BREAKING NEWS
latest

728x90

468x60

Tuesday, July 03, 2018

Posisi Islam Nusantara Terhadap Syi'ah, Liberal dan Kejawen

Muslimedianews.com ~ (4) POSISI ISLAM NUSANTARA DI ANTARA PEMAHAMAN LAINNYA, SEPERTI SHI’AH, LIBERAL, DAN KEJAWEN.
Islam Nusantara lahir dari rahim NU. Organisasi ini menahbiskan diri sebagai penggagas, sekaligus sebagai pengawal gagasan Islam Nusantara. Hal ini melahirkan suatu keniscayaan, Islam Nusantara terikat oleh Qanun Asasi, AD-ART, Fikrah Nahdliyyah, dan prinsip-prinsip Ahlussunnah Wal-Jama’ah. Agar Islam Nusantara tidak bermasalah secara organisasi, maka produk pikiran dan gagasan ini tidak boleh melanggar prinsip-prinsip tersebut.
Oleh karena itu, menurut kelompok pro, Islam Nusantara berada dalam posisi yang tidak tekstualis, tetapi juga tidak liberal. Ke depan, NU harus terus-menerus memperkuat ajaran Ahlussunnah Wal Jama’ah. Kepemimpinan dan kepengurusan Nahdlatul Ulama wajib, tidak bisa tidak, diperkuat dengan dasar-dasar keulamaan yang mencerminkan karakter Ahlussunnah Wal Jama’ah. Tentu saja, dasar keulamaan ini diperkuat pula dengan kesiapan NU menghadapi perkembangan zaman yang terus berubah.
Bagi pihak pro, NU dan Islam Nusantara memiliki prinsip, ajaran akidah dan akhlak/tasawuf sifatnya universal dan statis, tidak mengalami perubahan di manapun dan kapanpun. Namun ajaran shari’at, harus dipilah antara yang thawabith/qath’iyyat dan ijtihadiyyat. Hukum-hukum ijtihadiyyat itu bersifat dinamis, berpotensi untuk berubah seiring dengan kemaslahatan yang mengisi ruang, waktu, dan kondisi tertentu.
Kelompok pro menegaskan, secara normatif, ajaran Islam di mana pun sama. Hanya saja pada sebagian praktik metodologi dakwahnya berbeda. Juru dakwah berikhtiar untuk membuat kebijakan yang diyakini paling maslahat untuk daerah dakwah. Jadi, Islam Nusantara itu untuk kemaslahatan. Itu salah satu penyebab kenapa tampilan budaya Islam Indonesia itu – ingat, bukan tampilan shalatnya - terkadang sedikit berbeda dengan tampilan Islam di Afghanistan, dan lainnya. Karena sifat dan watak kondisi Indonesia yang sangat heteregonitas seperti itu.
Apabila terdapat indikasi Islam Nusantara dimanfaatkan untuk liberalisasi agama, maka Wakil Ketua Tanfidziyah PWNU dan Direktur Aswaja NU Center Jatim KH. Abdurrahman Navis berpendapat, harus dijelaskan bedanya Islam Nusantara yang dipahami oleh NU dengan koridor Qanun Asasi dan Fikrah Nahdliyah-nya, dengan versi kelompok liberal. Alasannya, kelompok liberal tidak menggunakan istinbath al-hukm seperti yang diterapkan oleh NU. Demikian pula hubungan antara Islam Nusantara dengan Shi‘ah dan Kejawen. Islam Nusantara tetap memiliki koridor Aswaja. Hanya saja penyikapan terhadap mereka adalah pendekatan dakwah Nusantara.
Islam Nusantara secara normatif tetap bersumber pada al-Qur’an, hadith, dan ijtihad ulama Ahlussunnah Wal-Jama’ah, baik berupa produk hukum dan fatwa dari nalar muslim Nusantara berupa hasil Bahtsul Masail, Tarjih, Majlis Hisbah dan lainnya.
Rais Aam PBNU KH. Dr (HC) Ma’ruf Amin juga menegaskan, Islam Nusantara berada dalam posisi yang tidak tekstualis, tetapi juga tidak liberal. NU berbeda dengan liberal, karena organisasi ini memiliki prinsip dan manhaj moderat (tawassuthy), dinamis (tathawwury), dan metodologis (manhajy). Melalui prinsip-prinsip itu, tidak mungkin Islam Nusantara dimasuki paham liberal. Apabila terdapat liberalis yang mengklaim atau memberikan tafsir sendiri tentang Islam Nusantara, sebut KH. Ma’ruf Amin, maka itu bukan tafsir NU.
Berdasarkan perpaduan antara pendapat kelompok kontra sebagai tesis, dipadukan dengan esensi Islam Nusantara menurut kelompok kontra sebagai antitesis, Islam Nusantara sejatinya bukanlah usaha liberalisasi agama. Islam Nusantara juga bukan pengakomodasian aliran Kejawen dan tradisi tidak baik atau ‘urf bathil di Nusantara, atau penyamaan NU dengan Shi’ah, dengan dalih memiliki tradisi yang sama.
Melihat aktifitas beberapa orang yang pada satu dua kegiatan dan pernyataan memakai kata Islam Nusantara, pihak kontra menyampaikan, Visi misi Islam Nusantara sama persis dengan visi-misi liberal, sehingga dagangan pemikirannya pun serupa. Bahkan disebut, Islam Nusantara merupakan metamorfosis dari seluruh gerakan liberal di Indonesia. Sedangkan terkait hubungan antara Islam Nusantara dan Shi’ah, Habib Rizieq misalnya menyatakan, “Ada perselingkuhan Shi’ah dan liberal. Sederetan tokoh Shi’ah rame-rame mati-matian membela Islam Nusantara.”
