BREAKING NEWS
latest

728x90

468x60

Monday, April 23, 2018

Ketentuan dalam Shalat Jenazah

Muslimedianews.comShalat merupakan salah satu ibadah wajib dilakukan oleh setiap umat Islam tanpa terecuali, hingga akhir hayatnya. Oleh karena itu ketika ada keluarga atau saudara semuslim yang meninggal dunia hukumnya fardhu kifayah bagi kita untuk menshalatinya. Namun, ada seseorang yang lebih utama untuk menshalati orang yang meninggal yaitu mereka yang sudah diberi wasiat oleh si mayat sebelum meninggal, ulama’, orangtua, anak, kerabat dekat, hingga masyarakat muslim. Dan berikut ini hadist yang memerintahkan untuk kita menshalati orang yang sudah meninggal:

صَلُّوْا عَلَى صَا حِبِكُمْ
Shalatlah kalian atas teman kalian” (HR. Imam Bukhori no. 2298). (lihat Abu Baka, Panduan Lengkap Ibadah Seorang Muslim, [Jakarta: Pustaka Ibnu Umar, 2009), hal. 206)

Dari hadist di atas sudah sangat jelas bahwa, kita yang masih sehat diperintahkan untuk menshalati saudara yang sudah meninggal. Akan tetapi dalam ada beberapa golongan yang tidak wajib untuk dishalati. Di antaranya yang pertama yaitu anak kecil yang belum baligh, karena dianggap masih suci (belum memiliki dosa). Hal ini merujuk dalam perkataan Aisyah r.a bahwa:

مَا تَ اِبْرَاهِمُ ابْنُ النَّبِيِّ صلى االله عليه وسلم وَهُوَ ابْنُ ثَمَا نِيَةَ عَشَرَ شَهْرًا فَلَمْ يُصَلِّ عَلَيْهِ رَسُولُ الله صلى االله عليه وسلم
Ketika Ibrahim putra Nabi Saw. meninggal dunia saat berusia delapan belas bulan, Rasulullah Saw. tidak menshalatinya”. (lihat Muhammad Nashiruddin al-Albani, Hukum dan Tata Cara Mengurus Jenazah menurut Alquran dan as-Sunnah, [Bogor: Pustaka Imam Asy-Syafi’i, 2006], hal. 196)

Dan yang kedua yaitu orang yang mati syahid, hal ini karena dianggap mereka telah berjuang membela Islam hingga rela nyawanya hilang.

Berikut ini adalah tata cara shalat jenazah yaitu:

1.    Membaca niat shalat jenazah dalam hati
Bacaan niat untuk jenazah laki-laki:
اُصَلِّى عَلَى هَذَا الْمَيِّتِ اَرْبَعَ تَكْبِيْرَاتٍ فَرْضَ الْكِفَايَةِ لِلهِ تَعَالَى
Bacaan niat untuk jenazah perempuan:
اُصَلِّى عَلَى هَذَا الْمَيِّتَةِ اَرْبَعَ تَكْبِيْرَاتٍ فَرْضَ الْكِفَايَةِ لِلهِ تَعَالَى
Bacaan niat untuk jenazah ghaib:
اُصَلِّى عَلَى الْمَيِّتِ الْغَائِبِ (فُلَانْ) اَرْبَعَ تَكْبِيْرَاتٍ فَرْضَ الْكِفَايَةِ لِلهِ تَعَالَى
Ketika shalat jenazah tentu harus dalam keadaan suci, berdiri dan menghadap kiblat. Untuk posisi imam saat jenazahnya laki-laki adalah sejajar dengan kepala mayat. Tapi, jika jenazahnya perempuan maka posisi imam berada di tengah-tengah pusar. Dan dalam tatanan shaf shalat jenazah ini sebaiknya dibagi menjadi tiga shaf. 

Apabila dalam satu kesempatan terdapat mayat laki-laki, perempuan, anak-anak, dan banji. Maka yang ditempatkan mengiringi imam adalah mayat laki-laki, kemudian anak-anak, banci dan perempuan.

Selanjutnya ketika ada banyak mayat dan sama jenisnya, maka satu mayat membelakangi mayat lainnya agar imam bisa menghadap ke semua kepala. Dan apabila semuanya khuntsa musykil maka posisi mayat diletakkan dalam satu barisan, agar tidak ada perempuan yang mendahului laki-laki.

2.    Takbir empat kali
Takbir pertama, mengangkat tangan dan membaca surat al-Fatihah.
Kemudian takbir yang kedua membaca shalawat:
اَللهمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَ عَلَى اَلِ مُحَمَّدٍ كًمَا صَلَّيْتَ عَلَى اِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى اَلِ اِبْرَاهِيْمَ وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَا رَكْتَ عَلَى اِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى اَلِ اِبْرَاهِيْمَ فِى الْعَالَمِيْنَ اِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ
Takbir yang ketiga adalah mendoakan mayat denga do’a berikut:
اَللّهُمَّ ا غْفِرْ لِحَيِّنَا وَمَيِّتِنَا وَصَغِيْرِنَا وَكَبِيْرِنَا وَذَكَرِنَا وَاُنْثَانَا وَشَاهِدِنَا وَغَائِبِنَا. اَللّهُمَّ مَنْ اَحْيَيْتَهُ مِنَّافَاَحْيِهِ عَلَى الْاِسْلَامِ وَ مَنْ تَوَفَّيْتَهُ مِنَّا فَتَوَفَّهُ عَلَى الاِيْمَانِ. اَللّهُمَّ لاَ تَحْرِمْنَا اَجْرَهُ وَلاَ تَفْتِنَّا بَعْدَهُ
Dan pada takbir yang terakhir, diam sejenak atau membaca do’a:
اللهُمَّ لاَ تَحْرِمْنَا اَجْرَهُ وَلاَ تَفْتِنَّا بَعْدَهُ وَا غْفِرْلَنَا وَلَه
Kemudian salam.
3.    Dan jika kita menjadi makmum masbuk dalam shalat jenazah, maka langsung ikuti gerakan imam pada saat itu.


Penulis : Yuyun Rohmawati
*Mahasiswa jurusan PAI UIN Malang
« PREV
NEXT »

No comments