Top News :
Home » » Syarah Al-Hikam KH. Sholeh Darat

Syarah Al-Hikam KH. Sholeh Darat

Posted on Wednesday, 19 April 2017 | garis 04:34

Muslimedianews.com ~ KANDUNGAN SYARAH HIKAM KIAI SHOLEH DARAT

Dr. M. In’amuzzahidin, dosen FUHUM UIN Walisongo, dalam penelitiannya bertajuk 'Pemikiran Sufistik Muhammad Salih al-Samarani' menyimpulkan ada beberapa kandungan yang disampaikan Kiai Sholeh Darat kepada pembaca dalam Syarah Hikam-nya, sebagai berikut:

Pentingnya Bersandar Kepada Allah
Iman   atau   kufur;   masuk   surga   atau   neraka, semuanya adalah atas karunia Allah bukan semata-mata karena  ketaatan  atau  kemaksiatan.  Taat  dan  maksiat hanyalah menjadi “sebab” dan tanda bagi orang yang akan  masuk  surga  atau  neraka.  Keduanya  tidak  dapat memberi dampak  pasti  (labet)  bahwa  seseorang  akan masuk  surga  atau  neraka  karenanya seorang  hamba hendaknya  tidak  bergantung   (i‘timad)   kepada   amal amal  baiknya. Cukuplah  bagi  seorang  hamba menyerahkan semuanya kepada kemurahan (fadhal) Allah Swt. setelah   melakukan kebaikan  dan memohon ampunan setelah melakukan kesalahan.

Eksistensi Manusia
Kiai   Sholeh   hendak   mengajak   manusia  untuk memikirkan         keberadaannya. Tuhan telah menciptakannya  tanpa  ia  harapkan  dan  tanpa  meminta lebih  dahulu.  Tetapi,  Allah  telah  memberikan anugerah kehidupan bagi manusia atas kehendak -Nya. Lalu Allah menentukan bagi  manusia ketetapan kematian, rizki, cobaan, dan nikmat.

Ikhlas dalam Beramal

Ikhlas   ada   tiga   jenis.   Keikhlasan   orang   yang beribadah  adalah  ketika  tidak  ada  riya'  dalam  ibadahnya. Baik  samar  apalagi  jelas.  Serta  bebas  dari  ujub  dalam arti   keheranan   pada   amal   sendiri   yang   menjadikan angkuh. Ini adalah kelompok pertama. Adapun  orang-orang  yang  telah  mencintai  Allah, maka  keikhlasannya  adalah  ibadah  yang  dilakukannya karena  cintanya  pada  Allah  dan  untuk  mengagungkan-Nya.  Kelompok  ini  tidak  memperhatikan  ganjaran  atas amalnya. Tidak muncul juga kehendak agar selamat dari neraka. Pandangan cinta dan pengagungan kelompok ini kepada Allah tidak menyisakan tempat untuk keinginan memperoleh surga  atau takut neraka. Ini kelompok kedua. Keikhlasan  ketiga  adalah  keikhlasan  kaum  arif.  Kelompok  ini  memandang  bawa  amal  yang  dilakukan  adalah kehendak    Allah. Bahkan  Allah-lah  yang menggerakkan dan mendiamkan hambanya.

Doa
Doa  seorang  hamba  akan  dikabulkan  oleh  Allah. Ini  adalah  janji-Nya.  Tapi,  seorang  hamba  hendaknya menyadari  bahwa  dirinya tidak memiliki  pengetahuan atas  semua  yang  baik  bagi  dirinya.  Oleh  karenanya, Allah  Dzat  Maha  Tahu  mengabulkan  doanya  dalam bentuk  yang  dikehendaki-Nya  dan  dalam  waktu  yang ditentukan-Nya, yang itu lebih baik bagi seorang hamba yang berdoa.

Zuhud
Amal seorang yang tidak menginginkan dunia itu tidak  dapat  dinilai  kecil.  Barangkali secara lahirnya kecil,  namun  maknanya  begitu  besar.  Ini  dikarenakan amalnya terbebas dari keinginan ria dan keteralihan dari tujuan utama, yaitu ridha Allah. Berbeda halnya  orang  yang  hatinya dipenuhi keinginan  duniawi.  Meskipun  amalnya  secara  lahiriah banyak,  itu  bermakna  kecil.  Amalnya  diperbuat  untuk memperoleh  dunia  dan  disertai  ria  dan lalai  dari  tujuan utamanya.

Syukur
Syukur akan nikmat adalah pelanggeng nikmat itu sendiri. Nikmat terbesar yang paling patut disyukuri adalah  nikmat  iman  dan  Islam. Syukur  itu  ada  tiga macam. Syukur dengan hati, yaitu keyakinan dalam hati bahwa   Yang memberikan   nikmat   hanyalah   Allah semata.  Syukur  yang  kedua  dengan  ucapan  melalui lisan. Syukur yang ketiga adalah dengan anggota badan, yakni dengan menggunakan setiap anggota badan sesuai tujuan penciptaannya atau sesuai kehendak Penciptanya.

Mawas diri
Kehendak  kuat  untuk  introspeksi  diri  sendiri  itu lebih baik daripada keinginan untuk mengetahui hal-hal yang  masih  samar.  Ingin  tahu  yang  ghaib  atau  ingin mampu meng-kasyf orang lain misalnya.

Ma'rifah
Amal  yang  disertai  ma'rifah,  meski  sedikit,  itu lebih   utama  daripada  amal  tanpa  disertai  ma‟rifah, meski  banyak  secara  lahiriah.  Ma‟rifah  itu  adalah seperti  seorang  yang  sakit  kemudian dalam  hatinya muncul    kesadaran    bahwa    hanya    Allah-lah    yang menganugerahi  kesehatan.  Ia  menyadari  bahwa  dirinya begitu lemah dan tanpa sedikitpun daya.

Mewaspadai Karamah

Ketika  seseorang  yang  berada  dalam  perjalanan spiritual   mengalami   hal-hal   luar   biasa,   hendaknya jangan dihiraukan. Itu hanyalah salah satu stasiun-antara dan bukan tujuan apalagi tujuan akhir.

Syarah Hikam KH. Sholeh Darat
406 Halaman
Bahasa Indonesia dan Jawa Pegon

Share this post
:
Comments
0 Comments

Post a Comment

 
Konten boleh dicopy dan disebarkan untuk dakwah | Cantumkan www.muslimedianews.com
Copyright © 2013-2014. Muslimedia News - Media Islam | Voice of Muslim - All Rights Reserved
RSS | Sitemap | MMN dan Redaksi | Disclaimer | Contact | Iklan
Support IT : MK | JT | MT and IT Muslimedia News