Top News :
Home » » Bulan Ramadhan, 'Menghamba' al-Qur’an (?)

Bulan Ramadhan, 'Menghamba' al-Qur’an (?)

Posted on Monday, 11 June 2018 | garis 14:03

Muslimedianews.com ~  Bulan Ramadhan merupakan bulan yang mulia, dimana sesuai dengan firman Allah bahwa diwajibkan bagi umat Islam untuk berpuasa. Bulan ini kerap kali menyandang kata “suci” yang dianalogikan dengan sebuah hadis riwayat Bukhori, “barang siapa yang berpuasa pada bulan ramadhan karena iman dan mengharap pahala (ridha-Nya), maka diampuni dosa-dosanya yang terdahulu”. Kegamblangan hadis yang menyatakan bahwa bulan Ramadhan adalah bulan untuk pengampunan segala dosa dan pengharapan pahala berarti manusia sepenuhnya bersih dari dosa dan suci kembali seperti baru terlahir. Tidak salah jika ada orang yang menyebut bulan Ramadhan dengan julukan “bulan yang suci dan mulia”.
Bulan Ramadhan dapat dikatan sebagai bulan yang berbeda dari bulan-bulan biasa. Mengapa demikian? Adanya hadist riwayat Bukhori di atas mampu memberikan suntikan positif bagi orang Islam. Mereka yang awalnya sering menggunjing jadi lebih memilih diam, awalnya mereka yang biasanya emosi tinggi lebih bisa dikurangi dan ditahan, awalnya mereka yang jarang sekali sholat tahajjud menjadi lebih sering karena bersamaan dengan sahur, awalnya mereka yang bisanya tidak melakukan sholat sunnah menjadi lebih sering melaksanakannya, dan mereka yang awalnya jarang membaca al-Qur’an mejadi berlomba-lomba untuk mengkhatamkan al-Qur’an di bulan ini. Hal ini jelas sangat mempengaruhi pribadi umat Islam bahwa adanya energi positif yang mendorongnya untuk melakukan segala hal positif tersebut secara spontan.
Islam tidak hanya mengajarkan menahan segala sesuatu yang membatalkan puasa di Bulan Ramadhan ini. Namun bulan Ramadhan juga mengajak orang Islam untuk berburu pahala dan menata diri untuk perubahan yang lebih baik. Perubahan yang terjadi pada bulan ramadhan ini salah satunya adalah giatnya membaca al-Qur’an. Seperti yang diketahui bahwa al-Qur’an merupakan kitab suci umat Islam yang membacanya bernilai ibadah. Namun tidak dipungkiri bahwa pada hari-hari biasa jarang sekali orang untuk membaca al-Qur’an, bahkan menyentuhnya pun tidak. Terlebih pada zaman generasi milenial (anak zaman now) yang dikuasai oleh teknologi ini, al-Qur’an hanya dianggap sebagai pajangan belaka. Zaman generasi milenial ini sangat jarang dengan adanya anak mengaji al-Qur’an dan menargetkan berapa kali khatam. Meskipun terdapat anak yang membaca al-Qur’an, kemungkinan besar bahwa ia tidak khatam selama setahun. Hal ini tidak lepas dari pengaruh perkembangan teknologi, salah satunya gadget.
Teknologi sangat mempengaruhi kehidupan dan pikiran anak zaman now. Namun adanya bulan ramadhan semua keadaan tersebut seakan berbanding terbalik. Mereka yang awalnya jarang membaca al-Qur’an menjadi lebih bersemangat untuk mengkhatamkan al-Qur’an. Seolah bulan ramadhan merupakan iming-iming bagi anak-anak untuk mendapatkan mainan yang mahal. Begitupun mereka yang pasalnya jarang sekali membaca al-Qur’an di hari-hari biasa, maka di bulan ramadhan ini mereka seolah berlomba-lomba untuk rajin membaca al-Qur’an dan melakukan segala hal yang bisa mendapatkan pahala dan pengampunan dosa. Iming-iming ini seolah bisa dikatakan bahwa muslim memang “menghamba” al-Qur’an.
Kategori hamba biasanya dianalogikan dengan melakukan apa saja untuk mendapatkan pujian dari tuannya. Begitu pula orang Islam yang membaca al-Qur’an untuk mendapatkan pahala dari Allah, terlebih pada bulan Ramadhan. Di sini terdapat indikasi bahwa peran al-Qur’an sebagai jembatan untuk memperoleh pahala. Hal ini kerap sekali dilakukan pada bulan Ramadhan. Misalnya ketika Ramadhan tiba, seorang anak mentarget untuk membaca al-Qur’an dengan berapa kali khatam dan bisa jadi berlomba dengan temannya. Padahal sebelumnya membaca al-Qur’an pun belum sampai khatam dalam setahun. Faktor lingkungan dan pergaulan menjadi salah satu faktor penyebabnya. Pasalnya, di zaman milenial ini gadget memegang penuh kendali pengaruh dalam generasi milenial. Hal ini semakin memacu orang enggan dalam membaca al-Qur’an.
Seorang Muslim seharusnya memposisikan diri untuk mengagungkan al-Qur’an. Lalu apakah arti al-Qur’an bagi mereka? Pada hakikatnya, al-Qur’an merupakan kitab suci umat Islam yang seyogyanyatidak hanya dibaca, namun juga dipahami dan ditelaah untuk diketahui hikmah di dalamnya yang nantinya dapat diaplikasikan di kehidupan sehari-hari. Namun, hal tersebut jarang sekali dilakukan. Hanya saja ada segelintir orang yang memang mempraktekkan hal tersebut dalam kehidupannya. Hal ini bukan berarti tidak ada yang membaca, memahami, dan mengaplikasikannya sama sekali. Hanya saja perlu adanya pendekatan dan membiasakan diri untuk lebih menghargai kitab suci al-Qur’an.
Kebiasaan membaca al-Qur’an harus ditanamkan sejak dini. Imam Nawawi dalam kitabnya at-Tibyan fi Hamalat al-Qur’an mengatakan bahwa sejak dini, seorang anak harus diajarkan tentang akhlaq yang baik sehingga nantinya ketika beranjak dewasa mereka terbiasa dan spontan teringat ketika meninggalkannya termasuk salah satunya membaca al-Qur’an. Membaca al-Qur’an memang bukan menjadi suatu kewajiban di bulan ramadhan. Namun membaca al-Qur’an menjadi sebuah keharusan agar lebih mengenal Tuhannya. Dari sini diharapkan bahwa giatnya membaca al-Qur’an tidak hanya dilakukan ketika bulan Ramadhan tiba, melainkan juba setelah Ramdhan dan seterusnya. (Wallahu A’lam) Penulis :
'Azzah Nurin Taufiqotuzzahro Mahasiswa UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta


Share this post
:
Comments
0 Comments

Post a Comment

 
Konten boleh dicopy dan disebarkan untuk dakwah | Cantumkan www.muslimedianews.com
Copyright © 2013-2014. Muslimedia News - Media Islam | Voice of Muslim - All Rights Reserved
RSS | Sitemap | MMN dan Redaksi | Disclaimer | Contact | Iklan
Support IT : MK | JT | MT and IT Muslimedia News