Top News :
Home » » Pendidikan di Indonesia Dalam Ranah Kehidupan Masyarakat

Pendidikan di Indonesia Dalam Ranah Kehidupan Masyarakat

Posted on Monday, 11 June 2018 | garis 14:30

Muslimedianews ~  Pendidikan di Indonesia sering menjadi sorotan di ranah kehidupan masyarakat. Salah satu gagasan mengenai sistem pendidikan membuat masyarakat meninjau mutu pendidikan di Indonesia. Peran pendidikan dalam membangun martabat dan peradapan manusia masih sebatas wacana karena dilihat dari sisi capaian dalam pendidikan masih jauh dari harapan semestinya. The Learning Curve Pearson 2014 sebuah lembaga pemeringkatan pendidikan dunia memaparkan bahwa Indonesia menempati peringkat terakhir dalam mutu pendidikan di dunia yaitu pada peringkat 40 dari 40 negara (Widodo, 2015: 9). Hal tersebut disebabkan oleh beberapa faktor penyebab rendahnya mutu pendidikan di Indonesia, yaitu : Pertama, rendahnya kualitas pendidik. Kedua, kurangnya sarana dan prasarana pembelajaran (media dan alat peraga). Ketiga, kurangnya motivasi siswa dalam belajar. Keempat, dampak buruk dari alat elektronik (televisi, play station, gadget, dll).
Dari keempat faktor tersebut terfokus pada rendahnya kualitas pendidik dan kurangnya sarana prasarana dalam pembelajaran. Hal tersebut menjadikan merosotnya mutu pendidikan yang menyebabkan tidak terwujudnya tujuan pendidikan. Dimana seorang pendidik tidak mampu berkreasi dan berinovasi dalam pembelajaran khususnya dalam pembawaan materi menggunakan benda yang dapat dimanipulasikan, dilihat, didengar, dibaca atau dibicarakan yang dipergunakan dengan baik dalam kegiatan belajar mengajar (alat peraga/media). Di zaman Rasulullah SAW, Rasul (pendidik) dalam pembelajarannya menggunakan berbagai media baik itu dengan benda konkrit (mimbar, krikil, gambar, jari), permisalan, kisah teladan, dll. Dari pengajaran tersebut menjadikan para Sahabat sebagai objek pendidikan memahami maksud dan tujuan Rasul dengan jelas. Berbeda dengan pengaktualisasian di zaman millenial ini, para pendidik (guru) tidak lagi terfokus pada media dalam penyampaian materi pembelajaran pada siswa, sehingga menimbulkan efek kebosanan, kemalasan, ketidaktertarikan untuk belajar dan memori tersebut tidak tersimpan jangka panjang dalam ingatan peserta didik.
Dari problema tersebut terdapat beberapa teori (hadis) pendukung transformasi pendidikan dewasa ini. Rasulullah SAW banyak memberikan contoh penerapan media atau alat perga dalam proses pembelajaran, yaitu antara lain: Pertama, mengenai penerapan mimbar sebagai media.
عَنْ أَبِي حَازِمِ بْنِ دِيْنَارٍ أَنَّرِجَالاً أَتَوْا سَهْلَ بْنَ سَعْدٍ السَّاعِدِيَّ وَقَدْ امْتَرَوْا فِي المِنْبَرِ مِمَّ عُودُهُ فَسأَلُوهُ عَنْ ذَلِكَ فَقَالَ وَالّله إِنِّي لأَعْرِفُ مِمَّا هُوَ وَلَقَدْ رَأَيْتُهُ اَوَّلَ يَوْمٍ وُضِعَ وَأَوَّلَ يَوْمٍ جَلَسَ عَلَيْهِ رَسُوْلُ اللّه صَلَّى اللّه عَلَيْهِ وَسَلَّم اَرْسَلَ عَلَيْهِ رَسُوْلُ اللّه صَلَّى اللّه عَلَيْهِ وَسَلَّم إِلَى فُلاَنَةَ امْرَأَةٍ مِنْ الأَنْصاَرِ قَدْ سَمَّاهاَ سَهْلٌ مُرِي غُلاَمَكِ النَّجَّارَ أَنْ يَعْمَلَ ليِ أَعْوَادًا أَجْلِسُ عَلَيْهِنَّ إِذَا كَلَّمْتُ النَّاسَ فَأَمَرَتْهُ فَعَمِلَهَا مِنْ طَرْفَاءِ الغَابَةِ ثُمَّ جَاءَ بِهَا فَأَرْسَلَتْ إِلَى رَسُوْلُ اللّه صَلَّى اللّه عَلَيْهِ وَسَلَّم فَأَمَرَ بِهَا فَوُضِعَتْ هَا هُنَا ثُمَّ رَأَيْتُ إِلَى رَسُوْلُ اللّه صَلَّى اللّه عَلَيْهِ وَسَلَّم صَلَّى عَلَيْهَا وَكَبَّرَ وَهُوَ عَلَيْهَا ثُمَّ رَكَعَ وَهُوَ عَلَيْهَا ثُمَّ نَزَلَ القَهْقَرَى فَسَجَدَ فِي أَصْلِ المِنْبَرِ ثُمَّ عَادَ فَلَمَّا فَرَغَ أَقْبَلَ عَلَى النَّاسِ فَقَالَ أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّمَا صَنَعْتُ هَذَا لِتَأْتَمُّوْا وَلِتَعَلَّمُوْا صَلاَتِي(أخرجه البخاري ومسلم)
