BREAKING NEWS
latest

728x90

468x60

Tuesday, February 26, 2019

Liputan Khusus Munas Konbes NU 2019 di Kota Banjar (1)


Memasuki arena Munas di Citangkolo ini menarik. Sepanjang jalan sejak keluar dari stasiun sudah sangat bernuansa Munas.. ratusan, mungkin ribuan, bendera NU berkibar di pinggir jalan. Terlebih ketika memasuki desa Citangkolo, di mana PP Miftahul Huda Al-Azhar yg menjadi lokasi acara berdiri. Berbagai perlengkapan arena Munas dan Konbes sudah dan sedang terus disiapkan: arena Bazar pasar rakyat, bazar ilmiah, penginapan peserta Munas dan panitia, serta berbagai pernik acara lainnya.
Puluhan pedagang aksesoris dan makanan sudah berjajar di sepanjang jalan menuju lokasi. Yg unik, selain atribut NU yg mendominasi, ada juga satu pedagang yg jualan peci dan syal bertuliskan nama ormas yg selama ini sering berseberangan sama NU. Tapi itulah hebatnya NU, pedagang ini pun tidak diusik, dibiarkan mencari nafkah sebebas-bebasnya. Saya gak kebayang, kalo yg terjadi sebaliknya.. hahaha.
Untuk bermalam, panitia menyediakan dua macam tempat menginap. Ruang-ruang kelas yg sudah disulap jadi kamar menginap, rumah-rumah penduduk yg ditawarkan kepada Pesantren untuk jadi tempat transit para tamu, dan rumah disewakan kepada para tamu. Biasanya Lembaga-lembaga PBNU memilih di rumah-rumah penduduk karena sekalian bisa rapat koordinasi internal dgn nyaman.
Kami, dari Lakpesdam, memilih yg kedua.. bermalam di rumah penduduk.. juga dengan alasan sama: ingin lebih privat dan pengin dapat suasana kampungnya yg masih asri.
Menurut Sohibul Hajat, Kyai Marsyudi Syuhud, ada 50 warga yg menawarkan rumahnya untuk jadi tempat istirahat para tamu. Dari jumlah itu, lalu panitia memilih sekitar 30an untuk jadi penginapan.
Dan, beginilah di kampungnya warga Nahdliyyin, selain menyediakan kamar, seperti arahan panitia, penduduk juga memuliakan kami dengan suguhan kampung yg berlimpah ruah. Ingin hurmat dan ngalap berkah-nya NU, kata mereka.
Maka, malam ini, sambil ngobrol ngalor ngidul yg padat dan bermanfaat di teras rumah, kami : Saya, Mas Ulil Abshar, Mas Rumadi Ahmad dan Mas Idris Masudi juga menikmati banyak hal lain : keramahtamahan yg tulus dari tuan rumah, udara yg segar, suara puji-pujian anak-anak dari Toa mushalla yg agak cempreng serta nyanyian jangkrik dan kodok (emaknya cebong) yg melengking nyaring... Betul-betul nikmat...
Itupun masih belum memuaskan tuan rumah, jam 22.30.. saat kami sudah hampir terlelap, Tuan Rumah tergopoh-gopoh menata nasi panas, Ayam dikecapin, oreg-oreg tempe dan telur dadar di ruang tengah.. lalu satu persatu kami dibangunin.. "Pak. pak.. makan dululah... Mbok lapar tidurnya.."
Ketika kami menolak halus karena sudah pada ngantuk, si bapak tidak putus asa.. "Makan dululah, biar kami gak sia-sia masaknya.. biar berkah rumah kami..."
Kalo sudah begini, siapa coba yg kuat menolak ketulusan hati mereka. Sambil saling pandang dan sesekali terkikik, kami pun makan... "Hayoolah dimaem, dgn niat idkhalus surur shahibul bait..."
sumber: fb Iftah Pengurus PP Lakpesdam PBNU
« PREV
NEXT »

No comments