Top News :
Home » » Semua Ahlul Bait adalah Sahabat Rasulullah

Semua Ahlul Bait adalah Sahabat Rasulullah

Posted on Tuesday, 19 December 2017 | garis 04:22

Muslimedianews.com ~ "Ahlul Bait semuanya adalah Sahabat Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam ". Demikian penjelasan Guru Mulia al Habib Umar bin Hafidz Hafidzohullah saat Teleconference Pengajian Kitab Adabul Alim Wal Muta'allim, karya pendiri NU, Hadratussyaikh KH Hasyim Asy'arie, yang diadakan PBNU bekerjasama dengan Majelis al Muwasholah Baina Ulama'il Muslimin di Lantai VIII Kantor Pengurus Besar Nahdlatul Ulama' (PBNU), Rabu sore, 6 Desember 2017. 

   

Beliau menyampaikan bahwa Manhaj Ahlissunnah wal Jama'ah tidak membedakan pengagungan (ta'dzim) antara sahabat dan ahlul bait. Ada manhaj yang ghuluw dan ifroth wattafrith (ekstrim), yaitu yang mengagungkan Ahlul Bait dan menghina sahabat dan ada juga yang sebaliknya. Menurut Guru Mulia, al Habib Umar Hafidzhohullah, 160 ribu sahabat adalah ahlul jannah (penghuni surga). "Kalau kita sebut ahlul bait maka adalah sahabat nabi. Semua ahlul bait adalah sahabat, termasuk Sayyidina Hasan dan Husein" katanya. Bahkan Sayyid Ja'far Shodiq menyatakan, "Aku dilahirkan Sayyidina Abu Bakar dua kali"



Mbah Hasyim Asy'ari Rohimahulloh menurut Habib Umar Hafidzohulloh, sangat dalam pemahamannya (rusukh) terhadap Ahlussunnah Wal Jama'ah. Hal itu dapat dari muqoddimah Adabul Alim, kitab karyanya. Yaitu penyebutan kalimat "Wa ala alihithoyyibin wa shohbihitthohiriin ajma'in (Keluarga Nabi yang baik dan Para Sahabatnya yang suci). Hadratussyaikh KH Hasyim Asy'arie mengagungkan mereka tanpa kecuali. 




Dilihat dari sanad ilmunya, kata Habib Umar, Kyai Hasyim Asy'arie belajar dengan Sayyid Abbas al Malikiy. Sayyid Abbas ini di zamannya, banyak bertemu ulama' Hadromaut dan saling bertukar ijazah, ketika mereka pergi haji. Karena itu ada Ittisholussanad (persambungan sanad) antara mereka. Dengan demikian, Kakeknya Habib Umar, yaitu al Habib Salim bin Hafidz dan Mbah Hasyim adalah satu guru, yaitu Sayyid Abbas al Malikiy Rohimahullah



Selanjutnya, al Habib Umar Hafidzohulloh, menjelaskan hadis kewajiban orang tua terhadap anak. Yaitu, memang harus diberi nama yang baik. Kebanyakan perilaku yang tidak baik itu karena nama. Jika ada yang namanya baik, tapi berperilaku tidak baik, jumlahnya sedikit. Kewajiban selanjutnya, yaitu memberikan susuan yang baik. Karena susu dapat mempengaruhi kepribadian. Karena itu isteri juga harus makan yang baik. Maka zaman dahulu kalau menyusui anak sambil dzikir dan baca al Qur'an. 



Pengertian al Huda yang dikatakan Ibnu Sirin dalam kitab adalah yaitu tauhid dan i'tiqod. al Habib Umar Hafidzohulloh juga menjelaskan tentang pentingnya belajar adab. Sayyidina Hasan al Basri Rohimahulloh adalah generasi kedua dari Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam. Tapi perhatian beliau kepada adab, luar biasa. ada orang belajar sama Imam Malik, 20 tahun. 18 tahun belajar adab, 2 tahun belajar ilmu. Dia menyesal kenapa tidak 20 tahun saja dia belajar adab. Padahal Imam Malik Rodliyallohu Anhu luar biasa. Kalo beliau wafat, mungkin ilmunya masih ada gantinya, namun adabnya tidak bisa. al Habib Umar juga menjelaskan bahwa seseorang hendaknya bermusafir agar ia dapat mendidik dirinya. 



