BREAKING NEWS
latest

728x90

468x60

Tuesday, February 26, 2019

Kabar Munas NU 2019: Riwayat Pendiri Pesantren Miftahul Huda Banjar


Usai sarapan, kami bertiga dengan Mas Ulil dan Mas Imdad melanjutkan jalan-jalan ke arena Munas-Konbes. Sementara Mas Rum dan Mas Idris pualng duluan ke penginapan.
Di kiri-kanan jalan masuk arena Munas tampak kesibukan para pedagang menyiapkan lapaknya, ditingkahi sebagian lain yg masih merapikan lokasi stand bazar. Sementara di beberapa sudut, nampak para Banser dan Pesilat Pagar Nusa sudah berjaga-jaga dengan seragam kebanggaannya.
Di jalanan nampak beberapa kali sepasukan forijder polisi bolak balik dengan raungan sirine dan kecepatan tinggi. Sepertinya mereka sedang latihan pengamanan RI1 untuk acara pembukaan besok.
Kami langsung masuk ke kompleks pesantren, menuju rumah kediaman Kyai Marsyudi Syuhud, salah seorang ketua PBNU, yg juga menantu di Pesantren Miftahul Huda Al-Azhar ini. Kami melewati panggung utama pembukaan yg sudah rapi tertata, barisan pamjang MCK yg disiapkan untuk para tamu, mobil salah stasiun TV yg sedang bersiap meliput acara, dan komplek makam pendiri Pesantren.
Di rumah Kyai Marsyudi kami disambut hangat, dengan berbagai jajanan dan kopi hangat. Cerita pun mengalir panjang lebar dari tuan rumah tentang sejarah panjang Pesantren ini.
Pesantren Miftahul Huda Al-Azhar ini didirikan oleh Kyai Marzuqi, salah satu anggota keluarga Pesantren Sumolangu Kebumen. Sebagaimana mana Sumolangu, darah pejuang juga mengalir dalam diri keluarga Pesantren Citangkolo ini. Mereka dulu rata-rata tergabung dalam AOI (Angkatan Oemat Islam), barisan pejuang kyai dan santri yg didirikan oleh kyai Sumolangu atas perintah Hadhratus Syaikh Muhammad Hasyim Asy'ari.
Pesantren ini, dulu berkali-kali dibakar Belanda yg marah karena sering diserbu gerilyawan AOI. Beberapa keluar pesantren juga ada yg ditangkap Belanda dibawa ke penjara Ambarawa dan tak jelas lagi di mana rimbanya hingga saat ini.
Ikut andil dalam perjuangan mendirikan dan mempertahankan NKRI membuat masyarakat Sumolangu dan Citangkolo memiliki kebanggaan tersendiri. Harga dirinya sangat tinggi, diiringi ketaatan dan keramahan ala santri. Rasa bangga dan harga diri sebagai bagian dari pendiri republik ini pernah menimbulkan salah paham dengan pemerintah pusat, yg kemudian menganggap Pesantren Sumolangu dan jaringannya sebagai pemberontak dan ditumpas.
Karena Operasi militer atas Pesantren Sumolangu itu pula banyak keluarga Pesantren dan santri-santri senior yg melarikan diri dan berlindung jauh dari kampung asal mereka. Citangkolo adalah daerah terdekat yg dijadikan persembunyian. Sebagian lain ada yg hijrah ke pedalaman hutan di Jember, Riau, kota-kota di Kalimantan, bahkan di Malaysia. Sebagian dari mereka lalu menetap, berdakwah dan mendirikan pesantren di tempat persembunyian.
Di masa orde baru, keluarga Pesantren Sumolangu dan Citangkolo juga kerap dicurigai akan menjegal dominasi politik pemerintah. Sehingga beberapa keluarga Kyai ditangkap dan diinterogasi serta disiksa, sebelum ditahan. Meski terus ditekan, jiwa pejuang tidak pernah surut di dada keluarga Pesantren. Baru setelah reformasi dan orde baru runtuh, masyarakat Citangkolo dan Sumolangu merasa benar terlepas dari kecurigaan dan intimidasi penguasa. Kini keluarga Pesantren dan masyarakat bisa sepenuhnya berjuang untuk NU dan bangsa yg dicintainya jauuh sejak jaman Penjajahan.
Setelah panjang lebar ngobrol, kembali Kyai Marsyudi memaksa kami untuk sarapan di rumahnya. Ki ini menemani seorang habib dari Cimahi. Apalah daya rejeki pamali ditolak..
Sayang pertemuan hangat pagi itu harus berakhir, karena Mas Imdad sudah dijemput panitia untuk mengisi acara Ngaji Plastik bersama Lembaga Penanggulangan Bencana dan Perubahan Iklim (LPBI) PBNU. Saya dan Mas Ulil pun kembali ke penginapan. Di penginapan rombongan Tim Program Peduli Lakpesdam baru saja tiba : Nurun Nisa'Muawanah dan Vicky.. sementara Ufi Ulfiah menyusul dan lainnya menyusul siang ini.
oleh Iftah - PP Lakpesdam PBNU
« PREV
NEXT »

No comments