BREAKING NEWS
latest

728x90

468x60

Wednesday, August 15, 2018

Mutual Benefit KH. Ma'ruf Amin

Muslimedianews.com ~ Pak Jokowi telah memilih KH Ma’ruf Amin sebagai Calon Wakil Presiden (Cawapres) yang mendampinginya. Pilihan terhadap Kiai Ma’ruf telah mengagetkan banyak orang. Keberanian untuk menggandeng Kiai Ma’ruf Amin sontak telah memunculkan banyak spekulasi terhadap arah politik Presiden Jokowi dalam lima tahun mendatang.

Memilih Kiai Ma’ruf sebagai Cawapres bagi Presiden Jokowi sebenarnya bukan sesuatu yang pelik. Jokowi telah menunjukkan kecenderungannya secara bertahap. Ia mempublikasikannya sejak lama. Mula-mula ia mengenalkan diri dengan cara mengenakan sarung di beberapa kesempatan santainya. Kemudian ia putuskan tanggal 22 Oktober sebagai Hari Santri. Lalu meresmikan Tugu Titik Nol Islam Nusantara. Berikutnya menginisiasi Majelis Zikir Hubbul Wathan.

Kiai Ma’ruf bagi Presiden Jokowi adalah–meminjam pendapat Fraenkel, 1977)–simbol nilai yang identik dengan ide, konsep tentang sesuatu yang penting dalam kehidupan. Inilah disain Pemerintahan yang ia orientasikan untuk Indonesia.

Selama empat tahun terakhir, Presiden Jokowi lekat dengan nilai ‘kerja kerja kerja’. Kehadiran Kiai Ma’ruf menguatkan bobot spiritualitas terhadap nilai ‘kerja kerja kerja’ sebab Kiai Ma’ruf merupakan sosok yang menganggap penting suatu nilai dimana perilaku hidupnya selama ini dipengaruhi oleh nilai.

Duet Presiden Jokowi dan Kiai Ma’ruf setidaknya tampaknya ingin menunjukkan bahwa nilai itu penting bagi seorang pemimpin dan pada akhirnya nilai berfungsi sebagai kriteria untuk mengevaluasi perilaku kepemimpinannya sekaligus masyarakat yang ia pimpin.

Duet Presiden Jokowi-Kiai Ma’ruf yang telah menempatkan nilai sebagai faktor penting sangat memungkinkan untuk mendapatkan keuntungan atau mutual benefid (Putnam, 1995). Saya menyebut hal ini sebagai imbal balik sosial yang didapatkannya atas kepemilikan nilai yang dirasakan masyarakat.

Seberapa besar peluang duet Presiden Jokowi-Kiai Ma’ruf memenangkan Pilpres? Peluangnya bergantung imbal balik sosial yang bersifat fluktuatif. Sebab nilai itu hakikatnya tingkat di mana suatu perilaku didukung atau dihukum (Johnson, 1990). Yang pasti Pak Jokowi telah semakin menguatkan nilai pada visi kepemimpinannya dan secara faktual telah disaksikan oleh pemilih muslim mayoritas di Indonesia.

Oleh Muhammad Sulton Fatoni (Dosen Sosiologi di unusia.ac.id)
Lumajang, 10 Agustus 2018
« PREV
NEXT »

No comments