BREAKING NEWS
latest

728x90

468x60

Monday, June 11, 2018

Mengenal Lafadz ‘Am dalam Al-Qur’an

 
Muslimedianws ~ Pada dasarnya dalam kaitan yang dibuat dalam ‘am ini adalah lafadz atau kata yang tertera dalam Al-Qur’an. Adapun arti dari ‘am menurut Bahasa adalah umum, merata, dan menyeluruh. Sedangkan jika menurut istilahi, maka akan ada pendapat menurut Abdul Hamid Hakim, mengenai ‘am[1] :
العَامُ هُوَ اللَّفْظُ الْمُسْتَغغْرِقُ لِجَمِيْعِ مَا يَصْلُحُ لَهُ بِحَسْبِ وَضْعٍ وَا حِدٍ دَفعَةً
‘Am adalah lafadz yang menenjukkan pengertian umum yang mencakup satuan-satuan (afrad) yang ada dalam lafadz itu tanpa pembatasan jumlah terntentu.”
Adapun pendapat dari ulama’ lain mengenai definisi ‘am, salah satunya adalah salah satunya adalah menurut Imam Al-Ghazali[2];
العَامُ هُوَ اللَّفْظُ الْوَاحِدُ الدَّالُ مِنْ جِهَةٍ وَاحِدَةٍ عَلَى شَيْئَيْنِ فَصَاعِدًا
" 'Am adalah suati lafadz yang menunjukkan dari arah yang sama kepada dua hal atau lebih."
Kemudian ada seorang tokoh yang mana ia juga menyimpulkan dari beberapa pendapat mengenai definisi dari ‘am, yakni Muhammad Adib Saleh. Beliau menyimpulkan bahwasanya[3] :
lafal ‘am (umum) ialah lafal yang diciptakan untuk pengertian umum sesuai dengan pengertian lafal itu sendiri tanpa dibatasi dengan jumlah tertentu.”
Dari beberapa pendapat para tokoh diatas, maka dapat dirumuskan bahwasanya lafadz ‘am[4] ;
1.      Hanya terdiri dari satu pengertian tunggal yang memiliki beberapa afrậd (satuan pengertian)
2.      Tunggal di sini dapat digunakan dalam satuan pengertian yang sama dalam penggunaannya.
3.      Apabila hukum yang berlaku itu untuk satu lafadz, maka hukum itu berlaku pula terhadap setiap afrậd yang tercakup dalam lafadz tersebut.
Adapun beberapa ketentuan atau syarat dalam penentuan lafadz ‘am, sehingga tidak semua lafadz bisa dikatakan sebagai ‘am, diantaranya :
1.      Lafadz  كل/setiap dan جميع/semua[5], misalnya:
QS. At-Thur ayat 21
وَالَّذِينَ آمَنُوا وَاتَّبَعَتْهُمْ ذُرِّيَّتُهُم بِإِيمَانٍ أَلْحَقْنَا بِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ وَمَا أَلَتْنَاهُم مِّنْ عَمَلِهِم مِّن شَيْءٍ كُلُّ امْرِئٍ بِمَا كَسَبَ رَهِينٌ
“Dan orang-orang yang beriman, dan yang anak cucu mereka mengikuti mereka dalam keimanan, Kami hubungkan anak cucu mereka dengan mereka , dan Kami tiada mengurangi sedikitpun dari pahala amal mereka. Tiap-tiap manusia terikat dengan apa yang dikerjakannya.” (QS, At-Thur:21)
            QS. Al-Baqarah ayat 29
....هُوَ الَّذِي خَلَقَ لَكُمْ مَا فِي الْأَرْضِ جَمِيعًا
“Dialah (Allah) yang menjadikan untukmu segala yang ada di bumi secara keseluruhan (jami’an)....” (QS. Al-Baqarah:29)
2.      Lafadz mufrad المفرد yang dima’rifahkan dengan ditambah الجنسية ال (“al” yang menunjukkan jenis)[6], misalnya dalam QS. Al-Ashr ayat 2;
إِنَّ الْإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ
“Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian.” (QS. Al-Ashr:2)
3.      Lafadz jama’ (الجمع) yang dima’rifahkan dengan الجنسية ال dan jama’yang dimakrifahkan dengan idhafah[7].
Contoh (jama’ yang dima’rifahkan):
وَالْمُطَلَّقَاتُ يَتَرَبَّصْنَ بِأَنْفُسِهِنَّ ثَلَاثَةَ قُرُوءٍۚ
Wanita-wanita yang ditalak handaklah menahan diri (menunggu) tiga kali quru'.” (QS. Al-Baqarah:228)

Contoh (jama’ yang dima’rifahkan dengan idhafah):

