

Saat itu, dia menyuruh santrinya mencari orang yang nyebarin lebaran, namun tidak dijumpai.

Dan usai salat Jumat kemarin, orang yang menyebarkan edaran itu muncul lagi, dan akhirnya ditegur Habib Ahmad Assegaf. Alasanya, masjid Jami tidak menerima selebaran kertas yang berlambang HTI.

Sementara si penyebar, sosok yang diperkirakan berusia 42 tahun, asal Bukir, Gading, Kota Pasuruan, mengatakan bahwa dirinya sudah 5 tahun kerja mengedarkan lebaran tersebut.

"Tapi tidak ada teguran. Saya tidak mengedarkan di dalam lingkungan masjid, tapi di luar batas lingkungan," kata si pengedar saat berdebat dengan Habib, di depan Bangsaonline.com.

Habib kemudian meminta pengedar agar konfirmasi dan meminta izin langsung ke Gus Ali (Drs KH Ali Ahmad Sachal) terkait selebaran tersebut. “Karena kalau saya sendiri tidak punya hak untuk menyikapi ini, saya hanya menyampaikan amanat,” kata Habib. (afa/ros/bangsaonline)

Link Terkait:


Share this post
:
Comments
0 Comments

Post a Comment

 
Konten boleh dicopy dan disebarkan untuk dakwah | Cantumkan www.muslimedianews.com
Copyright © 2013-2014. Muslimedia News - Media Islam | Voice of Muslim - All Rights Reserved
RSS | Sitemap | MMN dan Redaksi | Disclaimer | Contact | Iklan
Support IT : MK | JT | MT and IT Muslimedia News