BREAKING NEWS
latest

728x90

468x60

Tuesday, July 03, 2018

Alur Berpikir Gus Yahya soal Lawatannya ke Israel

Muslimedianews.com ~ Pertengahan Juni yang lalu sempat juga heboh pemberitaan tentang kunjungan KH Yahya C Staquf ke Israel. Seperti diketahui, kunjungan tersebut untuk memenuhi undangan American Jewish Committe ( AJC). Yahya C Staquf diminta menjadi nara sumber pada sebuah diskusi yang diselenggarakan oleh Komite itu.

Yahya C Staquf adalah anggota Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres). Di kepengurusan Besar Nahdlatul Ulama, putra ulama kharismatik KH Cholil Bisri ini menduduki jabatan penting yakni Khatib Am (Sekretaris Umum) Syuriah. Rois Am PB NU adalah KH Ma' ruf Amin.

Inti kehebohan pemberitaan tentang kehadirannya di Jerusalem pada 10 Juni 2018 itu sekurang-kurangnya menyangkut 3 hal yakni, 1) Sebagai anggota Wantimpres dan juga pengurus teras pada PB NU tidak layak ia berkunjung ke Israel, sebuah negara yang tidak punya hubungan diplomatik dengan Indonesia, 2) Kunjungan dan kesediaannya menjadi nara sumber pada forum Yahudi - Amerika itu melukai perasan rakyat Palestina yang terus dibantai oleh pasukan Israel, dan 3) Kunjungan dimaksud tidak sejalan dengan sikap Pemerintah RI yang menentang perlakuan Israel terhadap rakyat dan bangsa Palestina.

Berkaitan dengan berbagai kecaman yang demikianlah maka merupakan kesempatan berharga ketika Khatib Am Syuriah NU itu berkenan bincang-bincang dengan saya di sela-sela acara Silaturrahmi dan Halalbihalal Pengurus Besar NU dengan Pengurus Wilayah NU Se-Indonesia yang diselenggarakan di sebuah hotel di Bandar Lampung, Senin 2 Juli 2018.

KH Yahya C Staquf mengawali penjelasannya bahwa konflik Israel-Palestina sudah lama sekali berlangsung. Berbagai upaya perdamaian juga sudah diinisiasi berbagai negara termasuk oleh Amerika Serikat. Oleh karena beberapa upaya perdamaian yang dilaksanakan melalui jalur formal itu tidak memberikan hasil yang optimal maka pada masyarakat Yahudi pun sudah mulai muncul keinginan untuk mencari solusi lewat jalur jalur informal.

Dalam konteks yang demikianlah maka komite Yahudi - Amerika itu mengundang Yahya C Staquf ke Jerusalem. Menurut Yahya, peserta forum diskusi di mana ia menjadi nara sumber menjadi sangat memahami bagaimana pandangan Islam dalam hal ini NU berkaitan dengan hubungan Islam dan Yahudi. Yahya menjelaskan ada perbedaan antara sikap anti Israel dengan sikap memusuhi Yahudi.

Kita, ujar Staquf bukan memusuhi rakyat Israel karena mereka beragama Yahudi tetapi yang kita tentang itu adalah perlakuan Israel sebagai negara terhadap Palestina sebagai bangsa dan juga sebagai sebuah negara. Kesadaran untuk tidak memusuhi orang lain karena agama yang dianutnya menurut Yahya adalah sebuah esensi ajaran Islam.

Berkaitan dengan hal tersebut maka kehadirannya ke Yerussalem justru menemui, menyampaikan gagasan, dan bertukar pikiran dengan komunitas Yahudi yang juga tidak mengambil sikap bermusuhan dengan orang lain karena perbedaan agamanya. Yahya meyakini dengan dialog-dialog damai yang demikian akan muncul kesadaran bersama termasuk di masyarakat Yahudi bahwa konflik Israel-Palestina itu harus diakhiri.

Dalam pemahaman yang demikianlah Yahya meyakini kunjungannya ke Israel itu akan memberi manfaat untuk meredakan konflik antara kedua bangsa itu. Yahya menjelaskan bahwa upayanya membangun dialog-dialog yang demikian telah lama dilakukannya terutama semenjak mengikuti kegiatan Gus Dur beberapa waktu yang lalu.

Dengan perbincangan singkat bersama Khatib Am Syuriah NU itu saya pun menjadi paham tentang alur pikirnya dan dengan alur pikir yang demikianlah ia melangkah ke Yerusalem pada pertengahan Juni yang lalu. Semua orang tentu bisa punya pandangan yang sama atau berbeda tentang kunjungan tersebut, tapi rasanya apa yang dikemukakan oleh tokoh NU itu layak jugalah untuk kita dengar.

Salam Perdamaian!

Penulis : Afifuddin lubis
Kompasiana
« PREV
NEXT »

No comments