Terjemah Hadis : Dari Abu Hazim r.a ada beberapa orang datang menemui Sahal bin Sa’ad r.a memperdebatkan mimbar Rasulullah SAW dari kayu apa dibuatnya? Mereka bertanya Sahal tentang hal tersebut. Sahal berkata:”Demi Allah sungguh saya mengetahui dari kayu apakah mimbar itu dibuat? Saya melihat hari pertama mimbar itu diletakkan dan aku juga melihat hari pertama Rasulullah SAWduduk diatasnya. Rasulullah SAW mengutus seseorang untuk menemui seorang perempuan dari sahabat Anshar yang disebutkan namanya oleh Sahal, perintahlah budakmu tukang kayu itu agar membuatkan aku mimbar dari kayu yang akan aku pakai duduk diatasnya untuk berbicara dihadapan manusia. Wanita itu perintah kepadanya dan dikerjakan tugas itu dengan mengambil kayu yang lurus dari hutan kemudian ia datang membawanya. Mimbar itu dikirim oleh wanita itu kepada Rasulullah SAW kemudian beliau perintah ditempatkan disini. Kemudian aku melihat Rasul SAW shalat, bertakbir diatas mimbar itu dan rukuk diatasnya. Kemudian Beliau turun mundur bersujud dibawah mimbar kemudian kembali lagi. Ketika selesai shalat Beliau menghadap manusia dan bersabda: “Wahai manusia, sesungguhnya aku melakukan ini agar kalian mengikuti aku dan mempelajari shalatku.” HR. Bukhari dan Muslim  (Khon, 2015: 356)
Kedua, Hadis penerapan gambar sebagai media.
عَنْ عَبْدِاللّه رَضِي اللّه عَنْهُ قَالَ: خَطَّ النَّبِيُّ صَلَّى اللّه عَلَيْهِ وَسَلَّم خَطَّا مُرَبَّعًا، وَ خَطَّ خَطًّا فِي الوَسَطِ خَارِجًا مِنْهُ، وَ خَطَّ خُطَطًا صِغَارًا إِلَى هَذَا الَّذِي فِي الوَسَطِ مِنْ جَانِبِهِ الّذِي فِي الوَسَطِ، وَقَالَ: هَذَا الإِنْسَانُ وَهَذَا اَجَلُهُ مُحِيْطٌ بِهِ، اَوْ قَدْ اَحَاطَ بِهِ وَهَذَا الَّذِي هُوَ خَارِجٌ وَهَذِهِ الخُطَطُ الصِغَارُ الأَعْرَاضُ، فَإِنْ أَخْطَأُهُ هَذَا نَهَشَهُ هَذَا، وَإِنْ أَخْطَأُهُ هَذَا نَهَشَهُ هَذَا (اخرخه البخار في كتاب الرقاق)
Terjemahan hadis : “Dari Abdillah r.a berkata:bahwa Nabi SAW membuat garis persegi empat, dan membuat garis tengah yang ditarik keluar dari garis persegi empat, dan Nabi SAW membuat garis-garis kecil yang ditengahnya dari arah samping yang berada ditengah, dan Nabi SAW bersabda, ini adalah manusia dan ini ajalnya yang mengelilingi dan garis yang diluarnya adalah angan-anagannya, dan garis-garis kecil ini adalah rintangannya. Apabila melewati ini, maka ia akan mendapatkan ini, dan apabila melewati ini, maka akan mendapatkan ini” (dikeluarkan oleh Imam Muhammad bin Ismail al-Bukhari dalam kitab al-Riqaq).  (Nikmah, 2015: 6)
Dengan pelaksanaan pembelajaran yang efektif tersebut maka akan tercapainya tujuan pendidikan sesuai dengan SISDIKNAS no 20 tahun 2003, yang bertujuan untuk mengembangakan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berilmu, berakhlak mulia, dan bertanggung jawab. Tujuan tersebut dikuatkan dengan hadis berikut,
H:\Untitled.png