Hadratussyaikh KH Hasyim Asy'arie Rohimahulloh menurut al Habib Umar Hafidzohulloh adalah ahludzzauq dan al arif bilah yang berhasil menggabungkan antara ilmu iman, islam dan ihsan. Inilah manhaj para kyai indonesia sehingga mereka dapat mencapai derajat ihsan dan mencapai syahadatul ghoib. Baginda Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam adalah al Mizanul Akbar, karena itu, ajak Habib Umar, mari kita jadikan Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam menjadi tindakan kita, pemikiran kita. Bagaimana setiap masalah dikembalikan kepada Baginda Rasul, jadikan Baginda Rasul sebagai hakim. Umat Islam banyak yang terkecoh, dengan pemikiran, pemahaman, pandangan dan kepribadian. Masuknya pemikiran orang yang berseberangan dengan Nabi. Masuk di sekolah-sekolah kita. Jadikan Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam sebagai suri tauladan kita dan jadikan Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam sebagai ukuran. 



Sebelum pengajian, guru mulia terlebih dahulu mengucapkan ribuan terimakasih kepada acara ini dan seluruh yang hadir. Sebelum kitab Adabul Alim, beliau lebih dulu membaca kitab karangan Syekh Yahya yang menceritakan siroh dan sifat Rasulullah Shalllallahu alaihi Wa Sallam. Kitab itu merupakan kesimpulan dari pengarang. Selesai beliau mengarang, beliau dijumpai Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam dan Baginda Rosul sangat gembira dan ditepuk punggung beliau oleh Baginda Rasul. Untuk membuktikan hal tersebut, al Habib Abu Bakar al Aydrus al Adny dan Syaikh Abu Bakar Asseggaf saat naik haji ke Mekah, bersinggah menemui Syekh Yahya al Amri, dan berkata kepadanya, "Kami ingin melihat bekas telapak tangan Nabi yang mulia". Karena yang minta adalah cucu Rasulullah, maka hal itu akhirnya beliau tampakkan. Dan terbukti ada bekasnya. Suatu hal yang sangat luar biasa. 



Di akhir pengajiannya, al Habib Umar menitipkan kirim salam kepada kyai-kyai yang tidak hadir dan terimakasih atas kunjungan para kyai di Tarim beberapa waktu yang lalu. "Bulan depan nanti mengaji lagi" katanya. Insya Allah Subhanahu Wa Ta'ala.  



Pengajian Teleconference ini terselenggara berkat kerjasama antara Majelis al Muwasholah Baina Ulama'il Muslimin dan Pengurus Besar Nahdlatul Ulama' (PBNU). Perwakilan Majelis al Muwasholah, al Habib Sholeh al Jufri Hafidzohulloh, mengatakan Majelis al Muwasholah telah berdiri dan aktif bekerja sejak 2007 yang dibentuk ulama bersama Habib Umar saat mengadakan pertemuan internasional ulama' Singapura, Brunei, dan Timur Tengah di Wisma Kopo, di Bogor. "Alhamdulillah sejak 10 tahun telah mengadakan dauroh ilmiah, majelis-majelis dan multaqo Ulama". Di antara tempat-tempat kegiatan Majelis al Muwasholah adalah di Jawa Timur, Pamekasan, tempat Kyai Rofii. Di Lirboyo tiga tahun lalu, Haul Masyasyikh pada tahun 2007. Di Tebu Ireng, Jombang, Jawa Timur, yang jadi ketua panitia Gus Sholah. "Kurang lebih 3000 ulama di daerah hadir untuk memfatihahi para ulama' di antaranya Mbah Hasyim dan ulama lainnya yang sudah berjasa dan menyatukan umat, mendidik bangsa, patut kita hauli dan dihadiri langsuung oleh Habib Umar, kita buat dauroh juga di Tarim, kita ajak para ulama' Indonesia ziarah". Kerjasama terakhir adalah kerjasama dengan NU di Hotel Crown, bersma KH Miftahul Akhyar demi kepentingan bangsa dan umat. 