خُذْ مِنْ أَمْوَالِهِمْ صَدَقَةً تُطَهِّرُهُمْ وَتُزَكِّيهِمْ بِهَا وَصَلِّ عَلَيْهِمْ.... ۖ
Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka dan mendoalah untuk mereka.” (QS. At-Taubah:103)

4.      Isim Maushul (الأسماء الموصولة), yakni jika dalam suatu ayat tersebut didahului atau terdapat isim maushulnya, seperti: الذيالتي - الذيناللاّتي/اللاّئى 

Contoh dalam QS. An-Nisa’ ayat 10 :
إِنَّ الَّذِينَ يَأْكُلُونَ أَمْوَالَ الْيَتَامَىٰ ظُلْمًا إِنَّمَا يَأْكُلُونَ فِي بُطُونِهِمْ نَارًا ۖ وَسَيَصْلَوْنَ سَعِيرًا
“Sesungguhnya orang-orang yang memakan harta anak yatim secara zalim, sebenarnya mereka itu menelan api sepenuh perutnya dan mereka akan masuk ke dalam api yang menyala-nyala (neraka).” (QS.An-Nisa’:10)
5.      Isim Syarat: الشرط أسماء (kata benda untuk mensyaratkan)[8], Seperti: مَنْ (barang siapa) dan مَا (apa-apa).
Contoh dalam QS. An-Nisa’ ayat 92 :
....وَمَنْ قَتَلَ مُؤْمِنًا خَطَأً فَتَحْرِيرُ رَقَبَةٍ مُؤْمِنَةٍ وَدِيَةٌ مُسَلَّمَةٌ إِلَىٰ أَهْلِهِ إِلَّا أَنْ يَصَّدَّقُوا.... ۚ
“... dan barangsiapa membunuh seorang mukmin karena tersalah (hendaklah) ia memerdekakan seorang hamba sahaya yang beriman serta membayar diat yang diserahkan kepada keluarganya (si terbunuh itu), kecuali jika mereka (keluarga terbunuh) bersedekah.” (QS. An-Nisa’:92)

6.      Isim Nakirah ( النكرة اسم ) yang diawali oleh la nafii atau dinafikan, seperti lafadz la junaaha ( (لا جناحdalam QS. Al-Mumtahanah ayat 10.

... وَلَا جُنَاحَ عَلَيْكُمْ أَنْ تَنْكِحُوهُنَّ إِذَا آتَيْتُمُوهُنَّ أُجُورَهُنَّ.... ۚ
“... dan tidak ada dosa (la junaaha) atas kamu mengawini mereka apabila kamu bayar kepada mereka maharnya...” (QS. Al-Mumtahanah:10)
7.      Isim Istifham, seperti[9]: متىماأيّمَنأين

Dalam pembagiannya ‘am dikelompokkan pada tiga macam :
1.       Lafadz ‘am yang maksudnya umum, merupakan lafadz yang dari segi lafadz-nya dan artinya berarti umum. Secara definitif;[10]
هُوَ الْعَامُّ الَّذِى صَحُبَتْهُ قَرِيْنَةٌ تَنْفِى احْتِمَا لَهُ عَلَى التَّخْصِيْصِ
“Lafadz ‘am yang disertai qarinah yang menolak kemungkinan untuk ditakhsis.”

Misalnya dalam QS. Ali ‘Imran ayat 185 :
كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ....
“Setiap diri akan merasakan kematian.” (QS. Ali ‘Imran:185)
Lafadz كُلُّ نَفْسٍ jika dari segi arti memiliki makna yang memang tidak ada batasannya. Kemudian qarinah yang menyertai di sini adalah qarinah haliyah atau keyakinan yang dirasakan bersama. Dan lafadz ‘am di sini penunjukanya bersifat qath’i.
2.      Lafadz ‘am yang maksudnya adalah khusush. Maksudnya di sini adalah lafadz yang jika ditinjau dari sifat atau cirinya termasuk dalam ‘am, namun dari segi makna memiliki arti yang khusush. Secara definif;[11]

هُوَ العَامُّ الَّذِى صَحُبَتْهُ قَرِيْنَةٌ تَنْفِى بَقَا ئَهُ عَلَى عُمُوْمِهِ
“yaitu lafadz ‘am yang disertai qarinah yang meniadakan keumumannya.”
Misalnya dalam QS. Ali ‘Imran ayat 97.
وَلِلَّهِ عَلَى النَّاسِ حِجُّ الْبَيْتِ مَنِ اسْتَطَاعَ إِلَيْهِ سَبِيْلاً
“Kewajiban manusia terhadap Allah adalah menunaikan ibadah Haji ke Baitullah bagi orang yang berkuasa berjalan ke sana.” (QS. Ali ‘Imran:97)