Masih menurut pihak kontra, Islam Nusantara hadir di saat kaum liberal dan para pembajak akidah beranggapan bahwa Islam yang sekarang dianggap gersang, terkekang, ke-Arab-araban, anti seni, anti budaya, anti kemajuan sekaligus anti emansipasi wanita. Oleh karena itu, setelah melihat fakta, realita, statemen, sikap dan perilaku para tokoh nasional yang representatif mewakili Islam Nusantara, KH. Muhammad Najih Maimoen mengambil kesimpulan yang menurutnya akurat tentang apa dan bagaimana wajah Islam Nusantara yang mereka usung.
Secara mendasar, apabila kaedah Islam Nusantara mengartikan agama secara tidak tekstual diterima secara general, maka berarti Islam Nusantara bukan Ahlussunnah Wal-Jama’ah lagi. Akan tetapi, bagi pihak kontra, adakalanya Islam Nusantara itu bagian dari liberal atau bagian dari aliran kebatinan.
Secara substansial, terdapat titik temu antara pendapat pro dan kontra bahwa Islam Nusantara bukan liberal, Shi’ah, atau Kejawen. Menurut KH. Abdurrahman Navis dari pihak pro misalnya, Islam Nusantara adalah metode dakwah untuk menyikapi kelompok-kelompok tersebut, dengan pendekatan dakwah ala Nusantara.
Namun, tidak adanya konsepsi yang utuh tentang Islam Nusantara, ditambah dengan merebaknya aspek-aspek artifisial yang mengelilingi Islam Nusantara, gagasan ini lantas diartikan sebagai gerbong liberalisasi agama, pengakomodasian terhadap Shi’ah, Kejawen, dan sebagainya.
Hal ini juga tampak pada hasil survei yang dipaparkan sebelumnya. Meskipun mayoritas warga NU tidak setuju sama sekali kelompok Shi‘ah, Liberal, Kejawen, termasuk kekayaan khazanah Islam Nusantara (yaitu 52 persen di daerah survei pertama dan 81 persen di daerah kedua), namun masih terdapat warga NU yang menyatakan setuju semua kelompok Shi‘ah, Liberal, Kejawen, termasuk kekayaan khazanah Islam Nusantara (yaitu 8 persen di masing-masing daerah survei).
Dalam tataran filsafat ilmu, fakta ini meniscayakan keharusan dijelaskannya epistemologi tentang Islam Nusantara. Epistemologi tersebut berisi teori pengetahuan membahas bagaimana kita memperoleh pengetahuan. Dengan kata lain, epistemologi sebagai teori pengetahuan membahas tentang bagaimana mendapat pengetahuan, bagaimana kita bisa tahu dan dapat membedakan dengan yang lain. Dalam konsep mabadi’ ‘ashrah, epistemologi ini dibahas dalam poin sumber kajian (al-istimdad) serta hubungan dengan ilmu dan istilah lain (al-nisbah).
Sumber Pengambilan (al-Istimdad) Kajian Islam Nusantara
Manusia-manusia Nusantara adalah aktor dan sekaligus kreator disiplin kajian Islam Nusantara. Kajian tersebut berangkat dari kepekaan batin, kepedulian sosial dan ketajaman intelektual muslim Nusantara akan melahirkan ilmu pengetahuan, budaya dan peradaban yang berbasis dari sosial-Nusantara. Namun secara normatif kajian ini tetap bersumber pada Al-Qur’an, Hadith, dan ijtihad ulama Ahlussunnah Wal-Jama‘ah, baik berupa produk hukum dan fatwa dari nalar muslim Nusantara berupa hasil bahtsul masail, tarjih, majlis hisbah dan lainnya.
Di samping itu fenomena sosial dan gejala-gejala alam di bumi Nusantara juga merupakan sumber empirik kajian ini. Budaya dan peradaban yang termanifestasi di dalam seni, tradisi dan adat istiadat manusia-manusia Nusantara merupakan bagian yang terpenting dan tidak bisa dinegasikan dalam diskursus ini.
Perbandingan dan Hubungannya Dengan Ilmu/Istilah Lain (al-Nisbah)
Kemunculan istilah Islam Nusantara dengan pengertian dan karakteristiknya tersebut di atas, tidak menafikan metode dakwah lain, selagi tidak bertentangan dengan prinsip-prinsip Ahlussunnah Wal-Jama‘ah yang tawassuth, tawazun, i’tidal, dan tasamuh. Demikian pula, istilah Islam Nusantara tidak menafikan keberadaan Islam di negara atau wilayah lain.
Perbedaan antara Islam Nusantara sebagai metodologi dakwah dengan metode yang dikembangkan di wilayah lain, baik di Afrika, Eropa, atau di wilayah Arab adalah ikhtilaf tanawwu’ (perbedaan yang tidak saling menafikan), bukan ikhtilaf tad}ad} (perbedaan yang saling menafikan), karena tiap daerah memiliki karakteristiknya sendiri.
Sebagai ikhtilaf tanawwu’, keberadaan Islam Nusantara memperkaya khazanah dan metode dakwah keislaman sesuai dengan karakter wilayah ini, serta tidak menafikan universalitas (shumuliyah) Islam. Bahkan kehadiran Islam Nusantara memperkaya kajian akademik dan akan melahirkan spesialisasi-spesialisasi keilmuan yang berwatak Nusantara terutama ilmu-ilmu sosial seperti ilmu sejarah, sosiologi, antropologi, filologi, histeriografi, pendidikan, ekonomi, politik, hukum dan ilmu sosial maupun alam lainnya.

(dikutip dari buku Kontroversi Islam Nusantara: Menjernihkan Polemik dalam Bingkai Mabadi Asyrah, oleh Faris Khoirul Anam, 2016)
« PREV
NEXT »

No comments