Top News :
Home » , » Menguak Asas Pemikiran Gus Dur

Menguak Asas Pemikiran Gus Dur

Posted on Monday, 23 April 2018 | garis 08:45

Muslimedianews.com“Hal yang misterius dan hanya Allah yang mengetahuinya, selain jodoh, maut, rejeki adalah Gus Dur” (Nurcholish Majid)

            Nama lengkap beliau Abdurrahman Wahid lahir dari pasangan Wahid Hasyim dan Solihah di Denanyar, Jombang, Jawa Timur pada 7 September 1940. Beliau lahir dengan nama Abdurrahman Addakhil, “Addakhil” berarti “Sang Penakluk”. Kata “Addakhil” tidak cukup dikenal oleh masyarakat yang kemudian diganti dengan nama “Wahid”, dan kemudian lebih dikenal dengan panggilan Gus Dur. “Gus” adalah nama panggilan kehormatan dan rasa Tahdzim khas pesantren kepada anak seorang pemilik pesantren atau Kiyainya yang berarti “abang” atau “mas”.

Mendengar namanya yang sangat mashur akan terlintas dalam benak seseorang kata-katanya “Gitu Aja Kok Repot” yang menjadi ciri khas atau mungkin sebagai bahan candaan yang sering masyarakat gunakan.

            Studi belajarnya Gus Dur sangatlah menarik untuk kita kaji karena tidak banyak orang yang  mengetahuinya. Yang pertama, beliau memilki basis kultural Nahdatul Ulama (NU), sebuah tradisi mengaji semenjak beliau kecil yang tidak hanya dari pesantren milik keluarganya sendiri tetapi juga pesantren-pesantrn lainnya, Kedua, secara formal ia mengenyam pendidikan di Universitas ternama Baghdad tahun 1970 lalu ia merambah pendidikan formalnya ke Universitas Laiden Netherland (Belanda), hingga beliau sempat belajar di Universitas Perancis dan juga Jerman sebelum ia totalitas berkiprah kembali ke Indonesia.

            Karir pendidikan yang ia tempuh semenjak berada di Indonesia memang berangkat dari sosok kritis dalam diskursus ide-ide perkembangan islam-kebangsaan-politik dan seterusnya hingga ia mempu menciptakan/melahirkan beberapa ketajaman rasional kritisnya terlebih pada era pemerinthan Orde Baru. Tidak hanya itu, beliau bahkan sempat menjabat sebagai jurnalis di majalah Horizon dan majalah Budaya Jaya.

            Si samping itu juga ia bergabung dengan Lembaga Penelitian, Pendidikan dan Penerangan Ekonomi dan Sosial (LP3ES) organisasi-organisasi yang terdiri dari kaum intelektual muslim progresif dan sosial demokrat. LP3ES mendirikan majalah yang disebut “Prisma” dan Gus Dur menjadi salah satu kontributor utama majalah itu.

            Pada tahun 1982 Gus Dur mulai beranjak dan berani tampil sebagai jurkam kampanye Partai Persatuan Pembangunan (PPP) yang jelas bertentangan dengan Partai Golkar yang notabennya sebagai partai penguasa pada masa Orde Baru.

            Indikasi pemikiran Gus Dur dan NU sangatlah kental. Keduanya bagaian magnet yang tidak dapat dipisahkan oleh sejarah ayah dan kakeknya sendiri, bahkan dukungan besar istrinya. Karenanya bisa disimpulkan beberapa hal sederhana mengenai kepemimpinan yang dilakukan Gus Dur.

            Pertama, ia adalah tokoh agama dan seorang kiyai. Edukasi pesantrennya yang sudah mendarah daging tak bisa dihilangkan meskipun ia menjabat sebagai seorang prseiden. Hingga ia tak menggunakan ajudan dan protokoler resmi kenegaraan melainkan menggantinya dengan istilah juru bicara kepresidenan. Dan istilah itu masih digunakan sampai sekarang.

            Fuad Anwar (2004) mengutip ketika Gus Dur menjadi pemimpin NU ia tampil dengan gaya sorang Kiyai yang medok. Sedikit orator tapi akomodatif, seimbang antara kepentingan bersifat duniawi dan kepentingan yang bersifat ukhrawi tetapi tetap korelatif. Dan sepertinya gaya kepemimpinan kiyai ini tetap ia pertahankan hingga ia menjabat menjadi orang nomor satu Indonesia yaitu Presiden Republik Indonesia sekalipun. Kesan itulah yang kemudian pada kepemimpinan Gus Dur bergaya sebagai seorang Kiyai bukan sebagai seorang Politisi sehingga cenderung mengandalkan gaya dan bersikap intuitif yang tidak rasional (Munadi Herlambang, Jejak Kiyai Jawa. 2010.) hlm.146
            Dengan demikian Gus Dur menerapkan kepemimpinan intuitifnya di berbagai lini pemerintahan, situasi dan kondisi. Akibatnya nyaris pada semua keputusan yang ia ambil terkesan bersifat trial and error. Hal itu bererti bertentangan dengan gaya kepemimpinan pada umumnya yang menggabungkan berbagai lini; antara kepemimpinan yang rasional dan kepemimpinan yang intuitif.

            Akhirnya, dengan gaya kepemimpinan tersebut beliau terpaksa dilengserkan karena selalu bersifat kontroversi dan sering menimbulkan stabilitas kepemerinthan yang tidak kondusif.

Penulis :  Jimi Muhammad



Share this post
:
Comments
0 Comments

Post a Comment

 
Konten boleh dicopy dan disebarkan untuk dakwah | Cantumkan www.muslimedianews.com
Copyright © 2013-2014. Muslimedia News - Media Islam | Voice of Muslim - All Rights Reserved
RSS | Sitemap | MMN dan Redaksi | Disclaimer | Contact | Iklan
Support IT : MK | JT | MT and IT Muslimedia News