Pengajian Teleconference ini, menurut al Habib Sholeh al Jufrie adalah program perdana Ngaji Bareng Habib Umar. Kitabya adalah kitab pilihan al Habib Umar sendiri. "Saya ajukan beberapa kitab Mbah Hasyim, ini (Adabul Alim) yang beliau pilih" katanya. Beliau berharap semoga setelahnya kita dapat menelurkan hal-hal bermanfaat untuk NU dan umat Islam di Indonesia dan dimana saja berada. Semoga mendapatkan keberkahan dengan kerjasama ini, sebagaimana prinsip at ta'awun alal birri wattaqwa dan Yadullohi Ma'al Jama'ah. Beliau menambahkan bahwa umat Islam saat ini banyak problematika, yaitu adanya manusia-manusia yang ingin memecah belah bangsa kita dan NKRI yang lebih dalam lagi akan memecah belah umat Islam itu sendiri. Dengan Muwasholah diharapkan kita berperan aktif menjaga umat Islam dari saling benci, tuduh, dan menyalahkan, membunuh sebagaimana terjadi di belahan dunia lainnya, "Jangan sampai terjadi di negeri kita, wabilkhusus yang ada di NU, yang dahulu para alim ulama telah menjaga aktif dan melahirkan NKRI yang berdiri atas jasa dan peran ulama, sepatutnya dipertahankan dengan kerjasama".



Sementara itu, Sekjen Tanfidziyah PBNU, Helmi Faisal, Hafidzohulloh menyampaikan bahwa Majelis muwasholah sudah bekerjasama dalam berbagai kesempatan. Tugas NU, menurutnya, jika dilihat dari gugus fungsinya, adalaah sebagai jam'iyyah diniyah ijtima'iyyah. Tugas pertama wathoniyah dan kedua diniyah. Dalam peran tafaqquh fiddin, NU sudah terlibat dalam pendidikan karakter. Tak kurang Dr. Sutomo, mengatakan bahwa jauh sebelum Hindia Belanda mendirikan sekolah, pesantren telah menjadi mata air ilmu bagi bangsa. Pesantren menjadi pilar utama. NU sebagai peran pemersatu umat/liyundziru qouman. Indonesia memiliki banyak suku. Negara lain tidak serumit Indonesia, seperti Yaman, Suriah dan Turki. Di Indonesia sudah macam-macam. Warna kulit beda-beda. Rasanya beda. Bung Helmi bersyukur, Alhamdulillah NU telah jadi bagian utama NKRI. Meminjam bahasa Presiden, Kapolri dan Panglima TNI, tanpa NU, negara sudah bubar. Dia berharap semoga majelis ini menjadi penggerak kebangsaan dan spirit keagamaan. Dan mengucapkan selamat Ngaji Bareng. semoga kita mendapat keberkahan.



Sambutan lainnya, dari KH. Miftahul Akhyar (Wakil Rois Am Syuriah PBNU) mengatakan Mbah Hasyim Asy'ari Rohimahulloh adalah pendiri NU dan peletak pondasi awal kemerdekaan Republik Indonesia.



Sebelum pengajian berlangsung, diadakan dialog interaktif terlebih dahulu sambil menunggu koneksi dengan Yaman. Dipimpin moderator Ust Nur Yaqin dari Wakil Sekjen PBNU. Dalam dialog itu terdapat tiga pertanyaan dari peserta pengajian, yaitu Ustadz Gufron, Kuningan Jakarta Selatan, Gus Nur dari Bekasi dan Darul dari Depok. Ustadz Ghufron bertanya soal polemik Islam nusantara yang dinilainya menjadi masalah dan dikotomisasi?. 



Pertanyaan itu dijawab oleh Sekjend PBNU bahwa al Maghfur Lah, KH. Abdurrahman Wahid, (Gus Dur) sering menyampaikan adanya  perbedaan paradigma hubungan antara agama dan negara. Pertama, paradigma universal, agama dan negara sama. Kedua, sekularistik, tidak ada hubungan agama dan negara, yaitu di Eropa, dll. Ketiga, paradigma simbiotik dan harmoni, yaitu di kawasan asia dan Indonesia, yang kita anut. Islam Nusantara adalah wujud hal itu. Manhajul Fikr. Konflik yang kerap terjadi adalah karena gagal faham. Di Indonesia, Indonesia negara bangsa tapi ada UU Perkawinan, UU Haji, dst. Indonesia sudah bersyariah tanpa label syariah. Pengalaman model dakwah yang dikembangkan di berbagai tempat mengajarkan bahwa Islam yang masuk melalui jalur peperangan dan budaya berbeda. Seperti Spanyol, saat ini tinggal cerita dan museum saja, karena dakwahnya via perang. Akhirnya melahirkan dendam sejarah. Di Indonesia, para Wali Songo dakwahnya dengan menggelar konser wayang. Tiket masuknya dengan membayar syahadatain. Muncullah istilah sekatenan. Hal ini harus kita yakini sebagai sebuah kebenaran dakwah yang dibawakan oleh ulama'.