Terjemahan hadis : Dari Ibnu Abbas ra. Ia berkata Rasul SAW bersabda “ Barangsiapa yang dikehendaki Allah menjadi baik, maka dia akan dipahami dalam hal agama. Dan sesungguhnya ilmu itu diperoleh melalui belajar” (HR. Bukhori). (Akmala, 2018: 8)
Transformasi pendidikan di Indonesia merupakan sebuah sistem untuk membangun kembali ruh pendidikan agar sesuai dengan tujuan pendidikan. Sebagaimana pendidikan di abad ke 21 yang merupakan pendidikan yang berbasis pada penguasaan pengetahuan, keterampilan, serta pembentukan karakter yang unggul. Oleh karena itu transformasi pendidikan perlu ditekankan kembali. Hal tersebut mencakup kebijakan pendidikan, pengembangan potensi guru, teknologi, riset dan evaluasi. Bagi pendidik teori (hadis) tersebut harus dijadikan pegangan dalam proses pembelajaran terutama dalam penyampaian materi pembelajaran. (Widodo, 2015: 9)
Solusi yang tepat menuju transformasi tersebut adalah dengan memberbaiki kualitas pendidik yang paling utama, sehingga pendidik tersebut mampu mentransferkan ilmu dengan baik kepada peserta didik. Selain itu dengan pengaplikasian sarana dan prasarana (alat peraga) oleh pendidik kepada peserta didik dalam pembelajaran menggunakan prinsip PAKEM (pembelajaran aktif, kreatif, efektif, dan menyenangkan). Sehingga dapat diperoleh hasil pembelajaran yang memuaskan baik oleh pendidik ataupun peserta didik dan dapat meningkatkan kemerosotan mutu pendidikan.
Dapat diambil kesimpulan bahwa kualitas pendidikan di Indonesia masih rendah. Sedangkan majunya pendidikan suatu bangsa tergantung di tangan seorang pendidik, apabila pendidik tersebut kompeten dalam penyampaian materi pembelajaran maka mutu pendidikan tersebut sesuai dengan tujuan pendidikan. Sebaliknya apabila pendidik tersebut kurang bahkan tidak kompeten dalam hal tersebut maka mengakibatkan kemerosotan mutu pendidikan.
Di zaman yang semakin maju ini kita dituntut untuk selalu belajar dari sejarah terutama sejarah islam. Dimana Rasul (pemimpin umat islam) selalu memberikan teladan yang baik bagi umatnya. Beliau telah mengajarkan dan memberi contoh kepada para sahabat (khalifah) bagaimana cara menjadi pendidik yang baik. Misalnya dalam penyampaian dakwah islam, Rasul sealalu menggunakan media sebagai perantara untuk memudahkan pemahaman para sahabat, karena di masa itu ajaran islam masih sangat awam. Keteladanan tersebut seharusnya masih tetap dilestarikan hingga dewasa ini, karena dengan ajaran yang demikian tidak akan pernah menambah problema di masa sekarang dan masa yang akan datang, terutama di bidang Pendidikan.
Transformasi pendidikan diperlukan agar pendidikan mampu menghasilkan sumber daya manusia yang handal dan tangguh. Dimana pendidikan dan tenaga pendidik harus ditingkatkan kualitasnya sebagai pendidik diiringi dengan memberi kesejahteraan bagi pendidik yang dilakukan secara profesional.
Penulis : Wus'atul Muna (Mahasiswi)

Share this post
:
Comments
0 Comments

Post a Comment

 
Konten boleh dicopy dan disebarkan untuk dakwah | Cantumkan www.muslimedianews.com
Copyright © 2013-2014. Muslimedia News - Media Islam | Voice of Muslim - All Rights Reserved
RSS | Sitemap | MMN dan Redaksi | Disclaimer | Contact | Iklan
Support IT : MK | JT | MT and IT Muslimedia News