Contoh lain terdapat pada QS. At-taubah ayat 120
مَا كَانَ لِأَهْلِ الْمَدِينَةِ وَمَنْ حَوْلَهُمْ مِنَ الْأَعْرَابِ أَنْ يَتَخَلَّفُوا عَنْ رَسُولِ اللَّهِ وَلَا يَرْغَبُوا بِأَنْفُسِهِمْ عَنْ نَفْسِهِ….
“Tidaklah sepatutnya bagi penduduk Madinah dan orang-orang Arab Baduwi yang berdiam di sekitar mereka, tidak turut menyertai Rasulullah (pergi berperang) dan tidak patut (pula) mereka mencintai diri mereka daripada mencintai diri Rasul.” (QS. At-taubah:120)

Lafadz النَّاسِ merupakan ‘am karena kata tunggal yang diawali dengan alif- lam jinsiyyah. Namun, yang menjadi fokus dari ayat ini adalah sebagian afrad-nya saja, yaitu orang mukallaf yang mempunyai kesanggupan.
3.      Lafadz ‘am yang dikhususkan. Maksudnya adalah lafadz ‘am kemungkinan mendapat takhsis. Secara definitif[12]:
  هُوَ العَامُّ الَّذِى لَمْ تُصَاحِبْهُ قَرِيْنَةٌ تَنْفِى احْتِمَالُهُ عَلَى التَّخْصِيْصِ وَلاَ قَرِيْنَةٌ تَنْفِى بَقَا ئَهُ عَلَى عُمُوْمِهِ
“Lafadz ‘am yang tidak disertai oleh qarinah yang meniadakan kemungkinan untuk ditakhsish, juga tidak disertai qarinah yang meniadakan lafadz itu tetap bersifat ‘am.”

Misalanya dalam hadits nabi, yang berbunyi :
مَنْ دَلَّ عَلَى خَيْرٍ كَفَا عِلِيْهِ
“Orang yang memberi petunjuk untuk berbuat baik sama dengan orang yang berbuat baik itu sendiri.”

Lafadz ( (منmerupakan isim istifham, sehingga menunjukkan lafadz ‘am. Namun, tidak ada qarinah yang menyebutkan apakah lafadz tersebut ‘am atau khusush. Sehingga ada kemungkinan lafadz tersebut bersifat khas atau bisa jadi ‘am.

Contoh lain dalam QS. Al-Baqarah ayat 228
وَالْمُطَلَّقَاتُ يَتَرَبَّصْنَ بِأَنْفُسِهِنَّ ثَلَاثَةَ قُرُوءٍ….
“Dan wanita-wanita yang ditalaq hendaklah menahan diri (menunggu) tiga kali quru.” (QS. Al-Baqarah:228)
Al-muthallaqat bersifat ‘am, namun lafadz tersebut masih terbebas dari penyebutan ‘am atau khas, karena menurut Muhammad Adib Shaleh selama belum ada dalil yang men­-takhsis­-kannya maka lafadz tersebut tetap bersifat ‘am.[13]

Penulis : M. Sochi Safi'ul AnamProfesi : Mahasiswa UIN MALANG


[1] Safiun Shidik, Ushul Fiqh, PT. Intimedia Ciptanusantara:Tangerang, 2009, hal. 83.
[2] Amir Syarifuddin, Ushul Fiqh Jilid 2, Kencana Prenadamedia Group:Jakarta, 2014, hal. 55
[3] Satria Effendi & M. Zein, Ushul Fiqh, Prenada Media:Jakarta, 2005, hal. 196
[4] Op,. Cit, Amir Syarifuddin, hal. 56
[5] Ibid,. Satria Effendi & M. Zein, hal. 196.
[6] Abdul Wahid, KAIDAH-KAIDAH PEMAHAMAN DAN PENGAMBILAN HUKUM AL-QUR’AN DAN AS-SUNNAH (Studi Tentang Lafazh ‘Am, Khash, Lafazh Muthlak dan Muqayyad), Jurnal Pendidikan dan Pranata Islam, Syaikhuna Edisi 10 Nomor 2, 2015, hal. 62
[7] Loc,. Cit, Abdul Wahid, hal. 62
[8] Op,. Cit, Satria Effendi & M. Zein, hal. 197.
[9] Op,. Cit, Safiun Shidik, hal. 85.
[10] Op,.Cit, Amir Syarifuddin, hal. 91.
[11] Op,.Cit, Amir Syarifuddin, hal. 92.
[12] Op,.Cit, Amir Syarifuddin, hal. 92.
[13] Op,. Cit, Satria Effendi & M. Zein, hal. 200.
« PREV
NEXT »

No comments