Pertanyaan kedua disampaikan Darul dari Depok yaitu apa makna Darul Islam di kitab Bughyatul Mustarsyidin yang menjadi rujukan Fatwa Ulama NU tahun 1936 di Banjarmasin untuk menetapkan kawasan Hindia Belanda sebagai Darul Islam? Pertanyaan ini dijawab KH Mustofa Aqil Siradj yaitu maknanya bisa darussalam. Juga dapat dimaknai Darussholah. Banyak maknanya. Tidak hanya satu. "Pirang-pirang maknane" kata beliau yang intinya tidak kontradiktif dengan istilah NKRI sebagai Darussalam yang sering dikemukakan oleh Prof. Dr. KH. Said Aqil Siradj, (Ketua Umum PBNU) Hafidzohulloh



Pertanyaan ketiga dari Gus Nur, Bekasi, yang mengeluhkan hujatan dan bully kepada NU. Dijawab oleh al Habib Sholeh al Jufri, Solo, dari Majelis al Muwasholah yaitu agar warga NU jangan terpancing untuk berubah adab dari garis ulama'. Banyak NU dibully. Jangan terpancing untuk membalas keburukan dengan keburukan. Kita aktif hidupkan akhlak aswaja, karakter kyai. Sekalipun manhajnya beda, jangan membuat front dengan kelompok lain. Habib Sholeh mohon kita harus aktif dakwah. Kita lihat kisah Nabi Yusuf Alaihissalam ketika dipenjara. Orang-orang penjara melihat Nabi Yusuf seperti Rasul, cerdas dan menyejukkan. Ketika dia menjadi menteri, kesan itu juga terlihat. Habib Sholeh mendoakan semoga NU berjaya dan memimpin bangsa. 

  

Sementara itu, al Habib Ahmad bin Novel Jindan Hafidzohulloh dalam sambutannya menyatakan bahwa NU memiliki andil yang sangat besar dalam mendirikan bangsa dan menyebarkan agama ke seluruh dunia. Fondasinya adalah Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam sebagai rahmat bagi semesta alam. Salah satu sifat Rasulullah Shalllallahu Alaihi Wasallam adalah turut menderita kalau musuhnya menderita. Tidak ada manusia yang seperti itu. Para ulama dan Wali Songo, kata Habib Ahmad, mewariskan kasih sayang. Ini fondasi awal sejak pertemuan murid dan guru. "Kakek saya belajar dengan Kyai kholil Bangkalan dan bersahabat dengan KH Hasyim Asy'ari". Beliau menyampaikan hadis musalsal bil awwaliyah kepada saya. agar merahmati dan menyayangi orang yang ada di muka bumi. Kata beliau "Aku wasiatkan engkau kasih sayang segala sesuatu sekalipun kepada binatang yang sunnah dibunuh, seperti kalajengking". Inilah ajaran orang-orang tua kita, kata Habib Ahmad. 



Sambutan lain dari Prof Dr KH Mahfudz, Hafidzohulloh dari akademisi NU yang menyampaikan pentingnya menegaskan perbedaan kampus NU dengan yang lain. Kader NU harusnya bisa mewarnai lembaga pendidikan dengan pemikiran NU / Hadratussyaikh KH Hasyim Asy'arie. Mewarnai pendidikan dengan kitab Adabul Alim Wal Muta'allim karya Mbah Hasyim. "Kalau tidak bisa mewarnai sistem pendidikan, NU bubar saja" tegasnya 


Terakhir, sebagaimana al Habib Umar mengucapkan terimakasih, maka PBNU juga mengucapkan terimakasih kepada al Habib Umar bin Hafidz Hafizohulloh. dan segenap kru dan panitia pelaksana yang telah bertugas . Selanjutnya panitia menyerahkan kenang-kenangan Kitab Adabul Alim Wal Muta'allim kepada al Habib Soleh al Jufri, dan al Habib Ahmad Bin Novel Jindan dari Majelis al Muwasholah. Semoga terus tersambung silaturrahim, silatul fikri, ilmi dan amal. Aamin ya Robbal Alamin. *** (Laporan Darul Qutni, Pimred Suara NU Panmas).   

Ranting NU Panmas 

Share this post
:
Comments
0 Comments

Post a Comment

 
Konten boleh dicopy dan disebarkan untuk dakwah | Cantumkan www.muslimedianews.com
Copyright © 2013-2014. Muslimedia News - Media Islam | Voice of Muslim - All Rights Reserved
RSS | Sitemap | MMN dan Redaksi | Disclaimer | Contact | Iklan
Support IT : MK | JT | MT and IT Muslimedia News