BREAKING NEWS
latest

728x90

468x60

Monday, February 03, 2020

Obituari Gus Sholah: Kembali Ke Pesantren



Oleh: Amin Mudzakir
Saya tidak berkesempatan berkenalan secara langsung dengan Gus Sholah, tetapi satu hal selalu menarik perhatian saya lebih dari hal yang lainnya: mengapa beliau kembali ke pesantren? Sebagai seorang yang telah malang melintang di dunia profesional, juga politik, di Jakarta, keputusan untuk mempimpin Tebuireng pasti merupakan sesuatu yang besar. Lepas dari kenyataan bahwa beliau adalah putra KH Wahid Hasyim, yang berarti adalah cucu KH Hasyim Asyari, keputusan Gus Sholah untuk kembali ke pesantren adalah sebuah inspirasi bagi saya.
Bagaimanapun, saya bisa memahami dilema yang dihadapi oleh Gus Sholah. Besar dan tumbuh di Jakarta, lalu kuliah arsitektur di ITB, Gus Sholah pasti terpapar oleh pikiran modern yang melihat pesantren, awalnya, sebagai sesuatu yang berasal dari masa lalu. Sejujurnya saya pernah meyakini pikiran ini. Sewaktu SMA, saya pikir masa kini dan masa depan adalah sekolah umum, universitas umum, ilmu-ilmu umum. Pokoknya masa kini dan masa depan bukan agama, kampus agama, apalagi pesantren. Tentu saja pesantren tetap penting, tetapi ia hanya dipahami sebagai benteng moral, tidak lebih tidak kurang.
Perkiraan saya terkonfirmasi oleh catatan Binhad Nurrohmat. Menurutnya, Gus Sholah pernah bilang bahwa "Sebelum di Tebuireng saya mengira pesantren adalah masa silam. Setelah berkecimpung di Tebuireng, saya paham ternyata pesantren adalah masa depan". Pernyataan ini pas betul dengan apa yang selama ini saya rasakan. Kita tahu sejak 2006 Gus Sholah memimpin Tebuireng, sebuah pesantren terpenting di negeri ini.
Pernyataan Gus Sholah mengenai pesantren sesungguhnya merupakan refleksi dari zaman yang berubah. Hingga akhir tahun 1980-an, seluruh teori sosial meramalkan dunia akan semakin modern. Tidak hanya modern, dunia juga akan semakin sekuler. Modernisasi dan sekularisasi dianggap seiring sejalan. Di dunia yang modern dan sekuler, pesantren terlihat pinggiran. Sebagai pembaca teori sosial yang terlalu dini, hingga awal tahun 2000-an sewaktu kuliah di UGM saya cukup percaya teori ini.
Akan tetapi, dunia berjalan menuju arah yang berbeda dengan ramalan teori sosial tersebut. Sejak akhir abad ke-20, dunia semakin religius. Antusiasme pada keimanan justru melonjak tajam di tengah masyarakat modern. Modernisasi dan sekularisasi tidak selalu seiring sejalan. Pada situasi inilah, saya kira, posisi pesantren berubah. Alih-alih pinggiran, secara perlahan tetapi pasti pesantren bergerak menjadi pusat perhatian. Ketika masyarakat modern khawatir dengan kemerosotan moral, pesantren adalah alternatif pilihan kemana para orang tua mengirim anaknya untuk belajar.
Dalam perkembangannya, ternyata pesantren lebih dari sekadar benteng moral. Adaptasi yang baik dari sejumlah pengurusnya membuat pesantren menjadi sangat kompetitif. Lulusannya mampu bersaing di pasaran kerja yang keras. Selain itu, sudah lama pesantren melahirkan para pemikir yang cemerlang. Terlebih lagi setelah demokrasi pasca-Soeharto berjalan, pesantren adalah juga pusat kegiatan politik. Sekarang siapa yang tidak berkunjung ke pesantren ketika mau maju dalam pilkada atau pilpres. Semuanya berbondong-bondong menunjukkan sikap seolah-olah mereka bagian dari pesantren.
Tentu saja Gus Sholah lebih dari itu. Berdasarkan informasi sejumlah rekan, beliau merombak sistem manajemen pesantren di Tebuireng menjadi lebih baik. Ini sangat menggembirakan karena, menurut saya, aspek manajerial ini masih merupakan problematik pesantren yang paling besar.
Setelah ini saya sangat ingin melihat gus-gus yang lain kembali ke pesantren. Tidak harus dalam pengertian fisik, tetapi bisa dalam bentuk yang lain. Sebab Gus Sholah benar, pesantren adalah masa depan. Melalui pesantren lah gagasan kemajuan masyarakat bisa diimplementasikan.
Selamat jalan, Gus Sholah. Keputusan panjenengan untuk kembali ke pesantren adalah sebuah inspirasi bagi saya. Panjenengan husnul khatimah. Insya Allah. Alfatihah ...
NEXT »

No comments